lintaspriangan.com. BERITA TASIKMALAYA. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Tasikmalaya mulai membuka peluang agar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dapat terhubung dengan ekosistem ekonomi haji dan umrah yang tengah dikembangkan secara nasional.
Langkah itu mulai dijajaki melalui komunikasi dan koordinasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskumkmperindag) Kota Tasikmalaya.
Momentum tersebut bertepatan dengan penyelenggaraan Expo UMKM & Ekosistem Haji dan Umrah 2026 pada 25–27 September 2026 di Madiun. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat keterlibatan UMKM dalam rantai ekonomi penyelenggaraan haji dan umrah.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kota Tasikmalaya, H. Husna Mustopa, S.H.I., mengatakan peluang tersebut cukup relevan dikembangkan di Kota Tasikmalaya karena daerah ini memiliki basis UMKM dan industri kreatif yang kuat.
“Kami sudah melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasikmalaya. Kami melihat ada ruang yang cukup besar agar potensi UMKM Kota Tasikmalaya dapat terhubung dengan ekosistem haji dan umrah yang sedang dikembangkan secara nasional,” ujar Husna, Jumat (25/9/2026).
Tasikmalaya memiliki karakter industri yang relatif dekat dengan berbagai kebutuhan pasar haji dan umrah. Produk bordir, batik, konveksi, fesyen muslim, makanan olahan, alas kaki hingga berbagai kerajinan merupakan bagian dari kekuatan ekonomi lokal yang selama ini berkembang di Kota Tasikmalaya.
Potensi tersebut membuka peluang bagi produk-produk lokal untuk masuk ke pasar yang lebih spesifik, mulai dari pakaian dan perlengkapan ibadah, makanan kemasan, tas, suvenir hingga berbagai kebutuhan pendukung perjalanan jemaah.
Menurut Husna, peluang ekonomi di sekitar penyelenggaraan haji dan umrah tidak seharusnya dipahami hanya sebatas bisnis perjalanan.
“Ekosistem haji dan umrah jangan hanya dilihat dari sisi pelayanan keberangkatan jemaah. Di dalamnya ada mata rantai ekonomi yang sangat luas. Tasikmalaya memiliki produk, pelaku usaha, dan tradisi industri kreatif yang kuat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana kekuatan lokal itu memenuhi standar dan kemudian memperoleh akses ke pasar yang lebih luas,” katanya.
Karena itu, komunikasi antara Kemenhaj Kota Tasikmalaya dengan Diskumkmperindag menjadi penting untuk mulai memetakan produk-produk lokal yang memiliki peluang masuk ke ekosistem tersebut.
Pemetaan tidak hanya menyangkut jenis produk, tetapi juga kesiapan kualitas, legalitas usaha, sertifikasi, kemasan, kontinuitas produksi hingga kemampuan pelaku UMKM memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan.
Langkah tersebut sekaligus memiliki titik temu dengan Tasik PELAK, salah satu program prioritas Pemerintah Kota Tasikmalaya yang diarahkan pada penguatan ekonomi lokal, termasuk pengembangan UMKM, kemitraan, promosi dan pemasaran, ekonomi kreatif serta perluasan kesempatan usaha. Dalam RKPD Kota Tasikmalaya 2026, Diskumkmperindag menjadi salah satu perangkat daerah utama dalam pelaksanaan program tersebut.
Husna menilai kesamaan arah tersebut membuka ruang sinergi yang semakin luas antara agenda Kemenhaj dengan program pembangunan ekonomi Pemerintah Kota Tasikmalaya.
“Kami melihat upaya membuka akses UMKM ke ekosistem haji dan umrah memiliki semangat yang sejalan dengan Tasik PELAK. Karena itu, kami ingin membangun sinergi dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya agar peluang yang terbuka secara nasional bisa diterjemahkan menjadi kesempatan nyata bagi pelaku usaha di daerah,” ujar Husna.
Menurutnya, Kemenhaj dapat mengambil peran sebagai penghubung ketika terdapat peluang dalam ekosistem haji dan umrah, sementara pembinaan serta penguatan kapasitas pelaku usaha dapat disinergikan dengan perangkat daerah sesuai kewenangannya.
Dengan pola tersebut, produk Kota Tasikmalaya tidak hanya didorong untuk hadir di pasar, tetapi juga dipersiapkan agar mampu memenuhi standar yang dibutuhkan.
Program Tasik PELAK sendiri antara lain mencakup fasilitasi legalitas usaha, pengembangan dan pendampingan UMKM, dukungan teknologi dan branding, kemitraan, promosi, pemasaran serta akses permodalan.
Pada 2026, penguatan ekonomi masyarakat melalui Tasik PELAK juga telah menyentuh pelatihan bagi pelaku usaha di bidang makanan olahan, konveksi, bordir, batik, payung geulis, alas kaki dan sejumlah sektor lainnya.
Kondisi tersebut membuat peluang kolaborasi dengan Kemenhaj memiliki pijakan yang cukup kuat. Produk yang selama ini menjadi identitas ekonomi Kota Tasikmalaya dapat mulai diarahkan untuk menjangkau kebutuhan pasar haji dan umrah yang berlangsung setiap tahun.
Jika sinergi tersebut berkembang menjadi langkah konkret, ekosistem haji dan umrah dapat membuka pintu pasar baru bagi UMKM Kota Tasikmalaya.
Manfaat penyelenggaraan haji dan umrah dengan demikian tidak hanya berhenti di ruang pelayanan jemaah. Ia dapat bergerak lebih jauh hingga ke sentra bordir, rumah produksi makanan, bengkel kerajinan, serta ruang-ruang usaha masyarakat yang menjadi denyut ekonomi Kota Tasikmalaya. (NS/AS)







