lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi wajah paling terkenal Kabupaten Pangandaran, sebuah pesantren di pedalaman Langkaplancar pernah memikul tugas yang jauh lebih berat daripada mengajarkan kitab. Ketika kemerdekaan Indonesia terancam direbut kembali, tempat mengaji itu berubah menjadi ruang konsolidasi, pusat pelatihan, sekaligus markas laskar.
Kitab-kitab tetap dibuka dan doa tetap dipanjatkan. Namun, di Pesantren Cicau—nama awal Pesantren Al-Hamidiyah—para santri dan pemuda juga ditempa untuk menghadapi pasukan Belanda. Dari Desa Pangkalan, mereka bergerak menuju berbagai medan pertempuran, membawa keyakinan bahwa membela tanah air merupakan bagian dari pengabdian kepada Tuhan.

Didirikan untuk Mendidik Masyarakat
Pesantren tersebut didirikan KH Abdul Hamid di Dusun Cigangsa, Desa Pangkalan, Kecamatan Langkaplancar. Penelitian Nisa Nurul Hamdiyah, Aah Syafa’ah, dan Anwar Sanusi yang diterbitkan dalam Jurnal Tamaddun pada 2025 mencatat pesantren itu berdiri pada 1931 dan mulanya dikenal sebagai Pesantren Cicau.
KH Abdul Hamid lahir pada 1908. Ia merupakan putra KH Abdul Ghani, Kepala Desa Pangkalan saat itu, dan Ibu Iti yang memiliki garis keturunan dari Pamijahan, Sukapura.
Pendidikan Abdul Hamid dimulai di Sekolah Rakyat. Pada usia sekitar 12 tahun, ia pergi menuntut ilmu di sebuah pesantren di Cianjur selama hampir satu dasawarsa. Pada 1930, ia melanjutkan pendidikannya di Pesantren Sumelap, Tasikmalaya.
Setelah kembali ke kampung halaman, Abdul Hamid mendirikan tempat pengajian untuk memperkuat pemahaman agama masyarakat. Perjalanannya tidak mudah. Dakwah yang ia sampaikan sempat menghadapi penolakan karena berhadapan dengan sejumlah kebiasaan lama yang telah mengakar.
Namun, sedikit demi sedikit, Pesantren Cicau berkembang. Santri tidak hanya datang dari sekitar Desa Pangkalan. Jaringan dakwah KH Abdul Hamid menjangkau Banjar, Tasikmalaya, Garut, dan Kawali. Pengajian yang diselenggarakan setiap bulan juga menjadi tempat pertemuan masyarakat dari berbagai daerah.
Di situlah fungsi pesantren mulai melampaui ruang pendidikan. Hubungan antarkiai, santri, dan masyarakat yang terbentuk melalui pengajian kelak menjadi jaringan penting ketika republik yang baru merdeka membutuhkan kekuatan rakyat.

Dari Pengajian Menjadi Pusat Pelatihan
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak serta-merta membuat keadaan menjadi tenang. Kedatangan Sekutu yang diboncengi NICA membuka ancaman baru. Belanda berusaha mengembalikan kekuasaannya, sementara tentara republik dan laskar rakyat harus mempertahankan kemerdekaan dengan persenjataan terbatas.
Dalam keadaan itulah Pesantren Cicau berubah fungsi.
KH Abdul Hamid menghimpun santri dan pemuda dari Langkaplancar serta daerah sekitarnya. Mereka bergabung dalam jaringan Hizbullah dan Sabilillah. Pesantren dijadikan tempat berkumpul, berlatih, menyusun kekuatan, dan mempersiapkan keberangkatan ke medan perang.
Sebelum berangkat, para pemuda itu tidak hanya dibekali kemampuan fisik. Semangat membela negara ditanamkan sebagai tanggung jawab keagamaan. Kemerdekaan tidak dipandang sebagai hadiah yang boleh dinikmati begitu saja, melainkan amanah yang harus dipertahankan.
Kesaksian keluarga yang dicatat dalam penelitian tentang peran Pesantren Al-Hamidiyah menyebut pasukan yang berkumpul berasal dari Langkaplancar, Cijulang, Cigugur, Cineam, Salopa, hingga Bogor. Jumlahnya disebut mencapai sekitar seribu orang dan dibagi menjadi tiga batalyon.
Batalyon pertama dipimpin Ajengan Hasbullah, batalyon kedua dipimpin Darajat, sedangkan batalyon ketiga berada di bawah komando Suhacman. Angka dan susunan pasukan tersebut berasal dari sejarah lisan keluarga sehingga masih memerlukan pencocokan dengan arsip militer. Namun, keterangan itu memperlihatkan satu hal penting: Pesantren Cicau bukan sekadar tempat singgah para pejuang.
Pesantren itu telah menjadi pusat pengorganisasian pasukan.

