lintaspriangan.com, INSPIRATIF. Ada cinta yang tidak sampai ke pelaminan, tetapi justru sampai ke tempat yang lebih tinggi: kelapangan jiwa.
Kisah ini datang dari salah satu sahabat besar Nabi ﷺ, Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu. Ia bukan lelaki biasa. Ia adalah pencari kebenaran yang menempuh perjalanan panjang dari Persia, melewati agama demi agama, guru demi guru, sampai akhirnya menemukan Rasulullah ﷺ di Madinah. Hidupnya adalah kisah hijrah batin yang agung.
Namun Salman tetap manusia. Ia juga pernah memiliki keinginan. Ia pernah berharap. Ia pernah melamar.
Diriwayatkan bahwa suatu hari Salman ingin melamar seorang perempuan dari Bani Laits. Ia tidak datang sendiri. Ia meminta sahabatnya, Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, untuk menemani dan menyampaikan maksud baik itu kepada keluarga sang perempuan.
Abu Darda’ pun masuk menemui mereka. Ia menyebutkan keutamaan Salman: kedudukannya, kesungguhannya dalam Islam, dan kemuliaan perjalanan hidupnya. Tetapi jawaban keluarga perempuan itu mengejutkan.
أَمَّا سَلْمَانُ فَلَا نُزَوِّجُهُ، وَلَكِنَّا نُزَوِّجُكَ.
Ammā Salmānu fa-lā nuzawwijuhū, wa-lākinnā nuzawwijuka.
“Adapun Salman, kami tidak menikahkannya. Tetapi kami menikahkanmu.”
Referensi kisah: Ḥilyat al-Awliyā’, Abu Nu‘aim al-Ashbahani, juz 1, bagian biografi Salman al-Farisi; juga dinukil dalam Ṣifat aṣ-Ṣafwah, Ibn al-Jauzi. Kisah ini juga disebut al-Haitsami dalam Majma‘ az-Zawā’id, Kitab an-Nikah, Bab al-Kafā’ah.
Bayangkan perasaan Salman bila kita meminjam ukuran hati manusia biasa.
Ia datang dengan harapan, tetapi pulang dengan kenyataan. Ia meminta sahabatnya mengantar lamaran, tetapi justru sahabat itu yang diterima. Yang ia inginkan, ternyata tidak menjadi miliknya. Yang ia harapkan, ternyata menjadi bagian orang lain.
Di sinilah manusia biasanya diuji.
Ada yang patah, lalu berubah pahit. Ada yang kecewa, lalu menyalahkan takdir. Ada yang kehilangan, lalu kehilangan pula akhlaknya. Ada yang tidak jadi memiliki seseorang, lalu berubah membenci semua orang yang terlibat di dalamnya.
Tetapi Salman bukan hati yang sempit.
Ketika Abu Darda’ keluar dan merasa malu menyampaikan kenyataan itu, Salman tidak meledak. Ia tidak menuduh. Ia tidak merasa dikhianati. Ia tidak menjadikan luka hatinya sebagai alasan untuk merusak ukhuwah.
Ia justru berkata:
أَنَا أَحَقُّ أَنْ أَسْتَحْيِيَ مِنْكَ أَنْ أَخْطُبَهَا، وَكَانَ اللَّهُ قَدْ قَضَاهَا لَكَ.
Anā aḥaqqu an astaḥyiya minka an akhṭubahā, wa kāna Allāhu qad qaḍāhā laka.
“Akulah yang lebih pantas malu kepadamu karena aku melamarnya, padahal Allah telah menetapkannya untukmu.”
Referensi kisah: Majma‘ az-Zawā’id, al-Haitsami, juz 4, no. 7449. Al-Haitsami menilai para perawinya tsiqah, namun sanadnya terputus karena Tsabit al-Bunani tidak mendengar langsung dari Salman maupun Abu Darda’. Maka kisah ini adalah atsar hikmah, bukan hadis Nabi ﷺ yang sahih.
Kalimat itu sederhana, tetapi dalam.
Salman tidak sedang menghapus rasa manusiawinya. Ia tidak sedang berpura-pura bahwa kehilangan itu tidak sakit. Tetapi ia memilih berdiri di atas rasa sakitnya, bukan tenggelam di dalamnya.
Ia melihat kejadian itu dengan kacamata iman: bila Allah tidak menjadikannya milikku, berarti ada hikmah yang belum aku tahu. Bila Allah memberikannya kepada saudaraku, maka tugasku bukan iri, tetapi ridha.
Inilah akhlak yang jarang: lapang ketika tidak dipilih, bersih hati ketika orang lain mendapatkan yang kita inginkan.
