lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Persiapan penyelenggaraan Haji 2027 mulai digerakkan lebih dini. Sejak 10 Juli 2026, Kemenhaj pusat telah meminta jajaran Kemenhaj di daerah memulai berbagai persiapan, termasuk pemutakhiran dan verifikasi data calon jemaah sebelum tahapan berikutnya berjalan.
Menindaklanjuti arah kebijakan tersebut, Kemenhaj Kota Tasikmalaya mulai menguatkan edukasi persiapan kepada calon jemaah. Perhatian tidak hanya diarahkan pada ketertiban dokumen, tetapi juga kesiapan kesehatan, pengetahuan manasik, kematangan mental, dan ketenangan spiritual.
Kepala Kemenhaj Kota Tasikmalaya, H. Husna Mustopa, S.H.I., M.Si., mengatakan persiapan lebih awal penting agar calon jemaah tidak sekadar menunggu waktu keberangkatan. Masa penantian harus menjadi ruang untuk memperbaiki dan memantaskan diri.
“Menunggu haji tidak boleh menjadi masa yang kosong. Ia harus menjadi masa tumbuh: tumbuh ilmunya, sehat tubuhnya, matang mentalnya, dan lapang hatinya,” kata Husna dalam perbincangan dengan Lintas Priangan melalui sambungan telepon, Sabtu, 25 Juli 2026.
Haji Tidak Dimulai Saat Koper Dibagikan
Menurut Husna, perjalanan haji pada hakikatnya tidak baru dimulai ketika koper dibagikan atau jemaah memasuki asrama haji. Perjalanan tersebut telah berlangsung sejak seseorang membulatkan niat dan mulai mempersiapkan diri.
Karena itu, calon jemaah perlu mengenali tahapan perjalanan, memahami hak dan kewajibannya, serta membangun kebiasaan hidup yang mendukung kesiapan beribadah.
“Terdaftar untuk berangkat dan benar-benar siap berangkat adalah dua hal berbeda. Administrasi menunjukkan seseorang telah tercatat, tetapi kesiapan harus dibangun melalui pengetahuan, kesehatan, kedisiplinan, dan kesungguhan,” ujarnya.
Kemenhaj Kota Tasikmalaya memandang penyampaian informasi sejak dini penting agar calon jemaah tidak merasa seluruh tahapan datang secara mendadak. Data pribadi juga harus diperiksa dengan cermat sehingga kekeliruan administratif dapat diketahui dan diperbaiki lebih awal.
Bagi Husna, ketelitian memeriksa data bukan sekadar urusan dokumen. Di balik setiap nama terdapat penantian panjang, harapan keluarga, dan impian untuk sampai ke Tanah Suci.
“Data mungkin terlihat seperti deretan huruf dan angka. Namun, kesalahan kecil di dalamnya dapat mengusik ketenangan jemaah. Karena itu, ketelitian merupakan bagian dari pelayanan,” katanya.
Kesehatan Tidak Dapat Dipersiapkan Mendadak
Selain ketertiban data, kesiapan kesehatan menjadi perhatian penting. Ibadah haji menuntut daya tahan tubuh karena jemaah akan menghadapi perjalanan panjang, perubahan cuaca, kepadatan manusia, serta rangkaian ibadah yang memerlukan kekuatan fisik.
Husna mengingatkan calon jemaah agar tidak menunggu pemeriksaan kesehatan untuk mulai merawat tubuh. Berjalan kaki secara rutin, mengatur pola makan, beristirahat cukup, dan memeriksakan kondisi kesehatan dapat dibiasakan sejak sekarang.
“Kebugaran tidak dapat dikebut seperti menyelesaikan berkas. Tubuh memiliki iramanya sendiri. Ia harus dilatih perlahan, dirawat dengan disiplin, dan didengarkan ketika memberikan tanda,” tuturnya.
Menjaga kesehatan, lanjut dia, bukan semata-mata untuk memenuhi persyaratan. Tubuh yang lebih siap akan membantu jemaah menjalankan ibadah dengan tenang sekaligus mengurangi ketergantungan kepada orang lain.
Namun, kemandirian tidak boleh dimaknai sebagai pelepasan tanggung jawab pelayanan.
“Jemaah mandiri bukan jemaah yang ditinggalkan. Kemandirian tumbuh karena jemaah dibekali pengetahuan, dilatih menghadapi keadaan, dan mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan,” jelas Husna.
Manasik Bukan Sekadar Menghafal Urutan
Husna juga menekankan pentingnya mengikuti bimbingan manasik secara sungguh-sungguh. Manasik tidak cukup dipahami sebagai kegiatan menghafal urutan pelaksanaan ibadah.
Lebih dari itu, manasik harus membentuk kemampuan jemaah dalam mengambil keputusan ketika menghadapi keadaan nyata. Jemaah perlu memahami rukun, wajib, dan sunah haji, termasuk berbagai kemudahan yang tersedia apabila menghadapi kondisi tertentu.
“Pengetahuan akan melahirkan ketenangan. Orang yang memahami apa yang sedang dilakukannya tidak mudah panik ketika keadaan di lapangan berbeda dari bayangannya,” katanya.
Manasik juga menjadi ruang untuk melatih kesabaran, kedisiplinan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sesama. Nilai-nilai tersebut sangat dibutuhkan ketika jutaan manusia berada dalam ruang dan waktu yang sama.
“Haji tidak hanya menguji kekuatan kaki. Haji juga menguji keluasan hati. Di sana, seseorang belajar mengendalikan diri, memberikan ruang kepada orang lain, dan menerima bahwa tidak semua keadaan berjalan sesuai kehendaknya,” ujar Husna.
Penantian Harus Mengubah Diri
Kemenhaj Kota Tasikmalaya berharap calon jemaah menjadikan waktu sebelum keberangkatan sebagai kesempatan memperbaiki diri. Persiapan haji tidak selalu harus berupa langkah besar. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten justru dapat menghasilkan perubahan berarti.
Calon jemaah dapat mulai membiasakan aktivitas fisik, mengikuti pembelajaran manasik, memperbaiki pola komunikasi, menata dokumen, serta melatih kesabaran dalam kehidupan sehari-hari.
Keluarga juga memiliki peran penting. Dukungan keluarga tidak berhenti pada membantu menyiapkan perlengkapan, tetapi turut menjaga kesehatan, ketenangan, dan semangat calon jemaah.
“Penantian yang panjang jangan dibiarkan hanya mengubah usia. Penantian itu harus mengubah diri. Ketika waktu keberangkatan tiba, jemaah bukan hanya siap membawa koper, tetapi juga membawa tubuh yang terjaga, ilmu yang cukup, dan hati yang lebih jernih,” tutur Husna.
Ia berharap seluruh ikhtiar tersebut membuat calon jemaah Haji 2027 dari Kota Tasikmalaya mampu menjalankan ibadah dengan lebih mandiri, tertib, dan khusyuk.
“Tanah Suci adalah tujuan perjalanan, tetapi perubahan diri merupakan salah satu buah terindahnya. Jika masa tunggu membuat seseorang lebih sehat, lebih sabar, dan lebih dekat kepada Allah, sesungguhnya perjalanan hajinya telah dimulai,” pungkasnya. (AS)


