Ketika Lembaga Sekelas BRIN Serampangan Pakai AI

Untung Bukan Nuklir

Kalimat “untung bukan nuklir” memang terdengar nyeleneh. Tetapi justru di sanalah kritiknya berdenyut. BRIN bukan hanya dekat dengan AI. Dalam mandat besarnya, BRIN juga beririsan dengan bidang-bidang yang memerlukan ketelitian ekstrem. Nuklir, antariksa, riset teknologi, keamanan siber, inovasi nasional—semuanya menuntut standar verifikasi yang tidak boleh longgar.

Maka ketika kesalahan terjadi pada poster, publik tidak sedang membesar-besarkan perkara kecil. Publik sedang melihat gejala. Kalau pada urusan yang tampak sederhana saja pagar pengecekannya bisa bolong, bagaimana standar kehati-hatian itu diterapkan dalam urusan yang lebih kompleks?

Tentu tidak adil menyamakan poster dengan reaktor. Tetapi justru karena ini hanya poster, kesalahannya terasa lebih mudah dicegah. Tidak perlu laboratorium canggih untuk menghitung bulu Garuda. Tidak perlu superkomputer untuk membuka rujukan lambang negara. Tidak perlu rapat lintas deputi untuk bertanya, “Ini sudah benar belum?”
Yang dibutuhkan hanya satu hal: disiplin verifikasi.

Dan disiplin itulah yang seharusnya menjadi napas lembaga riset. Bukan pelengkap. Bukan formalitas. Bukan sesuatu yang baru muncul setelah warganet ramai-ramai mengetuk pintu.

AI Bukan Pengganti Tanggung Jawab

Kecerdasan artifisial mampu menghasilkan gambar yang tampak meyakinkan dalam waktu singkat. Warna, komposisi, hingga detail visual dapat dibuat menyerupai karya profesional. Namun AI tidak memiliki pemahaman tentang nilai-nilai kebangsaan, simbol negara, maupun sensitivitas sosial yang melekat pada suatu objek.

Teknologi hanya bekerja berdasarkan pola dan data yang dipelajari. Ia tidak memahami makna filosofis Garuda Pancasila sebagaimana dipahami manusia. Karena itu, setiap hasil yang diproduksi AI tetap membutuhkan verifikasi sebelum dipublikasikan.

Dalam kasus yang menimpa BRIN, kritik publik sebenarnya mengarah pada absennya lapisan pemeriksaan akhir. Pertanyaan yang muncul bukan sekadar apakah gambar tersebut dibuat menggunakan AI atau tidak, melainkan mengapa konten itu bisa lolos tanpa pengecekan yang memadai.

Kesalahan pada simbol negara bukan persoalan estetika. Ini berkaitan dengan akurasi dan penghormatan terhadap identitas nasional.

Oleh sebab itu, mekanisme verifikasi seharusnya menjadi prosedur wajib, terutama pada lembaga yang memiliki reputasi sebagai pusat riset nasional.

AI seharusnya ditempatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas, bukan sebagai pengganti proses pengawasan manusia. Ketika hasil mesin diterima mentah-mentah tanpa pemeriksaan, risiko kesalahan justru meningkat meskipun tampilan akhirnya terlihat sempurna.

Momentum Membangun Tata Kelola AI yang Bertanggung Jawab

Kasus ini seharusnya tidak berhenti pada permintaan maaf atau klarifikasi semata. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap lembaga publik menjadikannya sebagai momentum untuk memperkuat tata kelola penggunaan AI.

Pemanfaatan teknologi perlu dibarengi dengan pedoman yang jelas mengenai proses verifikasi, pembagian tanggung jawab, serta standar publikasi. Terlebih di era digital saat ini, kesalahan yang muncul dalam akun resmi institusi dapat menyebar jauh lebih cepat dibandingkan proses koreksinya.

Ke depan, lembaga pemerintah perlu memastikan bahwa setiap konten yang diproduksi dengan bantuan AI tetap melewati tahapan pemeriksaan manusia. Simbol negara, data statistik, informasi kebijakan, materi edukasi, hingga dokumen publik harus memiliki standar validasi yang ketat sebelum dipublikasikan.

Polemik BRIN menjadi pelajaran bahwa transformasi digital tidak hanya berbicara tentang adopsi teknologi, tetapi juga tentang kesiapan budaya kerja. Teknologi memang mampu mempercepat proses, tetapi ketelitian tetap menjadi fondasi utama yang tidak dapat digantikan mesin.

Pada akhirnya, masalah terbesar bukanlah penggunaan AI itu sendiri. Persoalan sesungguhnya muncul ketika kepercayaan terhadap teknologi mengalahkan disiplin verifikasi.

