Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga Tionghoa di Ciamis pada 3 Agustus 1947. Tentara Belanda sedang bergerak mendekati kota, sementara politik bumi hangus dijalankan agar bangunan dan perbekalan tidak jatuh ke tangan penjajah. Di tengah perang yang membakar kecemasan, rumah warga sipil nyaris ikut dilalap api.

Namun, Ciamis tidak hanya memiliki kisah tentang bangunan yang hendak dibumihanguskan. Daerah ini juga menyimpan jejak orang-orang yang berani berdiri di antara api dan rumah tetangganya. Mereka memahami satu hal penting: kemerdekaan akan kehilangan kehormatannya apabila diperjuangkan dengan mengorbankan rakyat yang seharusnya dilindungi.

jejak heroik jabar - banner kesbangpol

Ketika Rumah Warga Tionghoa Nyaris Dibakar

Agustus 1947 menjadi salah satu masa paling genting dalam sejarah Ciamis. Agresi Militer Belanda I sedang berlangsung. Kota-kota diduduki, jalur perhubungan dikuasai, dan pasukan Republik terpaksa meninggalkan sejumlah kawasan untuk melanjutkan perlawanan dari pedalaman.

Dalam keadaan seperti itu, strategi bumi hangus dipandang sebagai pilihan militer. Gudang, toko, dan bangunan yang berpotensi digunakan tentara Belanda harus dihancurkan sebelum ditinggalkan.

Masalah muncul ketika rumah-rumah pribadi milik warga Tionghoa ikut direncanakan untuk dibakar.

Kajian peneliti arkeologi BRIN mengenai dinamika permukiman etnis Tionghoa di Ciamis mencatat, bensin telah disiapkan di dekat rumah-rumah mereka pada 3 Agustus 1947. Bayangkan kecemasan keluarga-keluarga yang berada di dalamnya. Di luar rumah, perang sedang mendekat. Di halaman mereka sendiri, api tinggal menunggu percikan.

Pada saat itulah Rd. Otosoebrata, Ketua Masyumi Ciamis, dan Joesoep, yang dalam catatan tersebut disebut sebagai Kepala Polisi Jawa Barat, mengambil sikap penting.

Keduanya membantu organisasi Chung Hoa Chung Hwee atau C.H.C.H. mengevakuasi warga Tionghoa dari Kawali menuju kamp pengamanan yang didirikan tidak jauh dari kota. Mereka juga menentang penerapan bumi hangus terhadap rumah-rumah pribadi warga Tionghoa.

Bensin yang telah diletakkan di dekat rumah-rumah itu akhirnya disingkirkan.

Tindakan tersebut mungkin hanya berlangsung dalam hitungan waktu yang singkat. Namun, bagi keluarga yang nyaris kehilangan tempat tinggal, keputusan itu menjadi batas antara keselamatan dan malapetaka.

Rd. Otosoebrata dan Joesoep tentu memahami risiko sikap mereka. Pada masa perang, ketakutan mudah berubah menjadi kecurigaan. Membela kelompok yang sedang berada dalam posisi rentan dapat disalahartikan. Namun, mereka tidak membiarkan suasana genting menghapus kejernihan nurani.

Mereka tidak sedang membela kolonialisme. Mereka sedang menjaga agar perjuangan melawan penjajah tidak kehilangan martabatnya.

Republik yang sedang dipertahankan bukan milik satu golongan. Kemerdekaan diperjuangkan agar setiap orang yang hidup di dalamnya memperoleh perlindungan—apa pun suku, agama, dan latar belakangnya.

Memang, tidak seluruh harta benda dapat diselamatkan. Ketika tentara Belanda memasuki Ciamis pada 5 Agustus 1947, sejumlah toko dan gudang milik warga Tionghoa tetap dibumihanguskan.

Fakta itu tidak boleh ditutupi. Ciamis pada masa revolusi bukan daerah tanpa ketegangan dan pertentangan. Namun, justru dalam keadaan serba kacau itulah pilihan untuk melindungi menjadi begitu berharga.

Keberanian tidak selalu hadir melalui tangan yang menggenggam senjata. Kadang-kadang, keberanian menjelma dalam sosok yang menyingkirkan bensin dari halaman rumah orang lain.

