lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026, menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga Indonesia tidak pernah berhenti dari satu generasi ke generasi berikutnya. Yang berubah adalah bentuk perjuangannya. Jika dahulu generasi muda ikut mempertahankan bangsa dengan keberanian, pengorbanan, bahkan darah, generasi hari ini menghadapi medan perjuangan yang berbeda.
Kepala Bidang Politik Dalam Negeri Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Provinsi Jawa Barat, Ruliadi, memandang salah satu bentuk perjuangan generasi muda hari ini adalah memiliki kesadaran politik yang cukup. Bukan sekadar datang ke tempat pemungutan suara ketika pemilu tiba, tetapi memahami hak dan tanggung jawab sebagai warga negara, mampu menilai informasi politik secara jernih, serta menyadari bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi terhadap masa depan bangsa.
Perjuangan Berganti Medan
Menurut Ruliadi, setiap generasi mempunyai tantangan zamannya sendiri. Karena itu, cara mencintai dan menjaga Indonesia tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang sama.
“Dulu pemuda menjaga Indonesia dengan darah dan perjuangan. Hari ini kita tidak sedang diminta mengangkat senjata. Salah satu cara generasi muda menjaga Indonesia sekarang adalah dengan memiliki kesadaran politik yang baik,” ujar Ruliadi.
Kesadaran politik itu tidak berarti semua anak muda harus masuk partai politik atau terlibat dalam politik praktis. Jauh sebelum itu, mereka perlu memahami bagaimana negara bekerja, bagaimana kebijakan publik dibuat, bagaimana hak warga negara digunakan, serta bagaimana keputusan politik pada akhirnya memengaruhi kehidupan masyarakat.
Di titik inilah pendidikan politik menjadi penting. Generasi muda yang mempunyai pengetahuan cukup akan memiliki ruang lebih luas untuk menilai informasi, mengenali kepentingan, memahami perbedaan, dan menentukan sikap secara rasional.
“Anak muda jangan hanya menjadi penonton. Tetapi ketika ikut masuk dalam kehidupan demokrasi, masuklah dengan pengetahuan. Jangan mudah ikut arus, jangan mudah terprovokasi, dan jangan menyerahkan pilihan kepada orang lain tanpa memahami apa yang sedang diperjuangkan,” katanya.
Pendidikan politik generasi muda sendiri menjadi bagian dari perhatian Bidang Politik Dalam Negeri Bakesbangpol Jawa Barat. Pada 3 September 2026, dalam kegiatan Konsolidasi Demokrasi di Kabupaten Bandung, Ruliadi juga menekankan perlunya evaluasi demokrasi berbasis data sebagai dasar memperkuat kualitas demokrasi Jawa Barat.
Dalam forum yang sama, skor Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Jawa Barat tahun 2025 tercatat 80,86, berada di atas rata-rata nasional 78,19. Penguatan partisipasi masyarakat dan pendidikan politik tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi menuju Pemilu 2029.
Pancasila Menjadi Pegangan di Ruang Digital
Menurut Ruliadi, tantangan pendidikan politik hari ini menjadi semakin kompleks karena sebagian besar percakapan publik tidak lagi hanya berlangsung dalam ruang pertemuan, kampus, organisasi, atau forum politik. Demokrasi juga bergerak sangat cepat di ruang digital.
Media sosial telah menjadi tempat masyarakat menerima informasi, membentuk pandangan, berdiskusi, bahkan menentukan sikap terhadap suatu persoalan politik. Bagi generasi muda, ruang digital bahkan telah menjadi salah satu ruang utama untuk mengenal isu-isu publik.
Kondisi itu membawa peluang sekaligus tantangan.
Pada kegiatan Konsolidasi Demokrasi di Kabupaten Bandung, 3 September 2026, KPU dan Bawaslu Jawa Barat juga menyoroti perubahan ruang digital sebagai salah satu tantangan menuju Pemilu 2029. Algoritma media sosial dapat memengaruhi arus informasi yang diterima masyarakat, sementara kemampuan membedakan informasi yang valid dan tidak valid belum selalu sama pada setiap orang.
Bagi Ruliadi, karena itu kesadaran politik generasi muda pada era digital tidak cukup hanya diukur dari seberapa aktif seseorang mengikuti isu politik di media sosial.
“Media sosial memberi anak muda akses luar biasa terhadap informasi. Tetapi banyaknya informasi bukan berarti semuanya benar. Kesadaran politik hari ini juga berarti kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa sumber, membedakan fakta dengan opini, dan tidak terburu-buru membagikan sesuatu hanya karena sesuai dengan apa yang kita sukai,” ujarnya.
Ia menilai ruang digital seharusnya menjadi tempat generasi muda memperluas wawasan, bukan justru mempersempit pandangan karena hanya mau mendengar kelompok yang sejalan.
Perbedaan pilihan dan pandangan merupakan sesuatu yang wajar dalam demokrasi. Namun media sosial sering membuat perbedaan itu terasa lebih tajam karena percakapan berlangsung cepat, singkat, dan mudah terbawa emosi.
Karena itu, etika juga harus menjadi bagian dari literasi politik digital.
“Kita boleh berbeda pandangan politik. Tetapi jangan sampai media sosial mengubah perbedaan itu menjadi permusuhan. Jangan mudah menghina, memberi label kepada orang lain, atau menyebarkan informasi yang belum kita ketahui kebenarannya. Kebebasan berbicara harus tetap berjalan bersama tanggung jawab,” katanya.
Di sinilah, menurut Ruliadi, Hari Kesaktian Pancasila menemukan relevansinya bagi anak muda masa kini.
Pancasila tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan sejarah bangsa, tetapi juga dapat menjadi pegangan ketika generasi muda menghadapi derasnya informasi, perbedaan pandangan, serta dinamika politik di ruang digital.
“Boleh berbeda pilihan, boleh berbeda pandangan, bahkan perdebatan dalam demokrasi itu sesuatu yang wajar. Tetapi jangan sampai karena berbeda politik kemudian kita kehilangan persaudaraan dan melupakan Indonesia. Pancasila mengingatkan bahwa di atas semua perbedaan itu ada kepentingan bangsa yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.
Karena itu, pendidikan politik menurut Ruliadi tidak semestinya baru ramai ketika tahapan pemilu dimulai atau ketika baliho mulai terpasang. Pendidikan politik justru perlu dibangun jauh sebelumnya, termasuk melalui ruang-ruang digital tempat generasi muda menjalani sebagian kehidupan sehari-harinya.
Anak muda harus diberi kesempatan belajar, bertanya, berdiskusi, menguji informasi, dan membentuk pandangan politik secara matang.
“Negara ini kelak akan berada di tangan mereka. Kalau dahulu generasi muda mewarisi Indonesia melalui perjuangan para pendahulunya, hari ini tugas kita memastikan generasi berikutnya menerima Indonesia dari tangan anak-anak muda yang paham politik, cerdas di ruang digital, mencintai bangsanya, dan tetap berpegang pada Pancasila,” pungkas Ruliadi. (NS/AS)







