Pesan dari Warga untuk Wali Kota Viman

lintaspriangan.com, OPINI. Kota tidak dibangun oleh niat baik semata. Ia tumbuh dari keputusan, keberanian, dan kejelasan arah. Dalam konteks itulah, pesan ini saya tujukan pada Viman Alfarizi Ramadhan, Wali Kota Tasikmalayaโ€”sosok muda yang santun, dan lahir dari keluarga bisnis besar yang akrab dengan disiplin, tata kelola, dan kalkulasi risiko.

Modal awal Viman Alfarizi Ramadhan sejatinya kuat. Ia hadir dengan citra bersih, bahasa tertib, dan gestur yang menenangkan. Namun politik kontemporer tidak lagi berhenti pada citra. Ia bergerak cepat ke wilayah yang lebih menuntut: konsistensi antara narasi dan realitas.


Ketika Publik Mengalami Voters Fatigue

Dalam kajian komunikasi politik, dikenal istilah voters fatigueโ€”kelelahan pemilih akibat paparan berlebihan terhadap pesan politik yang repetitif, visual, dan minim substansi. Fenomena ini paralel dengan attention fatigue: semakin sering disuguhi citra, semakin sulit publik untuk percaya.

Pada fase ini, publik tidak lagi mudah terpesona oleh narasi yang rapi atau estetika yang menenangkan. Politik yang โ€œindah di layar, tetapi hampa di lapanganโ€ justru memicu sikap kritis. Loyalitas berubah menjadi evaluasi berkepanjangan.

Inilah konteks besar yang perlu dibaca oleh Wali Kota Viman. Bukan sebagai kritik personal, melainkan sebagai perubahan lanskap psikologis pemilih.


Dari Relatable ke Reliable

Perubahan lain yang tak kalah penting adalah voters shiftingโ€”pergeseran preferensi pemilih, khususnya generasi muda. Jika sebelumnya pemilih mencari figur yang relatable (terasa dekat, santai, dan komunikatif, mudah selfie dengan warga), kini mereka lebih condong pada figur yang reliable (bisa diandalkan, tegas, dan solutif).

Fenomena ini menjelaskan mengapa figur seperti Dedi Mulyadi kerap dianggap โ€œhadirโ€ oleh publik. Bukan semata karena popularitas, melainkan karena ia mempraktikkan apa yang disebut problem-solving politicsโ€”politik yang menampilkan penyelesaian langsung, bahkan ketika caranya tidak selalu rapi secara prosedural.

Maka lahirlah ekspresi spontan warga: โ€œKang Dedi yeuh, Kang Dediโ€ฆโ€
Sebuah bentuk kepercayaan yang berdasarkan pada keandalan.


Persona Over Performance: Titik Rawan Kepemimpinan Muda

Dalam literatur branding politik, juga populer istilah persona over performanceโ€”kondisi ketika citra personal seorang pemimpin lebih menonjol dibandingkan kinerja kebijakannya. Persona memang penting, tetapi hanya berfungsi sebagai penguat, bukan pengganti performa.

Konten komunikasi Wali Kota Viman sejauh ini tertib, normatif, dan aman. Tidak ada yang keliru. Namun di era transparansi digital, persona tanpa eksekusi cepat dibaca sebagai kehati-hatian berlebih, bahkan keraguan.

Politik hari ini tidak menghukum ketidaksopanan. Ia justru menghukum ketidaksinkronan antara citra dan tindakan.


Ketika Pencitraan Kehilangan Daya Beda

Masuk ke istilah berikutnya: brand commoditization. Ketika semua politisi memiliki akun media sosial, tim digital, dan konten estetik, maka pencitraan tidak lagi menjadi diferensiasi. Semua tampak peduli. Semua terlihat dekat. Semua politisi saat ini sudah bisa menunjukkan bahwa mereka istimewa, setidaknya melalui media sosial. Dan ketika semua istimewa, berarti sebenarnya tak ada yang istimewa.

Dalam situasi seperti ini, nilai paling langka dalam politik bukan lagi popularitas, melainkan kepercayaan (trust). Dan kepercayaan hanya lahir dari keputusan yang berdampak langsung, bukan dari narasi yang terus diperhalus.


Kepemimpinan Mudah di Tengah Tarikan Faksi

Sebagai pemimpin muda, Viman wajar berada dalam fase learning curve. Tantangan terbesarnya bukan pada kapasitas, melainkan pada tarikan faksi-faksi di sekitar kekuasaan. Situasi Wali Kota Viman hari ini memang tak bisa dibilang mudah. Ada lingkaran keluarga yang harus tetap mendapat hormat, ada juga kerabat dan teman semasa kecil yang sangat rapat, belum lagi alumni tim sukses yang pasti tak rela jika harus berjarak. Itu baru di luar pemerintahan.

