lintaspriangan.com, BERITA DUNIA. Harga minyak dunia naik pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026, ketika perundingan Amerika Serikat dan Iran mengenai kesepakatan damai serta pembukaan kembali Selat Hormuz menemui kebuntuan. Minyak mentah Brent bergerak ke US$88,09 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik ke US$82,52 per barel.
Kedua kontrak itu mencapai level tertinggi sejak 31 Juli setelah sebelumnya melonjak sekitar 5 persen pada Senin. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar kembali memasukkan risiko gangguan pasokan setelah prospek kesepakatan yang dapat memperlancar kembali pengiriman minyak melalui Hormuz meredup.
Tuntutan Baru Membayangi Pembukaan Selat Hormuz
Kebuntuan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Senin merespons persyaratan Iran dengan tuntutan tambahan. Trump antara lain meminta Iran membayar kompensasi terkait korban dalam perang, serangan, dan aksi protes. Perkembangan itu dinilai dapat memperumit upaya mencapai kesepakatan mengenai penghentian konflik dan pembukaan kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Dari pihak Iran, Presiden Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan negaranya tetap membuka ruang diplomasi, tetapi tidak akan menerima tekanan yang menurut Tehran mengurangi kemampuan pertahanannya. Dalam pernyataan yang dipublikasikan pemerintah Iran, Pezeshkian mengatakan persoalan Selat Hormuz termasuk dalam pembicaraan diplomatik. Iran, menurut dia, telah bersedia mengizinkan kapal melintas berdasarkan ketentuannya, sementara pihak lain juga diharapkan memenuhi komitmennya.
Ketidakpastian tersebut kembali menjadi penopang harga minyak dunia karena Hormuz merupakan jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.
Badan Energi Internasional atau IEA pada 22 Juni mencatat arus minyak melalui Selat Hormuz merosot dari sekitar 20 juta barel per hari sebelum konflik menjadi rata-rata 2,7 juta barel per hari selama Maret hingga Mei. IEA menyebut gangguan tersebut sebagai gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi.
Pasar Energi Masih Sensitif terhadap Perkembangan Diplomasi
Dampak gangguan Hormuz telah mendorong produsen dan konsumen mencari jalur serta sumber pasokan alternatif. IEA mencatat Arab Saudi meningkatkan pengiriman melalui jalur menuju Laut Merah, sementara Uni Emirat Arab memanfaatkan jaringan pipa yang menghubungkan pusat produksi Habshan dengan Fujairah sehingga sebagian ekspor dapat melewati Hormuz.
IEA juga mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak darurat dalam skala terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut sebagai respons terhadap krisis energi. Hingga pembaruan 31 Juli, lembaga itu masih menyebut konflik Timur Tengah telah memperketat pasokan dan memberi tekanan kepada konsumen serta perekonomian di berbagai negara.
Karena itu, perkembangan diplomasi AS-Iran tetap menjadi salah satu faktor utama yang dipantau pasar. Selama kepastian mengenai arus pelayaran melalui Hormuz belum tercapai, harga minyak dunia berpotensi tetap sensitif terhadap setiap pernyataan baru dari Washington maupun Tehran.
Kenaikan harga energi juga mendapat perhatian menjelang rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat untuk Juli. Kenaikan biaya bahan bakar yang bertahan dapat menambah tekanan inflasi dan turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah suku bunga Federal Reserve. (NS/AS)







