lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan Tasikmalaya, markas pasukan Belanda di Cikatomas tidak selalu dapat beristirahat dengan tenang. Dari sebuah basis gerilya di Cieksel, sekitar 20 kilometer dari Cikatomas, pasukan Hizbullah dan Sabilillah berulang kali bergerak untuk menyerang.
Jumlah mereka bukan belasan. Sebuah penelitian sejarah mencatat, sekitar 200 pejuang dikerahkan atas perintah KH Abdul Hamid. Mereka menggempur dan menghadang pasukan Belanda selama kurang lebih lima bulan. Bukan melalui perang terbuka yang akan mudah dipatahkan, melainkan serangan malam yang senyap, cepat, lalu menghilang.
Kisah itu tersimpan dalam penelitian berjudul Peran Pesantren Al-Hamidiyah Pangandaran Jawa Barat pada Masa Revolusi Fisik (1945–1949) karya Nisa Nurul Hamdiyah, Aah Syafa’ah, dan Anwar Sanusi. Penelitian tersebut diterbitkan Jurnal Tamaddun UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada Desember 2025.
Di antara banyak pertempuran besar yang menghiasi buku sejarah, perlawanan panjang di Cikatomas nyaris tidak pernah disebut. Padahal, di tempat inilah ratusan pejuang mempertaruhkan hidup agar Belanda tidak leluasa memperluas kekuasaan ke wilayah selatan.

Dari Pesantren Menuju Front Cikatomas
Pasukan tersebut berasal dari jaringan perjuangan yang dibangun KH Abdul Hamid melalui Pesantren Cicau, yang kemudian dikenal sebagai Pesantren Al-Hamidiyah. Pesantren itu didirikan pada 1931 di Desa Pangkalan, Langkaplancar—wilayah yang sekarang termasuk Kabupaten Pangandaran.
Pada masa Revolusi Fisik, fungsi pesantren berubah. Tempat mengaji itu menjadi pusat konsolidasi, pelatihan, dan mobilisasi pejuang. Santri dan pemuda dari Langkaplancar serta wilayah sekitarnya dihimpun ke dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah.
KH Abdul Hamid tidak hanya menanamkan keberanian melalui pengajian. Ia mengorganisasi pasukan dan mengirim mereka ke sejumlah medan pertempuran. Penelitian tersebut mencatat keterlibatan laskarnya dalam pertempuran di Bandung, Manonjaya, Cikatomas, hingga Citalahab.
Sebelum bergerak menuju Cikatomas, pasukan KH Abdul Hamid sempat melakukan serangkaian serangan terhadap kedudukan Belanda di sekitar Manonjaya. Mereka mendirikan markas di kawasan Ciliang dan bertahan selama kurang lebih tiga bulan.
Perlawanan di sana semakin berat. Pasukan Belanda terus bertambah, sementara tenaga laskar mulai terkuras. KH Abdul Hamid akhirnya memutuskan membawa pasukannya kembali menuju Langkaplancar.
Namun, perjalanan pulang itu bukanlah akhir perlawanan.
KH Abdul Hamid mengkhawatirkan pasukan Belanda akan bergerak memasuki Langkaplancar dan menyerang masyarakat. Ia kemudian memerintahkan sekitar 200 anggota Hizbullah dan Sabilillah untuk menggempur sekaligus menghadang tentara Belanda yang bermarkas di Cikatomas.
Keputusan itu menempatkan Cikatomas sebagai benteng depan. Musuh harus ditekan sebelum dapat bergerak lebih jauh menuju perkampungan dan basis perjuangan rakyat.