Saat memasuki balai kota, beliau juga harus berhadapan dengan fakta, ada barisan senior yang masih ingin superior, ada kelompok yang masih saja semangat mengumandangkan yel-yel saat opspek, belum lagi serpihan loyalitas yang tercecer seusai bertarung di panggung pilkada, bahkan para kompetitornya pun masih saja ada yang berusaha tampil di atas panggung.

Tapi Pak Viman, terlalu lama menimbang keseimbangan elite sering kali juga membuat kepemimpinan terlihat tanpa wajah. Dalam istilah governance, ini disebut decision paralysisโ€”bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak pertimbangan non-publik.


Dari Performative Politics ke Substantive Politics

Opini ini tidak dimaksudkan sebagai vonis, melainkan sebagai pengingat strategis. Politik pencitraan sedang memasuki senja. Publik bergerak dari performative politics (politik pertunjukan) menuju substantive politicsโ€”politik yang diukur dari kinerja, kejelasan visi, dan keberanian mengambil keputusan.

Untuk Wali Kota Viman, inti pesan dari saya sederhana, ini saya sampaikan sebagai warga yang mencintai Bapak sebagai wali kota:

Kesantunan adalah modal awal, bukan tujuan akhir.
Narasi penting, tetapi eksekusi jauh lebih menentukan.
Kehati-hatian perlu, namun keberanian publik tak bisa ditunda.

Lima tahun itu tidak lama. Sementara kompetitor Bapak, dari tahun pertama sudah mulai kasak-kusuk untuk pilkada selanjutnya.

Karena pada akhirnya, kota tidak menilai pemimpinnya dari seberapa rapi ia berbicara,
melainkan dari seberapa tegas ia hadir ketika warganya membutuhkan.


Penulis adalah warga Kota Tasikmalaya, bekerja sebagai Redaktur di Lintas Priangan.

PRIANGAN TIMUR

PANDAWA TASIK: Sebuah Ikhtiar Menjaga Pelajar

lintaspriangan.com,ย BERITA TASIKMALAYA. Anak tidak serta-merta terjerumus ke dalam persoalan...

Tragedi Maut Berulang di Bendung Manganti Ciamis, Pengamanan Dipertanyakan

lintaspriangan.com,ย BERITA CIAMIS. Tragedi maut kembali terjadi di Bendung Manganti...

Rakerda PAN Ciamis Tak Hanya Bahas Pemilu 2029, Soroti juga Kursi Wakil Bupati

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Di tengah masih kosongnya jabatan Wakil...

Kemenhaj Kota Banjar: Ketenangan Ibadah Dimulai dari Perjalanan Legal

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Perjalanan umrah tidak cukup hanya dimulai...

Ramai di Grup Tasikmalaya, Benarkah Ban Gundul Didenda Rp250 Ribu?

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Informasi mengenai ban gundul yang disebut...

JAWA BARAT

Bupati Sukabumi Tinjau Kebakaran Ciptamulya, Ini Langkah Cepat yang Disiapkan Pemerintah Daerah.

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Asap memang mulai menghilang dari Kampung...

Tergiur Sayembara KDM, Ojol di Bandung Salah Tangkap Begal

lintaspriangan.com,ย BERITA BANDUNG. berhadiah hingga Rp50 juta diduga memicu sejumlah...

Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya Sukabumi, 70 Rumah Rata dengan Tanah

lintaspriangan.com,ย BERITAย SUKABUMI. Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya terjadi di Desa Sirnaresmi, Kecamatan...

Videotron Maut Majalengka Sudah Goyang 32 Jam, Penanganan Lambat?

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA.ย Tragedi Videotron Maut Majalengka di Bundaran Cigasong...

Berani Lumpuhkan Begal? Dedi Mulyadi Siapkan Sayembara Begal Jabar Hadiah hingga Rp50 Juta

lintaspriangan.com, BERITA JABAR. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengumumkan...

Klinik Berobat Unik di Cianjur, Pasien Tetap Dilayani Meski Tak Punya Uang

lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR. Di tengah biaya pelayanan kesehatan yang...

Come See Mie Fest 2026 Bandung Hadirkan Barasuara hingga J-Rocks

lintaspriangan.com,ย BERITA BANDUNG. Come See Mie Fest 2026 memasuki hari...

Waspada, Prakiraan Angin Kencang di Jawa Barat Mulai Hari Ini

lintaspriangan.com,ย BERITA JABAR.ย Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memasukkan Jawa...
spot_img

Olahraga

Popular Categories

spot_imgspot_img