lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Pernikahan Kiai Kuningan menjadi sorotan publik setelah sebuah video prosesi akad dan resepsi beredar luas di media sosial. Dalam video itu, seorang kiai tampak duduk di pelaminan dengan dua perempuan yang disebut sebagai istri pertama dan istri kedua.
Peristiwa itu terjadi di Desa Gandasoli, Kecamatan Kramatmulya, Kabupaten Kuningan. Sosok mempelai pria diketahui sebagai Kiai Dede Nadif Ar-Rasyid, pimpinan Pondok Pesantren Raudhatul Ummah. Ia menikah dengan Syifa Sri Wahyuni, perempuan yang disebut sebagai alumni santri di pesantren tersebut.
Istri Pertama Ikut Dampingi Suami di Pelaminan
Video Pernikahan Kiai Kuningan itu cepat menarik perhatian karena menampilkan suasana yang tidak biasa. Dua perempuan tampak mendampingi mempelai pria di pelaminan. Keduanya mengenakan busana pengantin bernuansa putih dan riasan adat Sunda.
Berdasarkan keterangan pengurus Pondok Pesantren Raudhatul Ummah, Solehudin, pernikahan tersebut berlangsung pada 6 Juni 2026. Ia membenarkan bahwa perempuan yang turut mendampingi di pelaminan adalah istri pertama Kiai Dede. Adapun perempuan yang dinikahi sebagai istri kedua adalah Syifa Sri Wahyuni.
Solehudin menyebut, rencana pernikahan kedua itu bukan muncul mendadak. Menurutnya, keinginan mencarikan pendamping kedua untuk sang kiai sudah direncanakan sekitar tiga tahun lalu. Bahkan, ide tersebut disebut datang dari istri pertama.
Dalam pemberitaan detikJabar, Solehudin menjelaskan bahwa istri pertama sebelumnya sempat mencari calon istri kedua ke sejumlah daerah dan lingkungan pesantren, termasuk Tasik, Ciamis, hingga Cikijing. Namun, calon yang dinilai sesuai baru ditemukan pada 2026.
Narasi yang membuat video itu makin viral adalah keterangan bahwa pernikahan tersebut menjadi semacam hadiah ulang tahun untuk sang kiai. Kiai Dede disebut lahir pada 1 Juni, sementara pernikahan keduanya berlangsung pada 6 Juni 2026. Tanggal itu juga disebut bertepatan dengan momen ulang tahun pernikahan pertama yang ke-16 tahun.
Disebut untuk Membantu Dakwah dan Mengurus Pesantren
Solehudin menegaskan, tidak ada unsur paksaan dalam Pernikahan Kiai Kuningan tersebut. Ia menyebut istri pertama memberikan izin secara sukarela. Dari pernikahan pertama, Kiai Dede dan istri pertamanya telah dikaruniai enam anak.
Pihak pesantren juga menyampaikan bahwa Syifa Sri Wahyuni merupakan alumni Pondok Pesantren Raudhatul Ummah. Karena berasal dari lingkungan pesantren, ia disebut dianggap memiliki visi yang sejalan dalam kegiatan pendidikan dan dakwah.
Menurut Solehudin, tujuan pernikahan kedua itu berkaitan dengan kebutuhan membantu dakwah, pengelolaan pondok, santri, dan umat. Ia menyebut jumlah santri semakin banyak sehingga dibutuhkan dukungan dalam mengurus pesantren.
Meski demikian, viralnya video dua istri duduk di pelaminan tetap memantik beragam reaksi publik. Sebagian warganet menyoroti keikhlasan istri pertama. Sebagian lain mempertanyakan sisi sosial dari peristiwa tersebut, terutama karena isu poligami selalu menjadi ruang perdebatan yang sensitif di tengah masyarakat.
Di Kuningan, video ini bukan hanya ramai karena prosesi pernikahannya. Ia menjadi perhatian karena membawa banyak lapisan sekaligus: figur kiai, lingkungan pesantren, istri pertama yang mendampingi, serta istri kedua yang disebut sebagai alumni santri.
Karena itu, Pernikahan Kiai Kuningan tersebut tidak berhenti sebagai kabar viral biasa. Ia berubah menjadi percakapan publik tentang rumah tangga, keikhlasan, dakwah, dan batas pandang masyarakat terhadap praktik poligami. Urusan keluarga memang sering sunyi di dalam rumah, tetapi kalau sudah masuk media sosial, suaranya bisa lebih ramai dari toa pengajian malam Jumat. (AM/AS)






















