lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Ratusan pengemudi ojek online (ojol) Maxim mendatangi kantor perwakilan perusahaan di Tasikmalaya, Kamis (10/9/2026). Driver Maxim Tasikmalaya tersebut menyampaikan keberatan terhadap kebijakan yang dinilai berdampak pada pendapatan pengemudi, terutama layanan Turbo dan platform fee.
Massa yang mengenakan jaket kuning-hitam terlihat memenuhi area kantor Maxim. Sejumlah aparat kepolisian berada di lokasi untuk mengamankan jalannya penyampaian aspirasi.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan manajemen Maxim memberikan penjelasan mengenai Program Turbo yang menjadi salah satu sumber keresahan pengemudi.
Manajemen menyebut Turbo merupakan program baru yang saat itu baru berjalan sekitar 11 hari. Perusahaan menyatakan masih melakukan evaluasi dan membuka ruang bagi pengemudi untuk menyampaikan masukan terkait pelaksanaannya.
Namun, penjelasan tersebut mendapat respons keras dari sebagian massa.
Sejumlah pengemudi melakukan interupsi dan meneriakkan tuntutan agar Program Turbo dihentikan.
“Hapus! Hapus!” terdengar dari tengah massa.
Turbo Disebut Opsional, Driver Tetap Mempertanyakan Dampaknya
Salah satu poin yang ditegaskan manajemen dalam pertemuan tersebut adalah status Program Turbo yang disebut bersifat opsional.
Artinya, pengemudi tidak diwajibkan mengikuti program tersebut dan dapat memilih menggunakan atau tidak menggunakan layanan Turbo.
Namun, bagi sebagian pengemudi, persoalannya bukan semata-mata mengenai kewajiban mengikuti program.
Mereka mempertanyakan dampak Turbo terhadap peluang mendapatkan order.
Keluhan tersebut menjadi salah satu alasan pengemudi meminta program tersebut dihentikan. Mereka menilai apabila penggunaan fitur tertentu berkaitan dengan prioritas order, maka status “opsional” belum tentu dirasakan sebagai pilihan yang benar-benar setara di lapangan.
Persoalan inilah yang kemudian menjadi salah satu titik perdebatan antara pengemudi dan pihak aplikator.
Sebelum aksi berlangsung, Serikat Transportasi Tasikmalaya (STT) juga telah menyatakan penolakan terhadap layanan Turbo.
Dalam pernyataan sikap yang disampaikan pada 4 September, STT meminta program Turbo dan platform fee dihapus karena dinilai membebani pengemudi.
Potongan Pendapatan Ikut Dipersoalkan
Selain Turbo, pengemudi juga mempersoalkan platform fee dan besaran potongan yang mereka rasakan dari pendapatan perjalanan.
Ketua STT Eros Rosid mengatakan tuntutan yang dibawa dalam aksi tersebut berkaitan dengan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026, terutama mengenai batas komisi aplikator.
Menurut Eros, pengemudi menilai keberadaan sejumlah komponen biaya di luar komisi perlu diperjelas agar tidak membuat pendapatan bersih mereka semakin tergerus.
Eros memberikan ilustrasi seorang pengemudi yang memperoleh pendapatan Rp150 ribu melalui layanan Turbo. Menurut perhitungannya, terdapat biaya Turbo Rp15 ribu, kemudian masih ada platform fee sekitar 10 persen dan komisi 8 persen.
Dari perhitungan versi STT tersebut, total potongan yang dirasakan pengemudi dapat mencapai sekitar 28 persen.
Namun, angka 28 persen tersebut merupakan perhitungan dan argumentasi dari pihak STT dalam menyampaikan tuntutannya. Angka tersebut tidak dapat langsung disimpulkan sebagai persentase potongan resmi Maxim atau sebagai pelanggaran yang telah diputus regulator.
Perdebatan kemudian mengarah pada persoalan yang lebih luas: berapa sebenarnya pendapatan bersih yang diterima pengemudi setelah seluruh komponen biaya diperhitungkan?
Manajemen Diminta Membawa Aspirasi ke Pusat
Eros menyadari kantor cabang aplikator di daerah memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan terkait kebijakan perusahaan.
Karena itu, dalam aksi tersebut pengemudi meminta agar aspirasi yang disampaikan di tingkat daerah diteruskan secara serius kepada manajemen pusat.
STT juga menilai persoalan tersebut tidak boleh berhenti pada dialog di kantor cabang.
“Kantor cabang kita arahkan, kita minta untuk menyuarakan secara serius apa yang menjadi tuntutan kita terhadap kantor pusat,” kata Eros.
Menurutnya, persoalan yang dihadapi pengemudi bukan hanya terjadi di Tasikmalaya. Ia berharap keresahan serupa dapat menjadi perhatian pengemudi di daerah lain.
Mengapa Turbo Menjadi Titik Persoalan?
Bagi perusahaan, Turbo merupakan program pilihan yang masih dalam tahap evaluasi.
Tetapi dari sisi pengemudi, muncul pertanyaan mengenai konsekuensi ketika sebagian driver memilih menggunakan dan sebagian lainnya tidak.
Jika penggunaan Turbo memang memberikan prioritas tertentu dalam memperoleh order, maka transparansi mekanisme tersebut menjadi penting.
Pengemudi perlu mengetahui bagaimana sistem menentukan prioritas, apakah ada perbedaan peluang order antara pengguna dan nonpengguna Turbo, serta bagaimana pengaruh fitur tersebut terhadap pendapatan bersih.
Dengan demikian, perdebatan mengenai Turbo sebenarnya tidak hanya menyangkut ada atau tidaknya kewajiban menggunakan fitur.
Persoalan utamanya adalah apakah seluruh pengemudi tetap memperoleh kesempatan yang adil untuk mendapatkan order tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan.
Manajemen sendiri menyatakan masih mengevaluasi program tersebut dan menampung masukan dari para driver.
Sementara itu, massa pengemudi meminta evaluasi tersebut berujung pada perubahan nyata terhadap kebijakan yang mereka persoalkan.
Aksi driver Maxim Tasikmalaya ini menjadi salah satu bentuk tekanan dari pengemudi agar aplikator memperhatikan kembali pola pembagian order dan struktur biaya yang mereka hadapi.
Untuk saat ini, Program Turbo masih disebut sebagai layanan opsional oleh manajemen Maxim.
Namun, bagi para pengemudi yang turun menyampaikan aspirasi, status tersebut belum menjawab pertanyaan utama: apakah Turbo benar-benar menjadi pilihan bebas apabila fitur tersebut dianggap berpengaruh terhadap peluang mendapatkan order?
Jawaban atas persoalan itu akan sangat bergantung pada transparansi mekanisme sistem dan hasil evaluasi yang dilakukan pihak perusahaan. (HS)







