lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Kecakapan membaca jejak selama ini lekat dengan dunia Pramuka. Namun di tengah kehidupan anak-anak yang semakin dekat dengan internet, kecakapan itu kini memiliki ruang baru: jejak digital.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tasikmalaya, H. Amran Saefullah, S.E., M.M., menilai anggota Pramuka hari ini perlu memahami bahwa setiap aktivitas di ruang digital dapat meninggalkan rekam jejak. Unggahan, komentar, foto, hingga informasi pribadi yang dibagikan dapat memiliki konsekuensi jauh setelah aktivitas itu dilakukan.
“Kalau dalam Pramuka kita mengenal keterampilan membaca jejak di alam, generasi Pramuka hari ini juga harus mampu memahami jejak digital. Apa yang kita unggah dan bagikan di internet bisa meninggalkan jejak yang panjang,” kata Amran kepada Lintas Priangan, Kamis (13/8/2026).
Menurutnya, pemahaman tentang jejak digital menjadi bagian penting dari literasi digital generasi muda. Anak-anak tidak cukup hanya mampu menggunakan gawai dan berbagai aplikasi, tetapi juga harus memahami risiko serta tanggung jawab yang menyertainya.
Anak Semakin Dekat dengan Internet
Kebutuhan tersebut semakin penting karena internet telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak Indonesia.
Data yang disampaikan Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2026 menyebut sekitar 80 juta anak Indonesia telah terhubung dengan internet. Sementara kajian UNICEF Indonesia menunjukkan hanya 37,5 persen anak yang diteliti pernah memperoleh informasi mengenai cara menjaga keamanan diri ketika berada di internet.
Kajian yang sama juga mencatat 42 persen responden anak pernah merasa takut atau tidak nyaman akibat pengalaman mereka di ruang digital.
Menurut Amran, data tersebut menunjukkan kemampuan menggunakan teknologi belum selalu berjalan beriringan dengan kemampuan memahami risikonya.
“Anak-anak sekarang sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Tetapi yang juga harus kita bangun adalah kesadaran tentang apa yang boleh dibagikan, bagaimana menjaga data pribadi, bagaimana memperlakukan orang lain di ruang digital, dan bagaimana memastikan informasi yang diterima itu benar,” ujarnya.
Isu tersebut juga telah menjadi perhatian Kominfo Kota Tasikmalaya. Pada Mei 2026, Diskominfo bersama Universitas Siliwangi menggelar kegiatan Smart Netizen yang membahas penggunaan media sosial secara cerdas, hoaks, serta cyberbullying.
Amran menilai kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting karena anak-anak tidak hanya menjadi penerima informasi. Melalui media sosial, mereka sekaligus dapat menjadi penyebar informasi kepada lingkungan yang jauh lebih luas.
“Jangan sampai karena terburu-buru membagikan sesuatu, kita justru ikut menyebarkan informasi yang salah. Jejak digital juga berkaitan dengan tanggung jawab terhadap apa yang kita sebarkan,” katanya.
Kecakapan Pramuka Ikut Berkembang
Menurut Amran, perkembangan teknologi tidak berarti kecakapan tradisional Pramuka menjadi tidak relevan. Kemandirian, disiplin, kepedulian, kerja sama dan kemampuan mengambil keputusan justru menjadi modal penting ketika anak-anak memasuki ruang digital.
Yang berubah adalah medan tempat nilai tersebut diterapkan.
Anggota Pramuka, katanya, tetap perlu belajar hidup mandiri di alam, mengenali tanda jejak, bekerja dalam regu dan menolong sesama. Namun pada saat bersamaan, mereka juga perlu dibekali kemampuan mengenali hoaks, menjaga data pribadi, menghindari perundungan digital serta memahami dampak dari unggahan mereka sendiri.
“Prinsip dasarnya sebenarnya sama, yaitu bertanggung jawab. Di dunia nyata kita bertanggung jawab terhadap tindakan kita. Di dunia digital juga demikian,” ujarnya.
Amran mengatakan Hari Pramuka ke-65 pada 14 Agustus 2026 dapat menjadi momentum untuk melihat kembali kecakapan yang dibutuhkan generasi muda sesuai perkembangan zaman.
Menurutnya, Pramuka akan tetap relevan apabila nilai-nilai dasarnya mampu diterapkan pada tantangan yang dihadapi anak-anak hari ini.
“Teknologinya akan terus berubah. Platform yang digunakan anak-anak juga mungkin berubah. Tetapi karakter untuk berhati-hati, bertanggung jawab dan menghormati orang lain harus tetap ada. Itu yang penting,” pungkasnya. (HS)