Itulah wajah nasionalisme yang matang: keras terhadap penjajahan, tetapi lembut kepada sesama anak bangsa.

jejak heroik jabar - banner kemenhaj

Delapan Dekade Kemudian, Ciamis Diakui

Tujuh puluh delapan tahun setelah peristiwa tersebut, nama Ciamis kembali hadir dalam kisah tentang kerukunan.

Pada 28 November 2025, Kementerian Agama memberikan Harmony Award kepada pemerintah daerah dan Forum Kerukunan Umat Beragama yang dinilai berhasil merawat keharmonisan masyarakat.

Untuk kategori pemerintah daerah tingkat kabupaten, Mimika menempati peringkat pertama. Ciamis berada di peringkat kedua, disusul Malang pada peringkat ketiga.

Penghargaan itu bukan hasil satu kegiatan seremonial atau slogan yang dipasang di ruang publik. Penilaiannya mencakup pemeriksaan dokumen, indeks kerukunan, rekam jejak penyelesaian konflik, instrumen skoring, serta kunjungan lapangan ke daerah-daerah yang masuk nominasi.

Sebanyak 328 dari 514 pemerintah kabupaten dan kota mengikuti proses penilaian. Dari jumlah tersebut, 18 daerah dipilih untuk menjalani verifikasi lapangan.

Tim penilai datang langsung ke Ciamis. Mereka mengunjungi Kampung Kerukunan, mengamati hubungan sosial masyarakat, dan berdialog secara independen dengan kelompok minoritas.

Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Ciamis, R. Yadi Tisyadi, menyebut warga non-Muslim di daerah itu berjumlah sekitar 0,98 persen. Meski jumlahnya kurang dari satu persen, mereka mengaku dapat menjalani kehidupan dengan nyaman.

Kerukunan tersebut dirawat melalui Sekolah Duta Kerukunan, Duta Harmoni, dialog lintas agama, kegiatan seni, serta aktivitas sosial yang mempertemukan pelajar dan masyarakat dari berbagai keyakinan.

Ketua FKUB Kabupaten Ciamis, Sumadi, menyebut Indeks Harmoni Ciamis berada dalam kategori baik. Pada indikator keberagaman, Ciamis memperoleh nilai 7,24—tertinggi dibandingkan indikator lainnya.

Ia juga memperkenalkan filosofi sederhana: “99 plus 1 sama dengan kita.”

Di balik kalimat itu tersimpan pandangan yang dalam. Kelompok yang jumlahnya satu orang tidak kehilangan haknya hanya karena berada di tengah 99 orang lainnya. Mereka tetap menjadi bagian dari “kita”.

Harmony Award 2025 tentu tidak lahir sebagai akibat langsung dari perlindungan warga Tionghoa pada 1947. Sejarah tidak bergerak melalui hubungan sebab-akibat sesederhana itu. Penghargaan tersebut merupakan buah kebijakan pemerintah daerah, kerja FKUB, peran tokoh agama, dan kedewasaan masyarakat dalam menjaga kehidupan bersama.

Namun, kedua peristiwa itu dapat dibaca sebagai dua titik dalam satu bentang sejarah sosial Ciamis.

Pada 1947, ketika kebencian dapat berubah menjadi api, terdapat orang-orang yang memilih menyelamatkan rumah tetangganya. Pada 2025, Ciamis mendapat pengakuan nasional karena dinilai mampu menyediakan ruang hidup yang aman bagi kelompok berbeda keyakinan.

Zamannya berubah. Orang-orangnya berganti. Tantangannya pun tidak sama. Namun, nilai yang diperjuangkan tetap berdekatan: tidak seorang pun boleh kehilangan rasa aman hanya karena berbeda.

Di situlah kehormatan Tanah Galuh menemukan bentuknya yang utuh.

Ciamis dikenang sebagai tanah para pejuang yang membuat pasukan Belanda gentar. Jalan-jalannya pernah menjadi medan gerilya. Gunung, bukit, dan perkampungannya pernah menjadi benteng Republik.

Akan tetapi, kebesaran Ciamis tidak hanya tampak ketika para pejuangnya menghadang penjajah. Kebesaran itu juga hadir ketika tokoh-tokohnya mencegah api menyambar rumah warga sipil.

