lintaspriangan.com, BERITA GARUT. Sedikitnya 31 orang diduga mengalami keracunan MBG di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, setelah menyantap makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat, Rabu, 22 Juli 2026. Sebagian besar korban merupakan santri Pesantren Al Mansyur di Desa Mekarsari.
Para korban mengalami sakit perut, pusing, mual, muntah, dan diare. Mereka kemudian mendapatkan pemeriksaan dan perawatan di Puskesmas Cibatu. Korban didominasi santri dan siswa usia SD hingga SMP, sementara sejumlah guru juga dilaporkan mengalami keluhan serupa.
Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Nurdin Yana menyatakan, sedikitnya 31 orang terindikasi mengalami keracunan makanan. Berdasarkan data awal, 27 orang telah mendapatkan penanganan medis, sedangkan empat orang lainnya dilaporkan mengalami gejala tetapi belum dibawa ke puskesmas ketika pendataan dilakukan.
Pasien Bertambah dalam Waktu Lima Jam
Kasus dugaan keracunan MBG di Cibatu mulai terpantau sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, tiga santri datang ke Puskesmas Cibatu dengan keluhan pusing, muntah, dan diare.
Jumlah pasien kemudian bertambah menjadi 23 orang sekitar pukul 15.00 WIB. Hingga pukul 18.00 WIB, sedikitnya 27 orang tercatat telah mendapatkan penanganan medis. Empat orang lain selanjutnya dilaporkan mengalami keluhan serupa sehingga jumlah warga terindikasi mencapai 31 orang.
Salah seorang pasien, Aceng Muhamad Arifin, mengaku menyantap makanan dari program MBG sekitar pukul 11.00 WIB. Beberapa jam kemudian, ia merasakan mual, pusing, muntah, dan diare.
Puskesmas Cibatu sempat dipenuhi pasien yang berdatangan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Garut dilaporkan menambah tempat tidur lipat untuk membantu penanganan para korban.
Sekda Garut mengatakan, makanan tidak hanya disantap di lingkungan pesantren dan sekolah. Sebagian siswa membawa makanan tersebut ke rumah sehingga pendataan penerima manfaat yang mengalami keluhan masih dilakukan.
Sampel Menu MBG Mulai Diuji
Kepala Desa Mekarsari Ahmad Sadeli membenarkan adanya siswa dan guru yang mengalami gejala setelah menyantap MBG. Makanan tersebut disebut diproduksi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Sindangsuka yang dikelola Yayasan Al-Halim Garut.
“Benar, ada siswa dan guru yang diduga mengalami keracunan setelah makan MBG,” kata Ahmad Sadeli sebagaimana diberitakan MPGI News.
Menu yang dilaporkan disantap para penerima manfaat terdiri atas nasi, telur berbumbu, dan rendang. Namun, belum diketahui jenis makanan atau faktor yang memicu munculnya keluhan.
Petugas telah mengambil sampel makanan untuk diperiksa di laboratorium. Kepolisian juga dilaporkan akan meminta keterangan dari pihak dapur yang memproduksi dan menyalurkan makanan tersebut.
Salah seorang pasien mengaku telah merasakan sakit perut sejak sehari sebelumnya dan keluhannya bertambah berat pada Rabu. Keterangan itu menjadi salah satu alasan penyebab kejadian belum dapat disimpulkan sebelum pemeriksaan medis, laboratorium, dan penelusuran distribusi makanan selesai.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat keterangan resmi mengenai hasil pengujian sampel maupun status operasional SPPG Sindangsuka. Tanggapan langsung dari pihak SPPG, Yayasan Al-Halim, dan Badan Gizi Nasional juga belum tersedia. Tidak ada korban meninggal dunia yang dilaporkan.
Keracunan MBG Pernah Terjadi di Garut
Kasus dugaan keracunan MBG ini bukan kejadian pertama di Kabupaten Garut. Pada September 2025, sebanyak 657 pelajar dari lima sekolah di Kecamatan Kadungora dilaporkan mengalami diare, lemas, mual, dan pusing setelah menyantap menu MBG.
Makanan dalam kejadian tersebut diproduksi SPPG yang dikelola Yayasan Al-Bayyinah 2. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut ketika itu melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebabnya.
Kasus lain kembali terjadi di Kadungora pada akhir September 2025. Sebanyak 131 orang mendapatkan penanganan medis dan tiga di antaranya dirujuk ke RSUD dr. Slamet Garut. Pemerintah Kabupaten Garut menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa.
Meski memiliki kemiripan, kejadian di Cibatu belum dapat dikaitkan dengan kasus terdahulu. SPPG yang disebut menyalurkan makanan dalam kejadian terbaru juga berbeda dengan SPPG pada kasus di Kadungora. (AS)
