lintaspriangan.com, BERITA NASIONAL. Pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional atau BGN mulai terasa seperti babak baru bagi program Makan Bergizi Gratis. Setelah Nanik S. Deyang masuk memimpin BGN, arah program yang semula tampak bergerak cepat dalam ekspansi dapur kini mulai digeser ke efisiensi, evaluasi, dan penajaman sasaran.
Bagi para pengelola atau calon pengelola dapur, kebijakan baru MBG ini jelas bukan sinyal biasa. Sejumlah langkah yang diumumkan BGN berpotensi mengubah peta dapur MBG di daerah, mulai dari moratorium dapur baru, evaluasi jumlah dapur per kecamatan, ancaman suspensi bagi dapur tidak standar, hingga opsi pemanfaatan kantin sekolah.
1. Moratorium Dapur Baru MBG
Poin pertama yang paling terasa adalah moratorium dapur baru MBG. BGN menghentikan sementara pendaftaran dan pembangunan dapur baru untuk program Makan Bergizi Gratis.
Kebijakan ini dapat membuat calon pengelola dapur menahan napas. Sebab, pihak yang sudah menyiapkan lahan, bangunan, jaringan, yayasan, atau proposal kerja sama tidak bisa lagi berharap pintu dapur baru terbuka selebar sebelumnya.
Dengan moratorium ini, BGN tampaknya ingin merapikan lebih dulu dapur yang sudah berjalan. Artinya, arah program tidak lagi semata-mata memperbanyak titik dapur, tetapi memastikan dapur yang ada benar-benar dibutuhkan dan memenuhi standar.
Bagi “bos dapur” yang telanjur membaca MBG sebagai peluang ekspansi besar, moratorium ini bisa menjadi kabar yang kurang sedap. Hitungan bisnis yang semula tampak manis mulai perlu dikalkulasi ulang. Kalkulator pun bisa ikut lembur.
Halaman selanjutnya: 6 Dapur per Kecamatan, Dapur yang Ada Bisa Disuspend, Tak Ada Penambahaan Penerima Manfaat
























