lintaspriangan.com, TAJUK LINTAS. Firaun tenggelam setelah menempuh jalan panjang kesombongan. Seorang tokoh masa kini tak perlu menunggu laut terbelah untuk mengetahui apakah dirinya sedang berjalan ke arah yang sama.
Firaun beruntung hidup jauh sebelum manusia mengenal media sosial.
Tak ada telepon genggam yang merekam pidatonya. Tak ada potongan video 30 detik yang beredar dari grup WhatsApp ke TikTok. Tak ada pula siniar (podcast) malam hari yang mengupas kalimatnya kata demi kata.
Andai hidup sekarang, mungkin orang-orang istana akan segera menggelar konferensi pers.
Mereka akan mengatakan ucapan: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” telah dipenggal. Tidak utuh. Kehilangan konteks. Publik diminta menonton rekaman sejak awal agar memahami bahwa Baginda sedang emosi.
Beribu tahun kemudian, dunia berubah. Kalimat “dipotong dari konteksnya” rupanya tetap menjadi pelampung favorit ketika seorang tokoh tercebur oleh ucapannya sendiri.
Jumat, 17 Juli 2026, tidak ada Laut Merah terbelah di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung. Yang ada hanya kerumunan wartawan, kamera menyala, telepon genggam terangkat, dan mikrofon yang saling berhimpitan mencari suara.
Seorang wartawan bertanya apakah Febrie Adriansyah merasa dikriminalisasi dalam perkara yang menjeratnya.
Hotman Paris menjawab:
“Menurut kau gimana? Lu punya otak gak?”
Kamera tetap merekam. Mikrofon masih mengarah kepada Hotman. Namun, arah percakapan berubah seketika. Wartawan semula meminta penjelasan tentang dugaan kriminalisasi. Hotman tidak menjawab inti pertanyaannya. Ia justru menyerang kecerdasan orang yang bertanya.
Pertanyaan itu akhirnya lewat tanpa jawaban. Wartawannya malah diperlakukan seperti terdakwa.
Ketika Penanya Didakwa
Hotman Paris adalah pengacara. Ia hidup dari kata-kata. Ia tentu memahami bahwa satu kata dapat mengubah dakwaan, satu koma dapat memengaruhi tafsir, dan satu kalimat dapat menentukan arah persidangan.
Karena itu, agak mengherankan ketika sebuah pertanyaan justru dibalas dengan pemeriksaan terhadap keberadaan otak penanyanya.
Wartawan bisa mengajukan pertanyaan buruk. Kartu pers tidak otomatis membuat pemegangnya menjadi manusia paling cerdas di ruangan. Pertanyaan bisa berulang, kurang tajam, terlalu panjang, bahkan menjengkelkan.
Namun, narasumber selalu memiliki banyak pilihan.
Ia dapat menjawab. Menolak menjawab. Meluruskan premis. Meminta pertanyaan diperjelas. Atau cukup berkata, “Saya tidak memiliki kapasitas untuk menjawabnya.”
Semua pilihan itu tersedia secara gratis. Tidak perlu gelar sarjana hukum. Tidak perlu jam tangan mahal. Tidak perlu pula menanyakan apakah wartawan memiliki otak.
Seorang ahli debat semestinya mampu merobohkan pertanyaan tanpa merobohkan martabat orang yang bertanya. Di situlah kecerdasan memperoleh kelasnya.
Jika sebuah pertanyaan memang bodoh, jawaban yang cerdas akan membuat kebodohannya terlihat dengan sendirinya. Sebaliknya, ketika orang yang bertanya disebut tidak punya otak, publik justru kehilangan kesempatan menilai siapa yang sebenarnya sedang kehabisan argumen.
Konferensi pers pun bukan gelanggang yang sepenuhnya seimbang. Seorang pesohor berdiri dengan nama besar, pengaruh, pengalaman, dan kamera yang setia mengikuti wajahnya. Wartawan datang membawa tanda pengenal, mikrofon, serta tenggat yang tidak peduli apakah ia sudah makan siang.
Ketika sosok terkenal merendahkan wartawan di depan publik, itu bukan duel dua raksasa. Salah satunya memegang pengeras suara; yang lain hanya berusaha memperoleh jawaban.
Itulah sebabnya Dewan Pers menyayangkan ucapan Hotman. Ketidaksenangan terhadap pertanyaan wartawan, kata Dewan Pers, seharusnya disampaikan secara rasional dan beretika.
Pernyataan tersebut sebenarnya sangat sederhana.
Tidak menyukai pertanyaan bukanlah surat izin untuk merendahkan penanyanya.
Maaf yang Datang dengan Rombongan Alasan
Tiga hari kemudian, Hotman meminta maaf.
Ia menjelaskan bahwa sebelum kalimat itu terlontar, dirinya telah berkali-kali mengatakan tidak tahu dan tidak memiliki kapasitas untuk menilai. Wartawan lain kemudian kembali mengajukan pertanyaan. Hotman terpancing emosi.
Penjelasan itu harus diberi tempat. Editorial bukan meja penghakiman yang hanya menyediakan kursi bagi satu versi. Permintaan maaf pun layak dihargai. Tidak semua orang yang terpeleset oleh lidahnya bersedia kembali dan mengakui kesalahan.
Namun, penjelasan itu hanya menerangkan mengapa ucapan tersebut keluar. Sama sekali tidak berarti ucapan itu menjadi pantas.
Emosi juga bukan penghapus rekaman. Ia mungkin menjawab pertanyaan “mengapa”, tetapi tidak serta-merta membatalkan akibat dari “apa” yang sudah diucapkan.
Hotman mengatakan potongan video yang beredar tidak menampilkan peristiwa secara utuh. Baiklah. Mari melihatnya secara utuh. Ia merasa sudah menjawab, pertanyaan datang lagi, suasana memanas, kemudian lahirlah kalimat itu.
