lintaspriangan.com, OPINI. Siapapun yang merasa pernah mengenal Mama Syujai Kudang Pasantren pasti akan mengenali cicitnya yang unik dan nyentrik. Dia adalah Ajengan Ahmad M Indra Wijaya Kusuma. Cicit dari Mama Syujai Kudang Pasantren Tasikmalaya. Saya memanggilnya dengan sebutan Mang Indra sebagai penghormatan atas kiprahnya yang lintas pergaulan.
Makanya kabar wafatnya Mang Indra Wijaya Kusuma, cicit Mama Syujai Kudang Pasantren, Senin, 26 Oktober 2026 menghadirkan duka yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Ada rasa kehilangan ketika seseorang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup kita, kini harus pergi meninggalkan dunia. Bukan sekadar kehilangan sosok, tetapi juga kehilangan teman berbagi cerita, sahabat bertukar pikiran, dan seseorang yang kehadirannya pernah memberi warna dalam perjalanan persahabatan.
Saya mengenang Mang Indra bukan hanya sebagai seseorang yang kini namanya tertulis dalam ucapan belasungkawa, melainkan sebagai sahabat yang pernah hadir dalam ruang kehidupan saya. Persahabatan memiliki caranya sendiri untuk menetap di hati. Kadang tidak membutuhkan pertemuan setiap hari, tidak pula harus selalu diikat oleh percakapan panjang. Cukup pernah berjalan bersama, saling mengenal, dan berbagi sebagian kisah kehidupan, maka hubungan itu akan meninggalkan jejak yang tidak mudah dihapus oleh waktu.
Kini, ketika Mang Indra telah berpulang, kenangan itu terasa berbeda. Hal-hal yang dahulu mungkin tampak sederhana, tiba-tiba menjadi begitu berharga. Kita baru menyadari bahwa kesempatan bertemu, menyapa, bercanda, dan berbincang dengan seorang sahabat ternyata bukan sesuatu yang bisa dimiliki selamanya.
Kematian memang tidak pernah meminta izin kepada manusia. Ia datang tanpa menunggu kita selesai dengan segala urusan, tanpa menunggu semua rencana terlaksana, dan tanpa memberi kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal dengan sempurna. Hari ini kita masih bisa menyebut nama seseorang dalam percakapan, esok hari kita mungkin hanya bisa menyebut namanya dalam doa.
Di situlah kematian mengajarkan sebuah pelajaran yang kerap kita lupakan: manusia boleh merencanakan perjalanan panjang, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui di mana perjalanan itu akan berakhir.
Dalam pandangan tasawuf, kematian bukan semata-mata perpisahan jasad dengan kehidupan dunia. Ia adalah pintu kepulangan, saat segala yang selama ini kita genggam harus dilepaskan. Jabatan, kekayaan, popularitas, dan kebanggaan duniawi tidak ikut masuk ke liang lahat. Yang tinggal adalah amal, jejak kebaikan, serta doa-doa tulus dari orang-orang yang pernah disentuh oleh kehadiran kita.
Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam mengingatkan manusia agar tidak menggantungkan hati secara berlebihan kepada sesuatu yang fana. Bukan berarti kita dilarang mencintai sahabat atau bersedih ketika kehilangan. Justru cinta dan persahabatan adalah bagian dari kemanusiaan yang patut dirawat. Namun, kita perlu menyadari bahwa setiap pertemuan di dunia berada dalam batas waktu yang telah ditentukan Allah.
Kita mencintai sahabat, tetapi kita tidak memilikinya untuk selamanya. Kita bisa menemani seseorang dalam sebagian perjalanan hidupnya, tetapi tidak selalu dapat mengantarkannya sampai ke ujung usia. Pada akhirnya, setiap manusia menempuh jalan kepulangannya sendiri.
Mang Indra, kepergianmu menjadi pengingat bagi saya bahwa usia bukan sekadar angka yang terus bertambah. Usia adalah kesempatan yang perlahan berkurang. Kita sering sibuk menghitung hari, merancang masa depan, dan mengejar berbagai keinginan, tetapi lupa menghitung berapa banyak kesempatan yang telah kita gunakan untuk berbuat baik kepada sesama.
Barangkali selama hidup, ada kata yang belum sempat terucap, ada pertemuan yang belum terlaksana, atau ada cerita yang belum selesai dibagikan. Kini, semua itu menjadi bagian dari kenangan. Namun, persahabatan tidak harus berakhir ketika salah seorang sahabat telah meninggalkan dunia. Ia dapat terus hidup dalam doa, dalam kebaikan yang diteruskan, dan dalam kenangan yang membuat kita menjadi manusia yang lebih bijaksana.
Saya percaya, salah satu bentuk cinta yang masih bisa kita berikan kepada orang yang telah wafat adalah mendoakannya dengan tulus. Sebab, ketika tangan tak lagi mampu menjabat, ketika suara tak lagi bisa menyapa, doa tetap menemukan jalannya menuju hadirat Allah.
Selamat jalan, Mang Indra.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilafmu, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan alam kuburmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah menganugerahkan kesabaran dan keikhlasan dalam menghadapi takdir-Nya.
Bagi saya, kepergianmu bukan hanya kabar duka. Ia adalah cermin yang mengajak saya menengok kembali perjalanan hidup: sudahkah persahabatan dijaga dengan ketulusan, sudahkah kebaikan diberikan tanpa pamrih, dan sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapi kepulangan yang pasti?
Sebab, pada akhirnya, kita semua sedang berjalan menuju pintu yang sama. Hanya waktu dan cara kepulangan kita yang berbeda.
Hari ini, Mang Indra telah mendahului. Esok atau lusa, entah siapa yang akan menyusul. Maka, sebelum nama kita kelak dibacakan dalam berita duka, semoga kita sempat meninggalkan kebaikan yang membuat orang lain mengenang kita dengan doa, bukan sekadar air mata.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Dari Allah kita berasal, kepada-Nya kita kembali. Dan di antara dua kepulangan itu, semoga persahabatan, kasih sayang, serta amal kebaikan menjadi bekal yang menerangi perjalanan kita menuju keabadian. (Bang Sufi)
(AA)







