lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Tepat 79 tahun lalu, suasana pagi di Tasikmalaya berubah menjadi mencekam. Sekitar pukul 06.00 WIB pada 21 Juli 1947, sebuah pesawat pengebom Mitchell milik Belanda menyerang sejumlah fasilitas penting yang menopang pemerintahan dan pertahanan Republik Indonesia.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., menjelaskan bahwa Tasikmalaya bukan dipilih secara acak. Daerah ini mempunyai kedudukan sangat strategis dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, khususnya di wilayah Jawa Barat.
“Tasikmalaya dibombardir Belanda karena saat itu memegang kedudukan yang sangat penting. Tasikmalaya bukan hanya menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat, tetapi juga menjadi markas Divisi Siliwangi dan pusat pertahanan Priangan Timur,” kata Ade Hendar, saat dihubungi Lintas Priangan melalui sambungan telepon, Selasa (21/07).
Pusat Pemerintahan dan Pertahanan Jawa Barat
Pada 1947, pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat berkedudukan di Tasikmalaya. Pemerintahan sipil dipimpin Gubernur Sewaka, sedangkan pertahanan wilayah berada dalam struktur Wehrkreise III.
Wehrkreise merupakan sistem pertahanan berbasis kantong-kantong perjuangan. Setiap wilayah dapat menjalankan perlawanan secara mandiri, tetapi tetap terhubung dengan satu komando pertahanan.
Wilayah Wehrkreise III mencakup Tasikmalaya dan Ciamis bagian selatan hingga perbatasan Jawa Tengah. Pusat pemerintahan dan komando militer berada dalam kawasan yang berdekatan agar informasi mengenai pergerakan pasukan Belanda dapat diterima dengan cepat.
Menurut Ade, kedudukan tersebut membuat Tasikmalaya menjadi salah satu urat nadi perjuangan Republik di Jawa Barat.
“Ketika pusat pemerintahan, pusat komando militer, sarana komunikasi, dan fasilitas penerbangan berada di satu wilayah, maka wilayah itu mempunyai nilai strategis yang sangat besar. Itulah posisi Tasikmalaya pada 1947,” ujarnya.
Ada Markas Siliwangi, Antara dan RRI
Menurut Ade, ada beberapa unsur strategis yang ketika itu berkedudukan di Tasikmalaya.
Unsur-unsur tersebut antara lain: pusat komando Divisi Siliwangi, staf Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pusat komando Wehrkreise III, kantor pemberitaan Antara dan Harian Merdeka, RRI Bandung dan RRI Priangan Timur, serta Lapangan Udara Cibeureum.
RRI Bandung ketika itu untuk sementara dipindahkan ke Tasikmalaya. Keberadaan radio dan kantor pemberitaan sangat penting karena informasi merupakan bagian dari perjuangan Republik. Melalui media itulah perkembangan perang, kebijakan pemerintah, serta semangat mempertahankan kemerdekaan dapat disebarluaskan.
“Belanda tidak hanya berusaha melumpuhkan kekuatan bersenjata. Sarana pemerintahan dan komunikasi juga menjadi sasaran karena memiliki peran besar dalam menjaga keberadaan Republik,” kata Ade.
Menurutnya, catatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Tasikmalaya pernah memegang peranan yang jauh lebih besar daripada yang selama ini diketahui sebagian masyarakat.
“Jejak sejarah ini harus dikenalkan kepada generasi muda. Mereka perlu mengetahui bahwa Tasikmalaya pernah menjadi salah satu pusat pemerintahan, pertahanan, dan penyebaran informasi Republik di Jawa Barat,” katanya.
Dua Gelombang Serangan dalam Sehari
Serangan udara pertama terjadi sekitar pukul 06.00 WIB. Pesawat pengebom Mitchell milik Belanda menggempur Lapangan Udara Cibeureum, pabrik senjata, RRI Bandung, percetakan dan kantor Harian Merdeka, Stasiun Tasikmalaya, serta Markas Divisi Siliwangi di Jalan Oto Iskandardinata.
