lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Drama Sunda Palagan Bubat dijadwalkan tampil dalam lima sesi di Gedung Pusat Kebudayaan, Kota Bandung, Kamis, 10 September 2026. Agenda resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat mencatat pertunjukan berlangsung pukul 08.00–17.00 WIB dan terbuka untuk umum.
Pertunjukan berdurasi sekitar 90 menit itu dijadwalkan kembali pada Sabtu, 12 September 2026. Untuk pertunjukan 10 September, sesi digelar pukul 08.00, 10.00, 12.30, 14.00, dan 16.00 WIB. Harga tiket yang diumumkan penyelenggara sebesar Rp60.000.
Lima Sesi Digelar hingga Sore
Drama Sunda Palagan Bubat dipentaskan oleh Lembayung Entertainment dengan Bayu E. Suharta sebagai sutradara. Materi resmi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menyebut naskah yang dipentaskan merupakan karya almarhum Wa Kabul.
Lokasi pertunjukan berada di Gedung Pusat Kebudayaan Jawa Barat. Layanan resmi Pemprov Jawa Barat mencantumkan gedung tersebut beralamat di Jalan Naripan Nomor 7–9, Bandung. Gedung ini digunakan untuk pagelaran dan latihan seni serta pameran seni rupa.
Gedung Pusat Kebudayaan juga baru kembali digunakan setelah rehabilitasi yang diselesaikan pada 2025. Pemerintah Provinsi Jawa Barat meresmikan kembali gedung tersebut pada 30 Desember 2025 setelah perbaikan yang dilakukan dengan mempertahankan karakter arsitektur dan memperkuat aspek keamanan bangunan.
Jadwal lima sesi memberi pilihan waktu bagi penonton sejak pagi hingga sore. Berdasarkan informasi penyelenggara, pembelian dan informasi tiket disediakan melalui kanal Lembayung Entertainment. Pertunjukan pada 12 September juga dijadwalkan menggunakan pola lima sesi yang sama.
Angkat Kisah Bubat dalam Bahasa Sunda
Materi pertunjukan Drama Sunda Palagan Bubat mengangkat kisah seputar rencana pernikahan Raja Majapahit Hayam Wuruk dengan Dyah Pitaloka Citraresmi dari Kerajaan Sunda yang kemudian berujung pada konflik di Bubat. Narasi tersebut disampaikan berdasarkan interpretasi yang digunakan dalam karya pementasan.
Bahasa Sunda digunakan sebagai bahasa utama pertunjukan. Pementasan juga memadukan sejumlah unsur seni, antara lain tari klasik, pencak silat, musik, kawih, dan kakawen. Penyelenggara menempatkan pertunjukan tersebut sebagai kegiatan apresiasi budaya yang dapat ditonton pelajar, mahasiswa, guru, maupun masyarakat umum.
Ganjar Mulyanto dijadwalkan memerankan Maharaja Lingga Buana, sedangkan Erni Lestari berperan sebagai Dyah Pitaloka. Keterangan resmi menyebut pementasan dikemas dalam format teater dengan durasi sekitar satu setengah jam untuk setiap sesi.
Dengan lima kali pementasan pada 10 September, Drama Sunda Palagan Bubat menjadi salah satu agenda kebudayaan Jawa Barat yang berlangsung pada hari ini. Jadwal berikutnya telah tercantum pada 12 September di tempat yang sama. (NS/AS)







