Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

lintaspriangan.com,ย OPINI. Perguruan tinggi bukan sekadar tempat seseorang mengejar gelar akademik. Ia adalah ruang pembentukan ilmu, karakter, nalar, etika, dan kepemimpinan. Dari ruang inilah lahir calon-calon profesional, birokrat, pendidik, pengusaha, pemimpin masyarakat, bahkan pengambil kebijakan publik di masa depan.

Karena itu, proses masuk ke perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebagai urusan administratif semata. Penerimaan mahasiswa baru adalah pintu awal yang menentukan marwah dunia akademik. Bila pintu itu dijaga dengan kejujuran, maka kampus akan melahirkan manusia yang percaya pada kemampuan diri. Namun bila pintu itu dibuka oleh titipan, tekanan, kedekatan, atau bantuan orang dalam, maka sejak langkah pertama nilai pendidikan sudah mulai dilukai.

Slogan โ€œNatural Tanpa Ordalโ€ lahir dari kesadaran sederhana, tetapi sangat mendasar: keberhasilan akademik seharusnya ditempuh melalui kemampuan, kerja keras, kesiapan mental, dan prestasi. Bukan melalui jalan belakang. Bukan karena bisikan pihak tertentu. Bukan pula karena akses khusus yang membuat sebagian orang merasa memiliki jalur lebih dekat menuju bangku kuliah.

Seruan ini bukan untuk menyerang siapa pun. Ini adalah ajakan moral untuk semua pihak, baik yang terlibat langsung dalam sistem pendidikan maupun yang berada di luar sistem. Untuk calon mahasiswa, orang tua, penyelenggara pendidikan, pejabat publik, tokoh masyarakat, alumni, hingga siapa pun yang memiliki pengaruh sosial. Sebab integritas akademik tidak hanya dijaga oleh aturan, tetapi juga oleh kesadaran bersama.

Kita perlu jujur melihat kenyataan. Dalam kehidupan sosial, istilah โ€œordalโ€ atau orang dalam sering dianggap sebagai hal biasa. Bahkan dalam banyak percakapan, ia kadang dibungkus sebagai strategi, peluang, atau bantuan. Padahal, ketika orang dalam digunakan untuk memotong proses, menekan sistem, atau membuka akses yang tidak semestinya, di situlah masalah etik dimulai.

Relasi sosial tentu tidak salah. Silaturahmi tidak salah. Mengenal banyak orang juga bukan dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika kedekatan berubah menjadi alat untuk memperoleh hak yang seharusnya diperebutkan secara adil. Ketika koneksi mengalahkan kompetensi, ketika privilese menggeser prestasi, dan ketika titipan dianggap lebih kuat daripada kemampuan, maka dunia pendidikan sedang kehilangan salah satu fondasi utamanya: kejujuran.

Budaya ordal yang disalahgunakan dapat membuka ruang bagi banyak persoalan serius. Ia bisa menjadi pintu masuk gratifikasi, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, dan intervensi terhadap proses seleksi. Lebih jauh dari itu, ia dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

Kepercayaan publik adalah modal besar perguruan tinggi. Kampus tidak hanya dinilai dari gedung, akreditasi, fasilitas, atau jumlah mahasiswanya. Kampus juga dinilai dari keyakinan masyarakat bahwa proses di dalamnya berlangsung adil. Sekali kepercayaan itu retak, maka yang rusak bukan hanya citra lembaga, tetapi juga kehormatan dunia akademik itu sendiri.

Masuk perguruan tinggi melalui cara yang tidak semestinya mungkin terlihat seperti kemenangan kecil. Tetapi sebenarnya, itu adalah kekalahan moral yang panjang. Seseorang mungkin mendapatkan kursi, tetapi kehilangan kesempatan untuk membangun kebanggaan sejati. Ia mungkin tercatat sebagai mahasiswa, tetapi sejak awal telah dibebani oleh kenyataan bahwa keberhasilannya bukan sepenuhnya lahir dari kemampuan sendiri.

Sebaliknya, mereka yang diterima secara murni melalui proses yang adil akan membawa rasa percaya diri yang berbeda. Ada harga diri yang tumbuh dari perjuangan. Ada tanggung jawab yang lahir dari proses. Ada kebanggaan yang tidak perlu disembunyikan. Mereka masuk bukan karena ditarik oleh tangan tersembunyi, tetapi karena berdiri di atas usaha sendiri.

Di sinilah pentingnya membangun imunitas akademik. Imunitas akademik adalah daya tahan moral dunia pendidikan untuk menolak segala bentuk gratifikasi, titipan, nepotisme, intervensi, dan praktik tidak etis lainnya. Ia bukan hanya soal sistem seleksi yang rapi, tetapi juga soal keberanian moral untuk mengatakan tidak pada cara-cara yang mencederai keadilan.

Imunitas akademik harus dibangun sejak hulu. Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa keberhasilan anak tidak boleh dibeli dengan cara yang merusak nilai. Calon mahasiswa perlu dididik untuk percaya pada proses, bukan mencari celah. Penyelenggara pendidikan wajib menjaga objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Sementara masyarakat perlu berhenti menormalisasi anggapan bahwa semua urusan hanya bisa selesai jika memiliki orang dalam.

Inilah tantangan kita bersama. Kadang yang merusak sistem bukan hanya orang yang meminta bantuan, tetapi juga orang yang merasa bangga karena bisa โ€œmembantuโ€ melompati prosedur. Kadang yang melemahkan integritas bukan hanya penerima titipan, tetapi juga lingkungan sosial yang menganggap titipan sebagai hal lumrah.