Menyerang Saat Belanda Beristirahat
Dua ratus pejuang tersebut tidak mendirikan pertahanan tepat di depan markas musuh. Mereka membangun basis di Cieksel, sekitar 20 kilometer dari kedudukan Belanda di Cikatomas.
Nama tempat itu sekarang lebih lazim ditulis Cieksel. Keberadaannya masih tercatat sebagai sebuah kampung di Desa Bantarkalong, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, termasuk dalam dokumen resmi KPU Kabupaten Tasikmalaya tahun 2024.
Dari basis itulah serangan-serangan disusun. Pasukan Indonesia memahami bahwa kekuatan dan persenjataan mereka tidak sebanding dengan tentara Belanda. Pertempuran frontal hanya akan menjadikan mereka sasaran senjata yang lebih modern.
Mereka memilih taktik gerilya.
Serangan dilakukan pada malam hari, ketika pasukan Belanda sedang beristirahat. Setelah menggempur kedudukan musuh, para pejuang dapat kembali bergerak, berlindung, dan mempersiapkan serangan berikutnya.
Pola itu dipertahankan selama kurang lebih lima bulan.
Artinya, perlawanan Cikatomas bukan satu pertempuran yang berlangsung tanpa henti selama lima bulan. Perlawanan tersebut merupakan rangkaian serangan dan penghadangan yang dilakukan berulang kali. Tujuannya bukan sekadar mengejar kemenangan dalam satu malam, tetapi membuat kedudukan Belanda terus berada dalam tekanan.
Penelitian itu tidak menyebut markas Belanda berhasil direbut. Tidak pula ditemukan perincian lengkap mengenai tanggal awal dan akhir operasi, jenis persenjataan, jumlah korban, serta nama seluruh komandan lapangan.
Namun, satu hal dicatat dengan jelas: selama lima bulan, sekitar 200 pejuang terus menggempur markas tersebut. Mereka ingin memperlihatkan bahwa bangsa yang kemerdekaannya baru diproklamasikan itu tidak akan mudah ditaklukkan kembali.

Jejak dari sumber Belanda turut menunjukkan bahwa Cikatomas memang menjadi kawasan konflik aktif pada 1948. Netwerk Oorlogsbronnen mencatat serdadu Belanda Hubertus Mathijs Kwaspen meninggal di Tjikatomas pada 5 Mei 1948. Dua serdadu lainnya, Johannes Wilhelmus Arnoldussen dan Johannes Jacobus Dinnessen, tercatat meninggal di sebelah utara Tjikatomas pada 24 Agustus 1948.
Catatan tersebut belum dapat langsung dihubungkan dengan pasukan KH Abdul Hamid. Akan tetapi, ia menjadi petunjuk independen bahwa Cikatomas bukan wilayah belakang yang tenang. Pertempuran dan operasi bersenjata masih berlangsung di kawasan itu sepanjang 1948.
Tekanan terhadap Langkaplancar juga datang dari arah lain. Pasukan Belanda yang bermarkas di Pamarican berhasil bergerak hingga Citalahab. Mendengar pergerakan tersebut, KH Abdul Hamid mengirim sekitar 31 pejuang untuk melakukan penghadangan.
Dengan kekuatan yang jauh lebih kecil, pasukan itu berhasil memukul mundur tentara Belanda, meskipun hanya untuk sementara. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perlawanan di Cikatomas bukan aksi yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari pertahanan berlapis untuk melindungi perkampungan dan jaringan perjuangan di wilayah selatan.
Sejarah sering mengingat pertempuran yang selesai dalam satu hari, terlebih jika meninggalkan bangunan besar atau monumen megah. Perlawanan yang berlangsung di hutan, bergerak pada malam hari, dan diwariskan melalui ingatan keluarga lebih mudah menghilang dari halaman buku.
Itulah yang hampir terjadi pada perjuangan di Cikatomas.
Dua ratus pejuang itu mungkin tidak merebut markas Belanda. Nama mereka pun belum seluruhnya ditemukan. Namun, selama lima bulan, mereka terus datang dalam gelap, menyerang, mundur, lalu kembali menggempur.
Kemerdekaan tidak hanya dipertahankan melalui kemenangan besar. Ia juga diselamatkan oleh orang-orang yang membuat penjajah tidak pernah merasa aman di tanah yang hendak dikuasainya.
Di Cikatomas, sekitar 200 pejuang telah melakukan itu. Mereka menjaga republik dengan satu pesan sederhana: tanah ini telah merdeka, dan penjajah tidak akan pernah mendapatkannya kembali dengan mudah.
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com