Berjalan Menuju Medan Pertempuran
Setelah berdoa bersama, para anggota laskar meninggalkan Langkaplancar menuju front Bandung. Sebagian perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki melalui Cisarua, Cineam, hingga Ciamis. Dari Ciamis, mereka disebut melanjutkan perjalanan menggunakan kereta api menuju Cicalengka, lalu bergerak melalui jalur hutan untuk menghindari pengawasan Belanda.
Rombongan kemudian melewati kawasan Majalaya dan Ciparay sebelum bergabung dengan kekuatan pejuang lain di sekitar Cijawura. Menurut rekonstruksi sejarah yang bersumber dari kesaksian keluarga, pasukan tersebut ikut bertempur di kawasan Buahbatu, Bandung.
Mereka menghadapi pasukan Belanda dengan perlengkapan yang tidak sebanding. Senjata terbatas tidak membuat laskar kembali pulang. Mereka menyerang, merusak jalur pergerakan lawan, serta berusaha memutus akses transportasi yang digunakan pasukan Belanda.
Pertempuran menelan korban. Sebagian santri gugur dan sebagian lainnya terpaksa mundur. Kiai Ucu Saeful Aziz, cucu KH Abdul Hamid, menuturkan bahwa hanya sebagian anggota laskar yang akhirnya dapat kembali ke Langkaplancar. Jumlah mereka yang gugur belum dapat dipastikan.
Ketidaklengkapan angka tidak mengurangi besarnya pengorbanan. Mereka meninggalkan pesantren tanpa pernah memiliki jaminan dapat kembali. Nama sebagian dari mereka bahkan tidak tercatat dalam buku sejarah, meskipun darah dan keberaniannya turut mempertahankan republik.
Gerilya Kembali ke Tanah Priangan
Perlawanan laskar Pesantren Cicau tidak berhenti di Bandung. Dalam perjalanan pulang, pasukan KH Abdul Hamid kembali berhadapan dengan Belanda di wilayah Manonjaya, Tasikmalaya.
Mereka kemudian membangun basis di sekitar Ciliang dan melakukan penyerangan selama kurang lebih tiga bulan. Ketika kekuatan Belanda bertambah, laskar mundur ke arah Langkaplancar. Perlawanan lalu dilanjutkan melalui serangan gerilya terhadap pasukan Belanda yang bermarkas di Cikatomas.
Penelitian tersebut mencatat sekitar 200 anggota Hizbullah dan Sabilillah ditempatkan untuk mengganggu kedudukan Belanda di Cikatomas. Mereka mendirikan markas di kawasan Ci Eksel dan bergerak pada malam hari ketika pasukan lawan sedang beristirahat.
Gerilyawan memahami bahwa persenjataan mereka jauh dari memadai. Karena itu, sasaran utama bukan selalu merebut markas, melainkan mengganggu ketenangan lawan, memperlambat pergerakan pasukan, dan menunjukkan bahwa daerah pedalaman belum dapat ditundukkan.
Ketika pasukan Belanda dari arah Pamarican memasuki Citalahab, Langkaplancar, sejumlah anggota laskar kembali diperintahkan melakukan penghadangan. Sekitar 31 orang disebut terlibat dan berhasil memukul mundur pasukan lawan untuk sementara waktu.
Rangkaian perlawanan tersebut membuktikan bahwa wilayah yang kini menjadi Kabupaten Pangandaran bukan hanya jalur lintasan dalam peta Revolusi Fisik. Pedalaman Langkaplancar merupakan basis pendidikan, logistik, kaderisasi, dan pertahanan rakyat.
Dari pesantren itulah pasukan dibentuk. Dari sana pula para santri bergerak menuju Bandung, Manonjaya, Cikatomas, dan sejumlah front lain di Priangan.
Sang Kiai Tak Pernah Menyerahkan Republik
Perjuangan KH Abdul Hamid semakin berat ketika konflik bersenjata melibatkan semakin banyak kelompok. Ia kemudian meninggalkan Langkaplancar dan bertahan di wilayah pegunungan sebelum berpindah ke Ciamis.
Pada 1949, KH Abdul Hamid wafat bersama tiga santrinya. Riwayat keluarga yang dimuat Harapan Rakyat menyebut ketiga santri itu adalah Kiai Zaenal Mutaqin, Kiai Zaenal Arifin, dan Ajengan Sa’aduddin. Sejumlah publikasi masih menyajikan keterangan berbeda mengenai kelompok yang bertanggung jawab atas kematian mereka sehingga bagian tersebut memerlukan penguatan melalui arsip sejarah.
Kepergian KH Abdul Hamid membuat Pesantren Cicau mengalami masa vakum sekitar satu dasawarsa. Pada 1960-an, perjuangan itu dilanjutkan oleh adiknya, KH Anwar Sanusi. Nama Pesantren Cicau kemudian diubah menjadi Al-Hamidiyah untuk mengenang sang pendiri.
Pesantren tersebut terus tumbuh sebagai pusat pendidikan dan kaderisasi. Pada 2021, Ketua PCNU Kabupaten Pangandaran KH Raden Hilal Faridz Tirmidzi bahkan menyebut Al-Hamidiyah sebagai salah satu sentral kaderisasi NU di Langkaplancar dan Pangandaran.
Jejak itu mengingatkan bahwa sejarah Pangandaran tidak hanya tertulis di pantai, jalur kereta api, atau benteng pertahanan. Ia juga tersimpan di sebuah pesantren di pedalaman Langkaplancar—tempat para santri pernah menutup kitab untuk sementara, memanggul keberanian, lalu berjalan jauh demi mempertahankan Merah Putih.
Pesantren itu tidak dibangun sebagai markas perang. Namun ketika republik memanggil, ia tidak memilih berdiam diri. Dari halamannya, para pemuda berangkat membawa doa dan keyakinan: Indonesia yang telah merdeka tidak boleh kembali menjadi tanah jajahan.
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com







