9. Pasar Rakyat Cibeureum: 206 Tempat Usaha, Pedagangnya Sisa Dua
Pasar Rakyat Cibeureum atau Pasar Awipari memiliki 78 kios dan 128 los. Pasar ini diresmikan pada Agustus 2022.
Setahun setelah diresmikan, pedagang yang bertahan dilaporkan tidak sampai lima orang. Pada Januari 2026, jumlahnya tinggal dua orang.
Dua ratus enam ruang usaha berhadapan dengan dua pedagang. Angka ini tidak membutuhkan bumbu. Terlalu kalau pemerintah tidak merasa malu.
10. Regenerasi Payung Geulis: 25 Peserta, Nol Perajin
Jumlah usaha Payung Geulis tercatat stagnan sebanyak tujuh unit pada 2013–2018. Pemerintah kemudian mengadakan pelatihan yang diikuti 25 peserta dengan harapan melahirkan generasi baru.
Hasilnya, penelitian menemukan tidak seorang pun dari 25 peserta itu kemudian menjadi perajin Payung Geulis. Kampung wisata yang direncanakan juga belum terwujud sepenuhnya.
Dua puluh lima orang dilatih. Nol orang menjadi perajin. Pelatihannya selesai, regenerasinya tidak pernah dimulai. Tebak, kalau dinas terkait kira-kira jawabannya apa? Yang paling mungkin, menyalahkan pengrajinnya. Mereka bakal merasa sudah melaksanakan tugasnya.
11. Pasar Purbaratu: Mati dan Mati Lagi
Pasar Purbaratu selesai dibangun sekitar 2020, tetapi tidak beroperasi selama kurang lebih empat tahun.
Pada Juli 2024, pasar itu dicoba dihidupkan kembali dengan pedagang yang jumlahnya kurang dari 20 orang. Tapi pada Februari 2026, kondisinya kembali dilaporkan sepi.
Masalahnya bukan sekadar terlambat dibuka. Pemerintah berhasil membangun gedung pasar, tetapi gagal membangun ekosistem yang membuat pedagang dan pembeli bertahan. Uniknya, fakta-fakta seperti ini seperti tidak pernah jadi pelajaran. Saat bicara perencanaan dan berjuang anggaran, mereka lantang. Ketika faktanya gagal, langsung menghilang.
12. Poliklinik RSUD dr. Soekardjo: Rp13 Miliar Menjadi Kerangka Beton
Pembangunan Gedung Poliklinik RSUD dr. Soekardjo dimulai pada 2021. Sekitar Rp13 miliar telah digunakan dalam pembangunan tahap awal.
Gedung itu seharusnya beroperasi pada 2024. Namun, sampai Februari 2026 bangunannya belum selesai. Selama bertahun-tahun, pasien rawat jalan harus dilayani di ruangan sementara.
Di rumah sakit, waktu dapat menentukan keselamatan. Tetapi untuk gedung poliklinik ini, waktu seolah hanya angka di kalender proyek. Mungkin besok lusa, bangunan beton mangkrak ini bakal jadi ikon baru Kota Tasikmalaya.
13. RSUD dr. Soekardjo: Rumah Sakit yang Ikut Sakit
Pada 2022, RSUD dr. Soekardjo dilaporkan memiliki utang kepada pihak ketiga sekitar Rp15 miliar dan kesulitan membeli obat. Pada saat yang sama terdapat piutang kepada Pemkot sekitar Rp15 miliar dan kepada Pemkab Tasikmalaya sekitar Rp5 miliar.
Pada 2025, tenaga medis kembali mengeluhkan kekosongan obat, alat kesehatan yang rusak atau tidak memadai, ruangan kurang representatif, utang kepada distributor, penurunan kunjungan pasien, dan merosotnya pendapatan.
Rumah sakit ini tidak hanya merawat orang sakit. Selama bertahun-tahun, ia juga dipaksa merawat luka keuangannya sendiri dan terancam bangkrut. Miris!