Serangan berikutnya terjadi pada hari yang sama, sekitar pukul 14.15 sampai 14.30 WIB. Pesawat pemburu Belanda menembaki Lapangan Udara Cibeureum dan jalan menuju Manonjaya.
Kawasan Jalan Manonjaya, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Sutisna Senjaya, turut dihantam. Di kawasan tersebut terdapat kediaman Panglima Divisi Siliwangi.
Bom roket yang dijatuhkan pesawat Belanda menyebabkan sejumlah rumah penduduk rusak berat. Satu bom yang jatuh di halaman belakang kediaman Panglima Divisi Siliwangi dilaporkan tidak meledak.
Dua hari kemudian, pada 23 Juli 1947, Tasikmalaya kembali mendapat serangan udara. Dua pesawat tempur Belanda menyerang kawasan stasiun kereta api. Sebuah bom juga dijatuhkan di Jalan Galunggung hingga menghancurkan rumah penduduk di sekitarnya.
Markas Siliwangi Dipindahkan
Serangan tersebut membuat Panglima Divisi Siliwangi Kolonel A.H. Nasution menilai markas di Jalan Manonjaya tidak lagi aman. Markas Divisi Siliwangi kemudian dipindahkan ke Padayungan, sekitar tiga kilometer dari pusat kota.
Nasution juga memerintahkan persiapan pertahanan kota dan pembumihangusan sarana strategis agar tidak dapat digunakan pasukan Belanda. Komandan Pangkalan Udara Cibeureum diperintahkan membumihanguskan pangkalan beserta pesawat yang masih berada di sana.
Ancaman serangan turut memaksa penduduk meninggalkan pusat kota menuju daerah pedalaman. Pemindahan dilakukan untuk mengurangi risiko jatuhnya korban di kalangan masyarakat.
Pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan pusat komando Wehrkreise III akhirnya turut berpindah. Gubernur Sewaka memilih Lebaksiuh di wilayah selatan Tasikmalaya karena lokasinya dinilai lebih sulit dijangkau pasukan Belanda.
“Serangan itu tidak berhasil mengakhiri pemerintahan Republik di Jawa Barat. Pemerintahan dan pertahanan memang harus berpindah, tetapi tetap berjalan. Di situlah terlihat daya tahan para pejuang dan masyarakat Tasikmalaya,” ujar Ade.
Sejarah Tasikmalaya Perlu Dihidupkan
Ade menilai peringatan 79 tahun serangan tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai cerita perang. Peristiwa itu perlu menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali tempat-tempat bersejarah di Tasikmalaya.
Jalan Sutisna Senjaya, Jalan Oto Iskandardinata, Lapangan Udara Cibeureum, Stasiun Tasikmalaya, Padayungan, dan Jalan Galunggung merupakan bagian dari ruang keseharian masyarakat. Namun, tidak semua warga mengetahui bahwa kawasan tersebut pernah berhubungan langsung dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Sejarah akan tetap hidup apabila masyarakat mengenali tempat, tokoh, dan peristiwa yang terjadi di daerahnya sendiri. Tasikmalaya memiliki warisan perjuangan yang besar dan sudah semestinya dirawat sebagai bagian dari identitas daerah,” kata Ade.
Catatan sejarah memang belum memberikan angka pasti mengenai jumlah bom, korban, ataupun seluruh bangunan yang rusak. Namun, daftar sasaran dan perpindahan pusat pemerintahan memperlihatkan besarnya serangan tersebut.
Pagi 21 Juli 1947 menjadi bukti bahwa Tasikmalaya pernah berdiri di garis penting perjuangan Republik. Belanda membombardir kota ini justru karena perannya tidak kecil: menjadi pusat pemerintahan Jawa Barat, markas Siliwangi, benteng pertahanan Priangan Timur, sekaligus pusat komunikasi dan informasi perjuangan. (AS)