Satu keberanian mempertahankan tanah air. Keberanian lainnya menjaga agar tanah air tetap menjadi rumah bagi semua orang.

jejak heroik jabar - banner kominfo

Harmony Award 2025 patut dirayakan, tetapi penghargaan itu bukan garis akhir. Kerukunan tidak dapat disimpan di dalam lemari bersama piagam. Ia harus hidup dalam kebijakan pemerintah, perkataan tokoh masyarakat, pendidikan anak-anak, penghormatan terhadap rumah ibadah, serta percakapan sehari-hari.

Sebab, bahan bakar perpecahan hari ini tidak selalu berupa bensin yang diletakkan di dekat rumah. Ia dapat hadir sebagai kabar bohong, ujaran kebencian, prasangka, dan kalimat yang terus membelah masyarakat menjadi “kami” dan “mereka”.

Ciamis pernah memperlihatkan cara menghadapinya: singkirkan bahan bakarnya, lindungi manusianya.

Dari perlindungan terhadap warga Tionghoa pada 1947 hingga Harmony Award 2025, terbentang pesan yang layak diwariskan kepada setiap generasi: mencintai Indonesia berarti menjaga tanahnya dari penjajahan sekaligus menjaga rakyatnya dari perpecahan.

Tanah Galuh bukan hanya tanah yang keras terhadap penjajah. Ia juga tanah yang menyediakan tempat aman bagi siapa pun yang menyebutnya rumah.

“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”

lintaspriangan.com
Wisuda OHAN

H. Aslim: Wisuda OHAN Bukan Sekadar Mencetak Hafidz, tapi Menyiapkan Masa...

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H. Aslim menghadiri Wisuda OHAN (One Kelurahan One Hafidz) di Kota Tasikmalaya, Jumat (4/9/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali...

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dingo Belanda Tumbang di Tangan Pejuang Karangresik

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Roda-roda kendaraan lapis baja itu berhenti...

PRIANGAN TIMUR

Pelantikan GEKRAFS Kota Tasikmalaya, H. Aslim: Ekonomi Kreatif Harus Naik Kelas

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pelantikan GEKRAFS Kota Tasikmalaya bukan sekadar menambah satu...

H. Aslim: Wisuda OHAN Bukan Sekadar Mencetak Hafidz, tapi Menyiapkan Masa Depan

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ketua DPRD Kota Tasikmalaya H. Aslim menghadiri...

Ohan Hafiz Tasikmalaya Wisuda 44 Peserta, 26 Tuntaskan Hafalan 30 Juz

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Sebanyak 44 peserta Ohan Hafiz Tasikmalaya Angkatan I...

Pendakian Gunung Garut Ditutup Sementara Selama Musim Kemarau

lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Kebijakan penutupan sementara pendakian gunung Garut memasuki...

Pangandaran Air Show 2026 Dimulai Hari Ini, Pesta Rakyat Gratis Digelar Malam

lintaspriangan.com, BERITA PANGANDARAN. Pangandaran Air Show 2026 mulai digelar Jumat,...

JAWA BARAT

Kasus Kematian Wanita Cianjur, Pelaku ditangkap di Sukabumi

lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR – Misteri kematian Imas Maska, perempuan...

PGRI Jabar Kawal Kasus Oknum Wartawan Sukabumi

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Kasus dugaan intimidasi terhadap Kepala SDN...

Sopir Pikap Cium Bau Aneh, Kardus Berisi Mayat Perempuan di Bandung Terbongkar

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Misteri penemuan jasad perempuan berinisial SM...

Dua ASN Disnaker Cimahi Ditahan, Dugaan Korupsi Program Pelatihan Kerja

lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Program pelatihan dan produktivitas tenaga...

SIM Keliling Bandung 2 September Buka di ITC Kebon Kalapa dan Tenth Avenue

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Layanan SIM Keliling Bandung tersedia di dua...

Wanita dalam Kardus di Bandung, Tersangka Ditangkap Kurang dari Enam Jam

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Perkembangan kasus wanita dalam kardus di Kota...

Tak Diberi Pulus, Pria Mengaku Wartawan Ngamuk di SD Sukabumi

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Permintaan uang Rp100 ribu berujung keributan...

Misteri Kematian Perempuan di Mes Peternakan Ayam Cianjur

lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR. Misteri kematian seorang perempuan yang ditemukan...

Olahraga

Popular Categories