lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026, mengingatkan kembali bahwa persatuan bangsa Indonesia tidak lahir begitu saja. Jauh sebelum republik berdiri, masyarakat telah belajar berkumpul, berorganisasi, menyatukan gagasan, dan bergerak bersama melampaui kepentingan pribadi maupun kelompok.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Ciamis, Dr. R. Yadi Tisyadi, S.E., M.Si., melihat jejak panjang itulah yang membuat organisasi kemasyarakatan memiliki tempat penting dalam perjalanan Indonesia. Ormas bukan sekadar nama yang tercatat dalam administrasi pemerintah. Di dalamnya hidup salah satu tradisi tua bangsa ini: belajar berbeda, berkumpul, berdialog, lalu menemukan kepentingan bersama.
Dari Organisasi, Bangsa Belajar Bersatu
Sejarah Kebangkitan Nasional memberi gambaran bagaimana organisasi menjadi ruang penting tumbuhnya kesadaran kolektif. Budi Utomo yang lahir pada 20 Mei 1908 dikenang sebagai organisasi modern yang menjadi tonggak pergerakan kebangsaan. Perkembangan itu kemudian dilanjutkan oleh berbagai organisasi dengan latar sosial, pendidikan, keagamaan, ekonomi, dan politik yang semakin memperluas kesadaran sebagai satu bangsa.
Pelajaran terbesarnya bukan soal siapa organisasi yang paling dahulu berdiri, melainkan kenyataan bahwa bangsa ini belajar membangun kebersamaan melalui organisasi.
“Sebelum Indonesia menjadi negara seperti sekarang, masyarakat kita sudah belajar berorganisasi. Di sanalah orang belajar bertemu, menyampaikan gagasan, berbeda pendapat, lalu mencari kepentingan yang lebih besar. Karena itu saya melihat organisasi memang ikut mengajarkan bangsa ini arti persatuan,” ujar Yadi.
Menurutnya, semangat tersebut tetap relevan hingga hari ini. Indonesia sekarang tentu sangat berbeda dengan Indonesia pada masa pergerakan. Namun kebutuhan untuk menjaga komunikasi, merawat perbedaan, dan membangun kerja bersama tidak pernah hilang.
Justru dalam masyarakat yang semakin beragam, keberadaan organisasi dapat menjadi kekuatan besar apabila energi yang dimilikinya diarahkan kepada kepentingan masyarakat.
“Kita boleh berbeda organisasi, berbeda latar belakang, berbeda cara pandang. Tetapi ketika sudah berbicara tentang kepentingan masyarakat, tentang Ciamis, tentang bangsa dan negara, kita harus mampu menemukan titik temu,” katanya.
Itulah, menurut Yadi, salah satu makna penting Pancasila sebagai pemersatu. Pancasila tidak menghapus perbedaan. Sebaliknya, ia menyediakan rumah bersama agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan.
Tema resmi Hari Kesaktian Pancasila 2026 sendiri adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.” Peringatan tersebut jatuh setiap 1 Oktober.
443 Ormas, Kekuatan Besar untuk Ciamis
Semangat itu bukan sekadar wacana bagi Kabupaten Ciamis.
Pada 28 September 2026, hanya beberapa hari menjelang Hari Kesaktian Pancasila, Bakesbangpol Kabupaten Ciamis mempertemukan sekitar 100 perwakilan organisasi kemasyarakatan dalam Sarasehan Organisasi Kemasyarakatan di Baregbeg. Data terbaru Kesbangpol menyebut sekitar 443 ormas tercatat di Kabupaten Ciamis.
Jumlah tersebut, menurut Yadi, merupakan modal sosial yang sangat besar.
Bayangkan jika ratusan organisasi dengan bidang, jaringan, anggota, dan kemampuan berbeda bergerak pada arah yang sama. Ada yang bergerak dalam sosial kemasyarakatan, lingkungan, keagamaan, kepemudaan, budaya, pendidikan, hingga berbagai kepentingan masyarakat lainnya.
Kekuatan itu tidak harus diseragamkan. Yang diperlukan adalah komunikasi dan kesediaan untuk saling menemukan ruang kolaborasi.
“Empat ratus lebih organisasi itu bukan angka kecil. Kalau seluruh potensi ini bisa berkomunikasi dengan baik, kemudian masing-masing mengambil bagian sesuai kemampuan dan bidangnya, kekuatannya luar biasa untuk membantu masyarakat dan pembangunan Ciamis,” kata Yadi.
Itulah alasan Kesbangpol terus membuka ruang komunikasi dengan organisasi kemasyarakatan. Bahkan setelah sarasehan 28 September, Yadi menggagas pertemuan berikutnya bisa dikemas lebih cair dan kekeluargaan, termasuk melalui kegiatan luar ruangan, agar komunikasi antara pemerintah dan organisasi tidak terjebak dalam suasana formal. Gagasan tersebut disampaikannya seusai sarasehan di Baregbeg.
Hubungan pemerintah dan ormas idealnya bukan hubungan yang hanya muncul ketika ada persoalan. Pemerintah perlu mendengar aspirasi organisasi, sementara organisasi juga memiliki ruang untuk menawarkan kerja nyata bagi masyarakat dalam rangka mengaktualisasikan program kegiatan organisasi sesuai ad/art.
Persatuan kemudian menemukan bentuk yang paling sederhana: bekerja bersama.
Ormas tidak harus melakukan sesuatu yang besar untuk menunjukkan kontribusinya. Gerakan menjaga lingkungan, membantu kelompok masyarakat yang membutuhkan, kegiatan sosial, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, hingga merawat kerukunan semuanya merupakan bentuk konkret bagaimana organisasi memberi arti bagi masyarakat.
“Pancasila akan jauh lebih kuat ketika ia hadir dalam tindakan. Gotong royong, kepedulian, menghargai perbedaan dan bekerja bersama untuk masyarakat, itulah nilai yang harus kita hidupkan. Kalau organisasi-organisasi di Ciamis mampu menjaga semangat itu, saya yakin ormas akan menjadi salah satu kekuatan besar dalam menjaga persatuan sekaligus membangun Tatar Galuh kabupaten Ciamis ,” pungkas Yadi. (NS/AS)