Padahal, pendidikan yang bermartabat tidak boleh dimulai dari kompromi yang keliru. Kampus adalah tempat menanamkan nilai, bukan tempat pertama kali seseorang belajar bahwa kedekatan bisa mengalahkan aturan. Bila sejak awal mahasiswa diperkenalkan pada cara-cara tidak jujur, bagaimana mungkin kita berharap kelak ia menjadi pemimpin yang lurus?

Natural Tanpa Ordal bukan sekadar slogan. Ini adalah gerakan kesadaran. Gerakan untuk mengembalikan kepercayaan bahwa bangku kuliah harus diperoleh melalui prestasi, bukan privilese; melalui kompetensi, bukan koneksi; melalui integritas, bukan gratifikasi.

Seruan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga marwah perguruan tinggi bukan hanya tugas kampus. Ini adalah tanggung jawab kolektif. Setiap orang yang menolak titipan sedang ikut menjaga masa depan pendidikan. Setiap orang yang menolak intervensi sedang ikut merawat keadilan. Setiap orang yang memilih jalur jujur sedang ikut membangun generasi yang lebih kuat secara moral.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari siapa yang berhasil masuk, tetapi juga dari bagaimana ia masuk. Sebab proses yang jujur akan melahirkan kebanggaan. Proses yang adil akan menumbuhkan kepercayaan. Dan proses yang bersih akan menjadi fondasi bagi lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Pendidikan yang bermartabat selalu dimulai dari pintu yang dijaga dengan kejujuran. Bila pintu itu bersih, maka harapan yang masuk ke dalamnya pun akan tumbuh dengan lebih terhormat.


Roni Imroni, S.Sos., M.M.
Kepala Bidang IKP Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya

Satpol PP Kota Tasikmalaya

Kasatpol PP Kota Tasikmalaya: Menjaga Ketertiban Itu Amanat Pancasila

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.ย Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026, menjadi pengingat bahwa nilai-nilai Pancasila tidak hanya hidup dalam upacara dan pidato. Dalam kehidupan kota...

JEJAK HEROIK JABAR

Membuka Jejak Pejuang Tionghoa di Cirebon

lintaspriangan.com,ย JEJAK HEROIK JABAR. Ada satu kalimat pendek dalam arsip...

Taktik Buaya Mangap Pejuang Cirebon Bikin Belanda Kocar-kacir

lintaspriangan.com,ย JEJAK HEROIK JABAR. Jembatan-jembatan menuju Bantarjati tampak seperti sedang...

Selama 5 Bulan, Markas Belanda Digempur Pejuang Cikatomas

lintaspriangan.com,ย JEJAK HEROIK JABAR. Ketika malam turun di wilayah selatan...

Pesantren Langkaplancar yang Berubah Menjadi Markas Laskar

lintaspriangan.com,ย JEJAK HEROIK JABAR. Jauh dari pantai yang kini menjadi...

Dari Perlindungan 1947 hingga Harmony Award 2025

lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Bensin telah diletakkan di dekat rumah-rumah warga...

PRIANGAN TIMUR

Ade Hendar: Generasi Muda yang Hebat Bukan Ditakuti di Jalan, tapi Berguna bagi Lingkungan

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.ย Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026,...

Kasatpol PP Kota Tasikmalaya: Menjaga Ketertiban Itu Amanat Pancasila

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA.ย Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober 2026,...

Kepala Kesbangpol Ciamis: Ormas Mengajarkan Bangsa Ini Arti Persatuan

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober...

Data Stunting Ciamis Berbeda, Pemkab Sebut Survei 20,23 Persen dan Pendataan Daerah 4,4 Persen

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Data stunting Ciamis menjadi perhatian Pemerintah...

Polisi Dalami Dugaan Perundungan SMAN 3 Tasikmalaya, Enam Siswa Senior Diduga Terlibat

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Polisi mendalami dugaan perundungan SMAN 3...

JAWA BARAT

Ribuan Rokok Ilegal Beredar di Cianjur, 7.000 Batang Disita dari Tiga Kecamatan

lintaspriangan.com, BERITA CIANJUR. Peredaran rokok ilegal di Kabupaten Cianjur...

Ruliadi: Dulu Pemuda Menjaga Indonesia dengan Darah, Hari Ini dengan Kesadaran Politik

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Momentum Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober...

PMI Asal Majalengka Pulang dari Yordania Bersama Lima Anak, Pemkab Siapkan Pendampingan

lintaspriangan.com, BERITA MAJALENGKA. Seorang PMI asal Majalengka yang bekerja...

Virtual Job Fair Bandung Buka 359 Lowongan dari Enam Perusahaan

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketenagakerjaan...

Revitalisasi Pasar Ciroyom Siapkan 1.045 Ruang Dagang, Pedagang Minta Kepastian Harga

lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Perumda Pasar Juara Kota Bandung menyiapkan...

Kebakaran TPA Cikundul Belum Padam, 400 Personel Dikerahkan

lintaspriangan.com, BERITA SUKABUMI. Kebakaran TPA Cikundul Sukabumi belum sepenuhnya...

Layanan RSUD Kabupaten Bekasi Kembali Normal Usai Kebakaran Panel Listrik

lintaspriangan.com, BERITA BEKASI. Pelayanan RSUD Kabupaten Bekasi kembali berjalan...

Kasus Lapas Cibinong Masuk DPR, 13 Rumah Dinas Belum Tercatat sebagai Aset Negara

lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL.โ€“ Kasus Lapas Cibinong memasuki babak baru...

Olahraga

Popular Categories