Sepeda Kantor dan Cermin Keadilan Hari Ini

lintaspriangan.com, HUMANIORA. Ruang itu awalnya terasa biasa saja.

Riyani—bukan nama sebenarnya—tersenyum seperti biasa. Senyum yang rapi, presisi, dan tahu kapan harus muncul. Di hadapannya, Tuan Takur, salah satu wakil rakyat di Kota Santika. Percakapan mereka ringan. Ada tawa kecil yang terdengar wajar. Tidak ada yang terasa janggal.

Sampai kemudian, di waktu yang berbeda, suasana itu berubah.

Mang Adul berdiri di hadapan meja yang sama. Tanpa seragam, dengan wajah yang tak sepenuhnya bisa menyembunyikan lelah. Kali ini, tidak ada senyum.

“Saya faham situasi Mang Adul mungkin mendesak. Tapi kenapa tidak bilang saja ke saya? Kenapa berani menjual barang yang bukan hak?”

Sepeda kantor.

Kondisinya masih bagus. Hanya saja, sudah cukup lama tidak ada yang memakainya. Mungkin karena itu, Mang Adul nekat menjualnya.

Keputusan yang sederhana, tapi berujung panjang.

Salah? Ya.

Tidak ada yang sulit untuk menyimpulkan itu. Bahkan, mungkin tidak ada satu pun di dunia ini yang merasa perlu mempertanyakan lagi.

Riyani mengulang kalimatnya, kali ini lebih berkelas:
“Saya paling tidak bisa terima cara seperti ini. Siap-siap saja kalau saya ambil keputusan yang tidak kamu harapkan.”

Dan seketika, seisi kantor itu langsung sepakat.

Mang Adul bersalah.


Di titik itu, semuanya terasa jelas.

Bahkan terlalu jelas, mungkin.

Karena ada satu hal yang jarang kita lakukan ketika melihat kesalahan seperti ini: berhenti sebentar, lalu bertanya.

Bukan untuk membenarkan.

Hanya untuk memahami.

Bagaimana jika benar ia tidak punya pilihan lain?

Bagaimana rasanya berada di posisi di mana satu-satunya keputusan yang tersedia tetap terasa salah, tapi tetap harus diambil?

Kita mungkin tidak tahu jawabannya. Dan mungkin juga tidak perlu tahu secara detail. Tapi ada jarak yang sering kita lompati begitu saja—jarak antara “ia bersalah” dan “apa yang membuatnya sampai di sana.”

Tulisan ini bukan untuk membela Mang Adul. Ia tetap melanggar. Aturan tetap ada untuk dijaga.

Namun tidak semua kesalahan lahir dari tempat yang sama.

Ada yang lahir dari kelonggaran.
Ada yang lahir dari kebiasaan.
Ada yang lahir dari rasa aman bahwa apa pun yang dilakukan, akan tetap bisa dijelaskan.

Dan ada yang lahir dari keterdesakan.


Di ruang yang sama, pada waktu yang lain, ada percakapan yang berjalan lebih tenang.

Tentang anggaran. Tentang pembagian. Tentang sesuatu yang sering disebut dengan istilah yang lebih halus: bagi-bagi rezeki.

Sebuah bahasa yang membuat sesuatu yang seharusnya terasa berat, menjadi terdengar biasa.

Di sana, tidak ada suara meninggi.

Tidak ada wajah memerah.

Tidak ada ancaman yang diulang-ulang.

Padahal, jika ditimbang, yang dipertaruhkan jauh lebih besar daripada sebuah sepeda.

Di sinilah perbandingan itu diam-diam terasa janggal.

Mang Adul berada dalam kemungkinan terdesak, lalu mengambil keputusan yang salah.
Riyani tidak berada dalam kondisi darurat, tidak terancam oleh apa pun, tapi tetap memiliki ruang untuk melakukan kekeliruan yang jauh lebih luas.

Namun yang satu cepat sekali menjadi pusat kesalahan.
Yang lain, nyaris tidak pernah benar-benar disebut sebagai masalah.


Mungkin, ini bukan semata soal hukum.

Melainkan tentang bagaimana kita melihat manusia di baliknya.

Bahwa kita sering begitu tegas kepada kesalahan yang terlihat kecil—terutama ketika dilakukan oleh mereka yang tidak punya posisi.

Dan di saat yang sama, kita bisa begitu longgar terhadap kesalahan yang jauh lebih besar—selama dilakukan oleh mereka yang terbiasa berada di atas.

Ini bukan pembelaan.

Ini hanya pengingat sederhana: bahwa merasa benar sering kali lebih mudah ketika kita tidak sedang berada dalam posisi sulit.

Bahwa suara moral yang paling keras kadang lahir dari jarak—bukan dari pemahaman.

Dan mungkin, sebelum kita menunjuk terlalu cepat, ada satu pertanyaan yang layak kita simpan lebih lama:

Jika berada di tempat yang sama, dengan tekanan yang sama, apakah kita akan benar-benar memilih jalan yang berbeda?


Karena keadilan, pada akhirnya, bukan hanya tentang siapa yang salah.

Tapi juga tentang seberapa jauh kita bersedia memahami, sebelum memutuskan. (AS)

PRIANGAN TIMUR

Sambutan Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya Akui Sempat Ingin Mundur

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Sambutan Bupati Ciamis Herdiat Sunarya saat...

Berhenti Saat Sambutan, Bupati Herdiat Tegur Bawahannya Gara-Gara Ini

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Momen tak biasa terjadi saat Bupati...

BPKPD Banjar Akui Dana Khusus Rp5,38 Miliar Dipakai Tidak Sesuai Peruntukan

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah atau...

Sebanyak 98 Titik dan 27.825 Warga Terdampak Krisis Air Bersih Tasikmalaya

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Krisis air bersih mulai meluas di...

5 Berita Positif Kabupaten Ciamis Sepanjang Juli 2026

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Di tengah tekanan fiskal dan sejumlah persoalan yang...

JAWA BARAT

9 Indikasi Korupsi Kabupaten Karawang Paling Telanjang, Belum Ada yang Digelandang?

lintaspriangan.com, BERITA KARAWANG. Barang tidak pernah dikirim, tetapi dana BOS tetap...

Pemprov Setop Tambang Kapur, Bagaimana Nasib 95 Industri Pengolahan?

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Hingga Rabu (29/7/2026), penghentian sementara produksi dan...

Tiga Bulan Warga Bogor Jadi Sandera di Somalia, Siapa Bertanggung Jawab?

lintaspriangan.com, BERITA BOGOR. Komisi I DPR RI pada Rabu (29/7/2026)...

Pilkades Sumedang Tak Sepenuhnya Digital, 337 TPS Tetap Manual

lintaspriangan.com, BERITA SUMEDANG. Pilkades Sumedang 2026 mulai memasuki babak digital....

32 Angkot Listrik Bandara Husein Masih Tunggu Lampu Hijau

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Sebanyak 32 angkot listrik Bandara Husein disiapkan...

Job Fair Bandung Barat: Ada Lowongan Kerja Dalam dan Luar Negeri

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG.  Job Fair Bandung Barat digelar di Aula...

Sekolah Nasional Terintegrasi, Apa Bedanya dari Sekolah Biasa?

Kabupaten Cianjur menjadi salah satu daerah yang mulai menjalankan...

Nyuhun Buhun Tiba di Ujung Genteng Sukabumi Hari Ini

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Semangat pelestarian tradisi Sunda bertajuk nyuhun buhun...

Olahraga

Popular Categories