lintaspriangan.com, REFERENSI PRIANGAN. Data jumlah restoran di Kota Tasikmalaya menjadi salah satu indikator menarik untuk membaca perkembangan sektor kuliner dan pariwisata daerah. Berdasarkan publikasi Kota Tasikmalaya Dalam Angka 2026, jumlah rumah makan/restoran di Kota Tasikmalaya pada 2025 tercatat sebanyak 231 unit.
Angka tersebut turun dibandingkan 2024 yang mencapai 441 unit. Penurunan ini terlihat mencolok, terutama karena pada saat yang sama jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Tasikmalaya justru meningkat. Datanya seperti dua orang yang jalan bareng tapi arahnya beda, bro: restoran turun, wisatawan naik.
Jumlah Restoran Turun pada 2025
Dalam data BPS, jumlah rumah makan/restoran di Kota Tasikmalaya menunjukkan perubahan yang cukup tajam dalam empat tahun terakhir. Pada 2022, jumlah rumah makan/restoran tercatat 211 unit. Angka itu melonjak menjadi 848 unit pada 2023.
Setahun kemudian, pada 2024, jumlahnya turun menjadi 441 unit. Lalu pada 2025 kembali turun menjadi 231 unit. Dengan demikian, jumlah restoran di Kota Tasikmalaya pada 2025 hampir setengah dari jumlah tahun sebelumnya.
Berikut data jumlah rumah makan/restoran Kota Tasikmalaya menurut kecamatan:
| Kecamatan | 2022 | 2023 | 2024 | 2025 |
|---|---|---|---|---|
| Kawalu | 13 | 41 | 48 | 19 |
| Tamansari | 9 | 40 | 21 | 24 |
| Cibeureum | 12 | 31 | 80 | 17 |
| Purbaratu | 8 | 92 | 28 | 3 |
| Tawang | 39 | 197 | 67 | 43 |
| Cihideung | 34 | 136 | 43 | 42 |
| Mangkubumi | 17 | 57 | 87 | 31 |
| Indihiang | 26 | 109 | 28 | 16 |
| Bungursari | 25 | 67 | 12 | 11 |
| Cipedes | 28 | 78 | 27 | 25 |
| Kota Tasikmalaya | 211 | 848 | 441 | 231 |
Pada 2025, Kecamatan Tawang menjadi wilayah dengan jumlah rumah makan/restoran terbanyak, yakni 43 unit. Posisi berikutnya ditempati Cihideung dengan 42 unit, Mangkubumi 31 unit, Cipedes 25 unit, dan Tamansari 24 unit.
Sementara itu, Purbaratu tercatat sebagai kecamatan dengan jumlah restoran paling sedikit, yaitu 3 unit. Setelah itu ada Bungursari 11 unit, Indihiang 16 unit, Cibeureum 17 unit, dan Kawalu 19 unit.
Dari sebaran tersebut, terlihat bahwa pusat aktivitas kuliner masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan, terutama Tawang dan Cihideung. Dua kecamatan ini memang dikenal sebagai wilayah dengan aktivitas perdagangan, jasa, pemerintahan, pendidikan, dan mobilitas masyarakat yang cukup tinggi.
Wisatawan Naik, Restoran Justru Berkurang
Yang membuat data ini menarik adalah perbandingannya dengan jumlah wisatawan. Pada 2025, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota Tasikmalaya tercatat 667.521 orang. Angka ini naik dibandingkan 2024 yang sebanyak 643.432 orang.
Artinya, ketika jumlah wisatawan meningkat, jumlah rumah makan/restoran yang tercatat justru menurun. Kondisi ini tidak bisa langsung dibaca sebagai banyak restoran tutup. Data seperti ini perlu dilihat secara hati-hati.
Ada beberapa kemungkinan yang perlu diuji lebih lanjut. Penurunan jumlah restoran bisa berkaitan dengan pembaruan data, perubahan klasifikasi usaha, revalidasi izin, pencatatan usaha aktif, atau perubahan metode pendataan dari instansi terkait. Bisa juga ada dinamika riil di lapangan, seperti usaha kuliner yang berpindah format menjadi usaha rumahan, katering, daring, kaki lima, atau tidak lagi tercatat sebagai rumah makan/restoran.
Karena itu, artikel berbasis data ini sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa sektor kuliner Kota Tasikmalaya sedang melemah. Yang lebih aman adalah menyebut bahwa data restoran menunjukkan penurunan tajam dan perlu dibaca bersama indikator lain, termasuk kunjungan wisatawan, tingkat konsumsi masyarakat, izin usaha, serta perkembangan pelaku kuliner informal.
Sektor kuliner tetap penting bagi Kota Tasikmalaya. Kuliner bukan hanya soal makan, tetapi juga bagian dari identitas kota, penggerak ekonomi kecil, penyerapan tenaga kerja, dan pendukung pariwisata. Ketika orang datang ke sebuah kota, yang dicari bukan hanya tempat berfoto, tetapi juga tempat makan. Sebab wisata tanpa makan itu seperti berita tanpa judul: ada, tapi kurang menggoda.
Bagi pemerintah daerah, data jumlah restoran di Kota Tasikmalaya bisa menjadi bahan evaluasi untuk melihat kondisi usaha kuliner, persebaran ekonomi antar kecamatan, dan dukungan terhadap pelaku usaha makanan. Bagi pelaku usaha, data ini bisa menjadi gambaran wilayah mana yang memiliki konsentrasi pasar lebih tinggi. Bagi masyarakat, data ini membantu membaca bagaimana sektor kuliner kota berubah dari tahun ke tahun.
Dengan 231 rumah makan/restoran tercatat pada 2025 dan kunjungan wisatawan yang mencapai 667.521 orang, Kota Tasikmalaya memiliki pekerjaan penting: memastikan pertumbuhan pariwisata ikut memberi ruang bagi usaha kuliner lokal. Sebab dalam ekonomi kota, data bukan hanya angka di tabel, tetapi petunjuk tentang denyut kehidupan masyarakat.






















