lintaspriangan.com, OPINI. Polemik yang menyeret Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akibat unggahan visual Hari Lahir Pancasila menjadi pengingat penting tentang penggunaan kecerdasan artifisial (AI) di lingkungan lembaga publik. Penggunaan AI memang sangat memudahkan dari berbagai aspek, namun penggunaan yang serampangan seharusnya dihindari.
Perdebatan yang muncul bukan semata soal desain poster atau kesalahan visual pada lambang negara, melainkan menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana lembaga yang identik dengan riset dan inovasi bisa luput pada tahapan verifikasi yang paling sederhana.
Kesalahan pada sebuah poster mungkin terdengar sepele dibandingkan tugas-tugas besar yang selama ini melekat pada BRIN. Namun justru karena persoalannya sederhana, publik menaruh perhatian lebih besar.
Sebab, jika kesalahan yang relatif mudah dicegah masih bisa lolos ke ruang publik, muncul pertanyaan mengenai disiplin pemeriksaan yang diterapkan dalam proses kerja lembaga tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak otomatis menjamin meningkatnya ketelitian. AI memang mampu mempercepat produksi konten, menghasilkan visual menarik, dan mempermudah pekerjaan komunikasi publik. Akan tetapi, kecepatan tanpa pengawasan justru dapat melahirkan kesalahan yang menyebar luas dalam hitungan menit.

Ketika Lembaga Riset Kehilangan Ketelitian Dasar
Sebagai lembaga yang menaungi berbagai bidang strategis, mulai dari penelitian ilmiah, teknologi, antariksa hingga ketenaganukliran, BRIN memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan dalam pemanfaatan teknologi.
Karena itu, kritik yang muncul bukan karena masyarakat anti terhadap AI, melainkan karena publik berharap standar kehati-hatian yang lebih tinggi dari institusi tersebut.
Riset pada dasarnya bukan hanya dilakukan di laboratorium atau ruang seminar ilmiah. Riset juga berarti memeriksa ulang, menguji akurasi, membandingkan data, dan memastikan setiap informasi yang dipublikasikan telah melalui proses validasi yang memadai.
Dalam konteks komunikasi publik, ketelitian menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kredibilitas lembaga. Sebuah unggahan resmi membawa identitas institusi dan menjadi representasi cara kerja organisasi di mata masyarakat.
Ketika kesalahan muncul pada simbol negara yang memiliki nilai historis dan filosofis tinggi, perhatian publik tentu tidak dapat dihindari.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan terbesar dalam penggunaan AI bukanlah kemampuan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana manusia mengelola dan mengawasinya. Sebab, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.
AI bisa membuat gambar tampak megah. Warnanya bisa dibuat gagah. Komposisinya bisa terlihat resmi. Dalam beberapa detik, mesin bisa menghasilkan visual yang sekilas membuat orang berkata, “Wah, keren juga.”
Tetapi AI tidak otomatis paham marwah simbol negara.
AI tidak otomatis tahu bahwa Garuda Pancasila bukan burung hias. Ia tidak otomatis mengerti bahwa jumlah bulu Garuda bukan ornamen bebas seperti motif batik di spanduk hajatan. Ada angka. Ada sejarah. Ada lambang kemerdekaan. Ada pesan kebangsaan yang tidak boleh diperlakukan seperti aksesori desain.
Di sinilah manusia seharusnya bekerja. Mesin boleh membantu membuat visual, tetapi manusia wajib menjadi penjaga akhir. Bukan sebaliknya: mesin bekerja, manusia percaya, lalu publik yang memeriksa.
Kalau visual Garuda diduga dibuat dengan bantuan AI, seharusnya pertanyaan pertama bukan “bagus atau tidak”, melainkan “benar atau tidak”. Sayapnya sesuai atau tidak. Ekornya tepat atau tidak. Perisainya benar atau tidak. Simbolnya utuh atau tidak. Ini bukan soal selera desain. Ini soal akurasi lambang negara.
Sayangnya, dalam kasus ini, kesan yang muncul justru sebaliknya. AI seperti diberi panggung, sementara verifikasi seperti diminta duduk di belakang. Begitu tayang dan gaduh, barulah lembaga sibuk menjelaskan bahwa ada ketidakcermatan.
Padahal, ketidakcermatan pada lembaga riset nasional bukan perkara kecil. Itu seperti tukang kunci lupa mengunci pintu. Seperti dokter lupa cuci tangan. Seperti guru matematika salah menjumlah uang kas kelas. Tidak membuat dunia runtuh, tetapi cukup membuat orang bertanya: ini tadi diperiksa siapa?
Selanjutnya –> Untung Bukan Nuklir
