Dalam dunia riset dan inovasi, ketepatan tetap harus berada di atas kecepatan. Sebab reputasi sebuah lembaga publik dibangun bukan hanya dari kecanggihan teknologi yang digunakan, melainkan dari tingkat akurasi dan tanggung jawab yang ditunjukkan kepada masyarakat. (KH)

Penulis: Hasan Soleh – Pemred Lintas Priangan

Berita lainnya:

Dari Freeport ke Karangjaya: Negara Sibuk Melarang, Rakyat Sibuk Bertahan

lintaspriangan.com, OPINI. Di negeri yang sering kita banggakan sebagai “kaya raya”, ada satu pemandangan yang berulang, seperti adegan lama yang tak...

Jadilah Aisyah, Meski Suamimu Bukan Muhammad

lintaspriangan.com, OPINI. Di banyak pengajian, kita cukup sering mendengar penceramah memaparkan topik sebagaimana di bawah ini: “Bapak-bapak ingin istrinya seperti Aisyah?Maka...

Fenomena Periodisasi Kepala Sekolah di Kota Tasikmalaya

lintaspriangan.com, OPINI. Periodisasi kepala sekolah di Kota Tasikmalaya bukanlah hal baru. Kebijakan ini telah dilaksanakan sejak terbitnya Peraturan Menteri Pendidikan...
  • iklan display lintas priangan - akun zoom premium

Terbaru

Warga Pataruman Ini Tak Diketahui Keberadaannya, Keluarga Minta Bantuan Warga

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Seorang warga Perumahan Doboku, Lingkungan Ligar,...

Website Pemkot Tasikmalaya: 2 Sehat, Sisanya Sakit, Sekarat, dan Mati Suri!

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Di zaman orang mencari jadwal layanan, izin usaha,...

Aksi Heroik Damkar Ciamis Evakuasi Sarang Lebah Raksasa Di Cimaragas

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS – Respons cepat kembali ditunjukkan petugas...

Damkar Ciamis Kembali Beraksi! Evakuasi Mobil Terperosok di Cikoneng

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Respons cepat kembali ditunjukkan petugas UPTD...

Pejabat Tak Cukup Tanya “Sudah Diposting?”

lintaspriangan.com, BACAAN PEJABAT. Ada satu pertanyaan yang sangat akrab di...

Indonesia Open 2026: Cara Nonton dan Dukung Wakil Merah Putih

lintaspriangan.com, BERITA OLAHRAGA. Indonesia Open 2026 bukan sekadar turnamen bulu...

Curanmor di Banjar Terkuak, Motor Tak Dikunci Jadi Sasaran

lintaspriangan.com, BERITA KOTA BANJAR. Kasus curanmor di Banjar kembali menjadi perhatian...

Indonesia Open 2026 Tayang di RCTI dan iNews, Ini Jadwalnya

lintaspriangan.com, BERITA OLAHRAGA. Indonesia Open 2026 menjadi salah satu agenda...

Indonesia Open 2026: Bagan Pertandingan Ganda Putra Penuh Ancaman

lintaspriangan.com, BERITA OLAHRAGA. Indonesia Open 2026 belum benar-benar dimulai, tetapi...

Peringati Harlah Pancasila, Kesbangpol Kota Tasikmalaya Tanam Pohon di Lingkungan Kantor

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tasikmalaya memperingati...

Priangan Timur

Warga Pataruman Ini Tak Diketahui Keberadaannya, Keluarga Minta Bantuan Warga

lintaspriangan.com, BERITA BANJAR. Seorang warga Perumahan Doboku, Lingkungan Ligar,...

Aksi Heroik Damkar Ciamis Evakuasi Sarang Lebah Raksasa Di Cimaragas

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS – Respons cepat kembali ditunjukkan petugas...

Damkar Ciamis Kembali Beraksi! Evakuasi Mobil Terperosok di Cikoneng

lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Respons cepat kembali ditunjukkan petugas UPTD...

Curanmor di Banjar Terkuak, Motor Tak Dikunci Jadi Sasaran

lintaspriangan.com, BERITA KOTA BANJAR. Kasus curanmor di Banjar kembali menjadi perhatian...

Peringati Harlah Pancasila, Kesbangpol Kota Tasikmalaya Tanam Pohon di Lingkungan Kantor

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tasikmalaya memperingati...

Curanmor di Tasikmalaya Terungkap, Korban Kaget Motornya Lebih Gahar

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kasus curanmor di Tasikmalaya kembali terungkap. Satreskrim Polres...

Plh Wali Kota Tasikmalaya Berakhir, Diky Kembali Dampingi Viman

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Masa tugas Rd Diky Candranegara sebagai Plh Wali...

Pemilih Disabilitas Tasikmalaya Terancam Luput dari Pemilu Inklusif

lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Persoalan pemilih disabilitas Tasikmalaya kembali menyeruak menjelang gelombang...

Perspektif

Popular Categories