lintaspriangan.com, BERITA GARUT. BPBD Kabupaten Garut telah menyalurkan 125.000 liter air bersih ke delapan desa/kelurahan di enam kecamatan yang terdampak kekeringan. Perkembangan krisis air Garut itu diumumkan Pemerintah Kabupaten Garut pada Rabu, 12 Agustus 2026, saat daerah tersebut berstatus siaga bencana kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan.
Enam kecamatan yang telah menerima distribusi air adalah Tarogong Kaler, Pasirwangi, Cigedug, Cibatu, Sucinaraja, dan Karangpawitan. Pemkab Garut juga mengajukan bantuan pembangunan 100 titik sumur bor serta tambahan armada mobil tangki air kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk kebutuhan jangka lebih panjang.
Garut Berstatus Siaga hingga 30 September
Penanganan krisis air Garut berjalan bersamaan dengan antisipasi kebakaran selama musim kemarau. Pemkab telah menetapkan status Siaga Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan 2026 yang berlaku sejak 1 Juli hingga 30 September 2026.
Berdasarkan laporan BPBD yang dipublikasikan Pemkab pada 12 Agustus, tercatat 303 kejadian kebakaran hutan dan lahan. Sebanyak 285 kejadian disebut telah ditangani, sementara 18 lainnya masih dalam pengawasan. Dari catatan tersebut, Pemkab menyebut 135 kejadian merupakan kebakaran lahan yang berkaitan dengan dampak musim kemarau.
Kawasan Gunung Guntur menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian. Bupati Garut Abdusy Syakur Amin menyebut lima kebakaran terjadi di kawasan tersebut sepanjang Juli 2026 dengan luas lahan terbakar sekitar 13 hektare. Seluruh kejadian itu telah ditangani.
Pemkab juga berencana menerbitkan surat edaran yang mengimbau masyarakat tidak membakar lahan sembarangan. Langkah itu dibahas dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Kabupaten Garut pada Selasa, 11 Agustus 2026.
98 Pompa Air Disiapkan untuk Pertanian
Selain distribusi air bersih untuk warga, pemerintah daerah telah membagikan 98 unit pompa untuk menjaga ketersediaan air di sektor pertanian. Bantuan pompa dari Kodim juga disiagakan apabila persawahan mengalami kekurangan air. Hingga laporan 12 Agustus, Pemkab menyatakan dampak kebakaran belum merembet ke lahan pangan produktif.
Antisipasi krisis air Garut berlangsung ketika sebagian besar Jawa memasuki periode puncak musim kemarau. BMKG memprediksi puncak kemarau pada Agustus 2026 terjadi di sebagian besar Jawa dan sejumlah wilayah Indonesia lainnya. Musim kemarau 2026 juga diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normal.
BMKG merekomendasikan peningkatan kesiapsiagaan terhadap kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, termasuk menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat dan sektor pangan.
Meski jumlah kejadian kebakaran meningkat dan distribusi air sudah dilakukan di enam kecamatan, BPBD Garut menyatakan penanganan masih berjalan dalam status siaga dan belum dinaikkan menjadi status tanggap darurat hingga informasi resmi yang dipublikasikan pada 12 Agustus 2026. (NS/AS)