Hasil akhirnya tetap sama: kecerdasan seorang wartawan diserang karena ia mengajukan pertanyaan.
Permintaan maaf Hotman dapat menjadi pintu keluar yang terhormat. Sayangnya, permintaan maaf yang terlalu ramai oleh pembelaan kadang terdengar seperti orang yang menginjak kaki kita, lalu sibuk berdalih mengapa sepatu kita berada di tempat yang salah.
Meski begitu, pintu tersebut belum tertutup. Hotman masih dapat melewatinya dengan satu cara: menerima bahwa ada ucapan yang memang tidak pantas, kendati kemarahan yang melahirkannya terasa masuk akal bagi orang yang mengucapkannya.
Cermin Tua Bernama Firaun
Di sinilah Firaun perlu dibawa masuk, tentu bukan ke ruang sidang, tapi ke ruang renungan.
Mari menjaga perbandingan tetap waras. Hotman bukan Firaun. Wartawan itu bukan Nabi Musa. Gedung Kejaksaan Agung juga bukan tepian Laut Merah.
Ucapan kasar kepada wartawan tidak dapat disamakan dengan kekejaman seorang penguasa yang menindas rakyat, membunuh anak-anak, menolak kebenaran, kemudian mengangkat dirinya sebagai tuhan.
Penyamaan semacam itu bukan satire atau kritik. Itu kemalasan berpikir.
Catat. Firaun disebut di sini sebagai cermin. Bukan sebagai kembaran Hotman.
Kisahnya memperlihatkan bagaimana kesombongan tumbuh. Ia tidak selalu langsung muncul dalam kalimat sebesar, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Sebelum mencapai puncak, kesombongan biasanya merambat melalui keyakinan-keyakinan kecil: kedudukanku membolehkan aku berbuat lebih; orang lain tidak sepenting diriku; pertanyaan kepadaku adalah gangguan; koreksi adalah penghinaan; aturan kesopanan hanya berlaku bagi mereka yang berada di bawah.
Kesombongan bermula ketika seseorang merasa kebesarannya harus dibayar dengan pengecilan orang lain.
Di hadapan Nabi Musa, Firaun memiliki singgasana, pasukan, harta, dan kekuasaan. Semua yang tampak besar berada di belakangnya. Ia pun mengira kebenaran dapat ditentukan berdasarkan siapa yang mempunyai istana paling megah dan pengikut paling banyak.
Namun, air tidak pernah belajar membaca pangkat atau saldo rekening.
Laut tidak menanyakan berapa banyak kekayaan yang dibawa seseorang. Tidak pula memeriksa berapa panjang gelarnya. Ketika batas telah dilewati, gelombang bekerja tanpa perlu meminta kartu nama.
Al-Qur’an mengabadikan klaim tertinggi Firaun, lalu menutup kisah itu sebagai pelajaran bagi orang yang mau mengambil peringatan. Bukan hanya bagi raja. Bukan hanya bagi penguasa. Peringatan itu berlaku bagi siapa saja yang suatu hari merasa terlalu besar untuk menghormati manusia lain. (QS An-Nazi’at: 24–26)
Perlunya Berkaca
Hotman Paris dikenal sebagai orang yang tidak malu merayakan keberhasilannya. Tidak ada yang salah dengan itu. Kekayaan yang diperoleh secara sah bukan aib. Mobil mahal tidak mempunyai dosa. Cincin juga tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perilaku jari yang mengenakannya.
Masalah baru muncul ketika kilau benda-benda itu memantul ke dalam kepala, lalu berubah menjadi perasaan bahwa pemiliknya berada beberapa tingkat di atas manusia lain.
Karena itulah Hotman perlu berkaca.
Bukan pada cermin yang digunakan untuk memastikan jas telah rapi dan cincin berada pada sudut terbaik sebelum kamera menyala. Cermin semacam itu hanya memantulkan penampilan.
Berkacalah pada Firaun.
Lihat bagaimana kekuasaan dapat membuat telinga menolak suara yang tidak disukai. Lihat bagaimana kebesaran berubah menjadi kebutaan. Lihat pula betapa mudahnya manusia merasa tinggi ketika orang-orang di sekitarnya terlalu takut untuk berkata bahwa ia sedang merendahkan orang lain.
Hotman tidak perlu tunduk kepada wartawan. Wartawan pun tidak meminta disembah. Mereka hanya membutuhkan hak untuk bertanya tanpa dihina.
Jika pertanyaannya buruk, jawab dengan lebih baik. Jika premisnya keliru, bongkar kekeliruannya. Jika tidak tahu, katakan tidak tahu. Jika sedang marah, tarik napas.
Tak satu pun cincin akan kehilangan kilaunya hanya karena pemiliknya bersikap santun. Tidak ada nama besar yang mengecil karena mengucapkan, “Saya tidak berkenan menjawab.”
Sebaliknya, nama besar justru terlihat kerdil ketika harus menginjak orang lain agar tampak tinggi.
Firaun tenggelam setelah menempuh jalan panjang kesombongan. Seorang tokoh masa kini tentu tidak perlu menunggu laut terbelah untuk memeriksa arah langkahnya.
Dalam kehidupan hari ini, tak perlu laut, satu mikrofon sudah cukup.
Ia merekam bukan hanya suara, tetapi juga watak yang muncul ketika seseorang merasa terganggu. Dari sana publik dapat melihat apakah seorang tokoh berdiri tinggi karena memang memiliki kebesaran, atau hanya terlihat tinggi karena orang di hadapannya dipaksa menjadi kecil.
Maka, sekali lagi: Hotman, berkacalah pada Firaun.
