lintaspriangan.com, KONTEN PREMIUM. Bayangkan Koperasi Desa Merah Putih di sebuah desa membukukan keuntungan bersih Rp300 juta. Warga mungkin mengira Rp60 juta otomatis masuk ke kas desa. Angkanya memang tampak sederhana: 20 persen dikalikan Rp300 juta. Namun, sebelum uang itu menjadi jalan desa, beasiswa, layanan kesehatan, atau modal pemberdayaan, ada pertanyaan yang jauh lebih menentukan: siapa yang memastikan laba Rp300 juta tersebut dihitung dengan benar?
Sebab, omzet besar tidak selalu menghasilkan laba besar. Keuntungan dapat menyusut karena biaya barang, honor pengurus, bunga, penyusutan aset, biaya operasional, pajak, hingga transaksi dengan pihak terafiliasi. Sebagian pengeluaran memang wajar. Sebagian lainnya dapat menjadi tempat paling nyaman untuk “mengecilkan” laba—angka terlihat rapi, tetapi desa menerima jauh lebih sedikit.