Al-Qur’an mengajarkan:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Likaylā ta’saw ‘alā mā fātakum wa lā tafraḥū bimā ātākum, wallāhu lā yuḥibbu kulla mukhtālin fakhūr.
“Agar kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Referensi: QS. Al-Ḥadīd [57]: 23. Dalam penjelasan tafsir, ayat ini mengarahkan hati mukmin agar tidak hancur oleh sesuatu yang luput, sebab apa yang ditakdirkan luput memang bukan bagiannya.
Barangkali di situlah rahasia besarnya.
Hati yang beriman tidak selalu mendapatkan semua yang ia cintai. Tetapi hati yang beriman belajar mencintai keputusan Allah di atas keinginannya sendiri.
Cinta yang kandas sering kali membuka wajah asli hati kita. Apakah kita mencintai dengan tawakal, atau mencintai dengan rasa memiliki yang berlebihan? Apakah kita siap menerima keputusan Allah, atau hanya siap menerima keinginan sendiri?
Salman mengajarkan bahwa tidak semua yang gagal menjadi luka harus berubah menjadi dendam. Tidak semua yang tidak menjadi jodoh harus menjadi alasan untuk membenci. Tidak semua kehilangan harus membuat seseorang kehilangan adab.
Bahkan, dalam kisah ini, yang paling indah bukan sekadar Salman gagal menikahi perempuan itu. Yang paling indah adalah: ia berhasil menjaga hati saudaranya.
Nabi ﷺ bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Lā yu’minu aḥadukum ḥattā yuḥibba li-akhīhi mā yuḥibbu linafsih.
“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
Referensi: Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 13; Ṣaḥīḥ Muslim, no. 45. Derajat: Shahih, muttafaq ‘alaih.
Maka kisah Salman bukan hanya kisah cinta yang gagal. Ia adalah kisah tentang iman yang berhasil.
Berhasil menundukkan ego.
Berhasil merawat persaudaraan.
Berhasil membaca takdir tanpa prasangka buruk kepada Allah.
Berhasil tidak menjadikan kecewa sebagai izin untuk melukai.
Sebab tidak semua yang kita inginkan akan Allah berikan. Tetapi semua yang Allah tetapkan, bila diterima dengan iman, akan menjadi jalan kebaikan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
‘Ajaban li-amril-mu’min, inna amrahū kullahū khayr, wa laysa dzāka li-aḥadin illā lil-mu’min; in aṣābat-hu sarrā’u syakara fa kāna khayran lah, wa in aṣābat-hu ḍarrā’u ṣabara fa kāna khayran lah.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik, dan itu tidak dimiliki siapa pun selain orang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.”
Referensi: Ṣaḥīḥ Muslim, no. 2999, Kitāb az-Zuhd wa ar-Raqā’iq. Derajat: Shahih.
Pada akhirnya, cinta Salman memang kandas di satu pintu. Tetapi akhlaknya membuka pintu yang lebih agung: pintu ridha.
Dari Salman kita belajar, kadang Allah tidak memberi apa yang kita minta bukan karena kita hina, tetapi karena Allah sedang menjaga kita dari sesuatu yang belum kita pahami.
Dan kadang, ujian terbesar bukan saat kita kehilangan seseorang, melainkan saat orang lain mendapatkan apa yang diam-diam kita doakan.
Di titik itulah iman diuji.
Apakah kita masih bisa berkata, seperti Salman:
“Jika Allah telah menetapkannya untuk saudaraku, maka aku tidak akan menjadikan takdir Allah sebagai alasan untuk iri.”
Sebab hati yang lapang tidak selalu berarti tidak terluka.
Hati yang lapang adalah hati yang tetap memilih ridha, meski sedang terluka.
(Ustadz Abdul Holik)
Artikel Inspiratif lainnya:
- Ternyata Ada Pesan Menggetarkan di Balik Lagu “Jikalau Kau Cinta – Judika”
- Usai Wisuda, Mahasiswi Ini Berteriak-Teriak di Belakang Penjara
- Menjadi Kepala Daerah yang Berdampak, Bukan Sekadar Baik
- Bermainlah Sebaik-baiknya di Panggung Sekecil Apa Pun
- Saat di Mobil, Kenapa Kepala Daerah Duduknya di Tengah?
- Terkadang Ingin Jadi Sekularis
- Jaga Semangat Kerja! Ingat, Ada Pejabat & Wakil Rakyat yang Harus Kita Nafkahi






















