Audit Seluruh Sekolah Harus Terukur
Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan telah meninjau lokasi kebakaran SDN Citapen Tasikmalaya. Pemerintah Kota Tasikmalaya berencana mempercepat perbaikan bagian bangunan yang terdampak melalui Belanja Tidak Terduga atau BTT.
Viman juga meminta pemeriksaan instalasi mekanikal dan elektrikal di seluruh SD dan SMP negeri. Instruksi tersebut penting, tetapi publik memerlukan lebih dari sekadar pernyataan bahwa audit akan dilakukan.
Pemerintah perlu mengumumkan berapa sekolah yang akan diperiksa, kapan pemeriksaan dimulai, siapa yang memiliki kompetensi teknis untuk melakukannya, serta berapa anggaran yang disiapkan.
Hasil audit juga semestinya tidak berhenti di meja dinas. Sekolah dan orang tua perlu mengetahui apakah ditemukan kabel rapuh, sambungan tidak standar, stopkontak kelebihan beban, MCB yang tak sesuai kapasitas, atau ketiadaan alat pemadam api ringan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya Rojab Setiawan memastikan area di sekitar titik kebakaran tidak digunakan sebelum dinyatakan aman. Pembelajaran dapat dialihkan melalui sistem daring, pengaturan jadwal, atau pemanfaatan ruang lain.
Langkah tersebut melindungi siswa untuk sementara. Tantangan berikutnya ialah memastikan mereka kembali ke bangunan yang bukan sekadar sudah dibersihkan, tetapi benar-benar telah diperiksa secara teknis.
BPBD Kota Tasikmalaya juga diminta memperluas edukasi dan simulasi kebencanaan di sekolah. Guru dan siswa perlu mengetahui jalur evakuasi, lokasi pemutus listrik, cara menggunakan APAR, serta tindakan pertama ketika mencium bau kabel terbakar.
Respons Damkar sekitar 10 menit berhasil mencegah kerusakan yang lebih luas. Akan tetapi, keselamatan sekolah tidak boleh sepenuhnya bergantung pada seberapa cepat mobil pemadam tiba.
Pelajaran terpenting dari kebakaran SDN Citapen Tasikmalaya bukan hanya bahwa api berhasil dipadamkan. Keselamatan sesungguhnya dimulai ketika pemerintah dapat menjawab pertanyaan sederhana: kapan instalasi listrik setiap sekolah terakhir diperiksa? (AS)
