lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Cuaca ekstrem Aceh berstatus Siaga pada Sabtu, 12 September 2026, karena berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu berlaku dalam pemantauan potensi cuaca ekstrem tiga harian dan masih tercantum pada pembaruan Sabtu pagi.
Status Aceh meningkat dibanding Jumat, 11 September, ketika wilayah tersebut berada pada kategori Waspada untuk hujan sedang hingga lebat. BMKG juga masih menempatkan Aceh pada kategori Siaga hujan lebat-sangat lebat untuk Minggu, 13 September.
Cuaca Ekstrem Aceh Naik dari Waspada ke Siaga
Peningkatan status cuaca ekstrem Aceh terjadi setelah hujan dengan intensitas tinggi tercatat di wilayah tersebut beberapa hari sebelumnya. Dalam evaluasi cuaca nasional periode 1–9 September, BMKG mencatat curah hujan di Aceh mencapai 108,5 milimeter per hari pada periode 7–9 September.
BMKG dalam prakiraan cuaca Indonesia periode 11–17 September juga menyebut kondisi kering masih dominan di sejumlah wilayah Indonesia pada musim kemarau. Namun, hujan lokal dengan intensitas signifikan tetap dapat terjadi di beberapa daerah. Aceh termasuk wilayah yang perlu mendapat perhatian karena peluang hujan lebat hingga sangat lebat masih tersedia.
Status Siaga tidak berarti seluruh wilayah Aceh akan mengalami hujan dengan intensitas yang sama pada waktu bersamaan. Informasi tersebut menunjukkan adanya potensi cuaca dengan tingkat dampak yang perlu diantisipasi. Masyarakat tetap perlu memantau peringatan dini yang lebih spesifik untuk kabupaten atau kota masing-masing melalui kanal resmi BMKG.
Sejumlah Provinsi Lain Juga Masuk Peringatan BMKG
Selain cuaca ekstrem Aceh, BMKG menetapkan sejumlah provinsi pada kategori Waspada hujan sedang-lebat untuk 12 September. Wilayah tersebut meliputi Bengkulu, Jambi, Papua, Papua Pegunungan, Riau, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Sumatera Utara.
Potensi angin kencang pada hari yang sama tercantum untuk Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Sementara Jawa Barat yang sehari sebelumnya tercatat berpotensi angin kencang tidak lagi memiliki tanda peringatan pada tabel 12 September.
BMKG mengingatkan hujan yang disertai kilat, petir, atau angin kencang dapat menimbulkan dampak seperti pohon dan dahan tumbang, papan reklame roboh, genangan, hingga sambaran petir. Masyarakat disarankan tidak berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh ketika cuaca memburuk.
Di tengah musim kemarau, BMKG juga meminta masyarakat tetap mengantisipasi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan di wilayah yang kondisinya lebih kering. Perbedaan kondisi antardaerah membuat pemantauan informasi cuaca terbaru menjadi penting, terutama karena peringatan dapat berubah mengikuti perkembangan atmosfer. (NS/AS)







