lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Peringatan Hari Pramuka ke-65, Jumat (14/8/2026), dinilai dapat menjadi momentum untuk melibatkan generasi muda dalam memperkuat ketahanan pangan di Kota Tasikmalaya. Pramuka memiliki modal kuat untuk menanamkan kepedulian terhadap pangan sejak usia muda.
Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Aslim, mengatakan ketahanan pangan tidak semata-mata menjadi urusan pemerintah atau petani. Kesadaran menjaga sumber pangan, lingkungan, serta memanfaatkan lahan yang tersedia menurutnya dapat mulai dikenalkan melalui kegiatan sederhana di keluarga, sekolah, maupun gugus depan Pramuka.
“Pramuka mengajarkan kemandirian, kerja sama dan kepedulian terhadap lingkungan. Nilai-nilai itu sangat dekat dengan persoalan pangan. Anak-anak bisa mulai dikenalkan bahwa menjaga pangan juga bagian dari menjaga masa depan,” kata Aslim saat diwawancarai Lintas Priangan melalui sambungan telepon, Jumat (14/8/2026).
Tren Produksi Perlu Dijaga
Aslim menilai perhatian terhadap pangan menjadi relevan karena Kota Tasikmalaya memiliki potensi produksi yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Tasikmalaya menunjukkan produksi padi pada 2025 mengalami peningkatan dibandingkan 2024. Menurut Aslim, perkembangan tersebut menjadi sinyal positif yang perlu dipertahankan agar memberikan manfaat jangka panjang bagi ketahanan pangan di Kota Tasikmalaya.
“Data statistik menunjukkan ada peningkatan pada 2025 dibandingkan 2024. Ini tentu perkembangan yang baik. Tantangannya sekarang bagaimana kita menjaganya, supaya kemampuan daerah dalam menyediakan pangan semakin kuat dan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Aslim, peningkatan produksi pada satu periode tidak boleh membuat semua pihak cepat berpuas diri. Ketahanan pangan memiliki persoalan yang lebih luas, mulai dari keberlanjutan lahan pertanian, produktivitas, keterjangkauan harga hingga kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga sumber pangan.
Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi penting. Bukan untuk menggantikan peran petani, tetapi menanamkan pemahaman bahwa pangan merupakan bagian penting dari kemandirian sebuah daerah.
Dimulai dari Hal Sederhana
Tema Hari Pramuka ke-65 tahun 2026, “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045,” menurut Aslim relevan dengan kebutuhan daerah.
Ia menilai tema tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kegiatan yang sederhana dan dekat dengan keseharian anggota Pramuka.
Gugus depan, misalnya, dapat mengenalkan kegiatan menanam di pekarangan, pembibitan, pemanfaatan lahan terbatas, menjaga lingkungan hingga membangun kebiasaan tidak menyia-nyiakan makanan.
“Tidak harus selalu dimulai dari program besar. Menanam beberapa jenis tanaman di lingkungan sekolah saja sudah menjadi proses belajar. Anak-anak menjadi tahu bahwa makanan yang mereka konsumsi setiap hari membutuhkan proses, lahan dan kerja banyak orang,” katanya.
Menurut Aslim, pemahaman semacam itu penting ditanamkan sejak dini karena tantangan pangan akan terus berkembang seiring pertumbuhan penduduk dan perubahan lingkungan.
“Kalau kesadaran itu ditanamkan sejak muda, hasilnya mungkin tidak kita rasakan besok pagi. Tetapi sepuluh atau dua puluh tahun mendatang, kita mempunyai generasi yang memahami bahwa pangan tidak hadir begitu saja di atas meja,” ujarnya.
Aslim berharap peringatan Hari Pramuka tidak berhenti pada seremoni. Nilai kemandirian yang selama ini menjadi salah satu identitas Pramuka dinilainya dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang bersentuhan dengan kebutuhan nyata masyarakat.
“Semangat Pramuka adalah kemandirian. Dalam konteks hari ini, salah satu bentuk kemandirian yang sangat penting adalah kemampuan menjaga pangan. Dari hal-hal kecil itulah kita bisa ikut memperkuat ketahanan daerah,” pungkasnya. (NS/AS)







