lintaspriangan.com, BERITA OLAHRAGA. Empat tahun lalu, bulutangkis Indonesia pulang dari Asian Games Hangzhou tanpa satu pun medali.
Hasil itu terasa janggal bagi negara yang selama puluhan tahun menjadikan bulutangkis sebagai salah satu andalan di panggung olahraga Asia. Lebih dari sekadar kehilangan podium, kegagalan tersebut tercatat sebagai yang pertama dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di Asian Games.
Kini, cerita itu mulai berubah.
Di Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Indonesia setidaknya sudah memastikan dua medali dari cabang bulutangkis. Kepastian itu datang setelah tim putra dan tim putri sama-sama menembus semifinal nomor beregu.
Warna medalinya memang belum diketahui. Tetapi satu hal sudah pasti: Indonesia kembali berada di podium bulutangkis Asian Games.
Dari Nol Medali Di Hangzhou
Asian Games 2022 di Hangzhou, China, menjadi catatan yang sulit dilupakan bagi bulutangkis Indonesia.
Tim putra yang berstatus unggulan pertama harus terhenti di perempat final setelah kalah 1-3 dari Korea Selatan.
Anthony Sinisuka Ginting sempat membuka peluang dengan kemenangan atas Jeon Hyeok Jin. Namun setelah itu, Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto, Jonatan Christie, serta Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin gagal mengamankan kemenangan berikutnya.
Langkah tim putri juga berhenti di perempat final. Gregoria Mariska Tunjung dan kawan-kawan kalah 0-3 dari China.
Kegagalan dua tim beregu tersebut berlanjut di nomor perorangan. Gregoria yang menjadi wakil terakhir Indonesia juga kandas di perempat final setelah kalah dari wakil Jepang, Aya Ohori.
Tidak ada satu pun wakil Indonesia yang mencapai semifinal.
Tidak ada perunggu.
Tidak ada perak.
Apalagi emas.
Untuk pertama kalinya, bulutangkis Indonesia meninggalkan Asian Games tanpa medali. Saat itu, tim Indonesia sebelumnya ditargetkan menyumbang tiga medali emas. Hasil di Hangzhou pun memunculkan tuntutan evaluasi terhadap persiapan, kepelatihan dan pembinaan.
Empat tahun kemudian, podium kembali terbuka
Asian Games 2026 memberikan situasi berbeda.
Tim putra Indonesia berhasil melewati fase menuju semifinal. Begitu pula tim putri.
Dua tempat di semifinal berarti dua medali sudah berada dalam genggaman Indonesia karena seluruh semifinalis otomatis mendapatkan medali.
Dengan demikian, perolehan minimal dua medali pada 2026 langsung memperbaiki catatan dari Hangzhou yang berakhir tanpa medali.
Perubahan itu menjadi semakin menarik jika melihat rentang yang lebih panjang.
Pada Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang, bulutangkis Indonesia menyumbang delapan medali: dua emas, dua perak dan empat perunggu. Data Kementerian Pemuda dan Olahraga mencatat bulutangkis menjadi salah satu cabang dengan kontribusi medali terbesar bagi kontingen Indonesia ketika itu.
Empat tahun kemudian, semuanya hilang di Hangzhou.
Kini, dua medali sudah dipastikan kembali datang.
Belum selesai, karena semifinal baru menentukan warna
Dua medali yang sudah diamankan bukan berarti perjalanan Indonesia telah selesai.
Semifinal akan menentukan apakah medali tersebut berwarna perunggu, perak atau bahkan emas.
Di titik ini, perbandingan dengan Hangzhou memang sudah selesai untuk satu hal: Indonesia tidak lagi pulang dengan tangan kosong.
Namun target berikutnya tentu lebih tinggi. Setiap kemenangan di semifinal akan membawa Indonesia semakin dekat dengan perebutan emas.
Artinya, Asian Games 2026 masih menyimpan satu pertanyaan penting bagi bulutangkis Indonesia: sampai sejauh mana kebangkitan ini bisa dilanjutkan?
Yang jelas, setelah kegagalan tanpa medali di Hangzhou 2022, Indonesia kembali memastikan tempat di podium bulutangkis Asian Games.
Dari nol medali menjadi minimal dua.
Dan perjalanan menuju warna medali berikutnya masih berlangsung. (HS)







