lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Hari Pramuka ke-65 yang diperingati Jumat (14/8/2026) bukan hanya penanda perjalanan Gerakan Pramuka sejak diperkenalkan secara resmi pada 14 Agustus 1961. Di belakangnya terdapat sejarah kepanduan Indonesia yang telah tumbuh jauh sebelumnya, termasuk jejak organisasi kepanduan di lingkungan Pasundan.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tasikmalaya, Drs. Ade Hendar, M.M., memandang jejak sejarah tersebut penting dikenalkan kepada generasi muda. Menurutnya, Pramuka hari ini mewarisi semangat panjang kepanduan yang sejak awal tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membentuk disiplin, persaudaraan dan rasa kebangsaan.
“Pramuka yang kita kenal hari ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang. Sebelum Gerakan Pramuka lahir, pendidikan kepanduan sudah berkembang di Indonesia, termasuk di lingkungan masyarakat Pasundan. Jadi ada nilai dan semangat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Ade Hendar saat diwawancarai Lintas Priangan melalui sambungan telepon, Jumat (14/8/2026).
Jejak Pasundan dalam Sejarah Kepanduan
Catatan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka menyebut gerakan pendidikan kepanduan di Indonesia sudah muncul sejak 1912, ketika latihan sekelompok pandu berlangsung di Batavia. Pada 1916 kemudian berdiri Javaansche Padvinders Organisatie yang seluruh anggotanya merupakan pandu bumiputera. Setelah itu, berbagai organisasi kepanduan berbasis agama, kelompok maupun daerah tumbuh di sejumlah wilayah.
Di antara organisasi yang dicatat Kwarnas terdapat Padvinders Organisatie Pasundan (POP). Nama tersebut berdampingan dengan berbagai organisasi kepanduan lain seperti Hizbul Wathan, Nationale Padvinderij, Kepanduan Bangsa Indonesia, Pandu Indonesia, Pandu Ansor dan organisasi kepanduan lainnya.
Jejak kepanduan di wilayah Pasundan juga terlihat dalam keterlibatan pandu bumiputera dari Bandung pada Jambore Kepanduan Sedunia 1937 di Belanda. Kontingen Hindia-Belanda saat itu terdiri atas pandu keturunan Belanda serta pandu bumiputera dari Batavia dan Bandung, Pandu Mangkunegaran, Ambon, serta pandu keturunan Tionghoa dan Arab.
Bagi Ade, catatan tersebut menunjukkan bahwa kepanduan sejak lama hidup di tengah masyarakat dengan latar belakang yang beragam.
“Ini menarik untuk diketahui anak-anak kita. Masyarakat Pasundan pun mempunyai bagian dalam perjalanan kepanduan Indonesia. Nilai yang dibawa tetap relevan sampai sekarang: disiplin, hidup bersama, saling menghormati, bekerja dalam kelompok dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi,” ujarnya.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut memiliki hubungan erat dengan pendidikan kebangsaan. Kesbangpol Kota Tasikmalaya sendiri memiliki tugas di antaranya dalam pembinaan ideologi Pancasila, wawasan kebangsaan, karakter bangsa, Bhinneka Tunggal Ika serta pembauran kebangsaan.
Karena itu, Ade menilai Pramuka merupakan salah satu ruang yang efektif untuk membuat nilai kebangsaan tidak berhenti sebagai pengetahuan.
“Wawasan kebangsaan tidak cukup hanya diketahui. Nilainya harus dialami dan dibiasakan. Di Pramuka anak belajar hidup dalam regu, menerima tanggung jawab, memimpin dan dipimpin, bekerja sama, menolong orang lain. Di situlah nilai kebangsaan menjadi praktik sehari-hari,” katanya.
Dari Banyak Organisasi Menjadi Satu Pramuka
Sejarah kepanduan Indonesia juga memperlihatkan perjalanan panjang menuju persatuan. Kwarnas mencatat kepanduan Indonesia pernah berkembang menjadi sekitar 100 organisasi yang tergabung dalam Persatuan Kepanduan Indonesia atau Perkindo. Banyaknya organisasi dengan latar berbeda kemudian melahirkan gagasan untuk melebur gerakan kepanduan dalam satu wadah.
Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Berbagai organisasi kepanduan kemudian dilebur dalam Gerakan Pramuka, yang diperkenalkan secara resmi kepada masyarakat pada 14 Agustus 1961. Tanggal itu selanjutnya diperingati sebagai Hari Pramuka.
Menurut Ade, bagian sejarah tersebut mempunyai pesan yang kuat untuk generasi sekarang.
“Dulu terdapat banyak organisasi dengan identitas masing-masing, tetapi akhirnya mampu bertemu dalam satu Gerakan Pramuka. Ada pesan persatuan di sana. Perbedaan tidak harus membuat kita berjalan sendiri-sendiri,” katanya.
Pada usia ke-65 tahun ini, Gerakan Pramuka telah berkembang menjadi jaringan besar. Data Kwarnas pada 2026 mencatat terdapat 35 kwartir daerah, 514 kwartir cabang, 5.277 kwartir ranting, dan 239.877 gugus depan di Indonesia.
Ade berharap besarnya jaringan tersebut tidak sekadar terlihat dari struktur organisasi. Menurutnya, kekuatan utama Pramuka tetap berada pada kemampuannya menanamkan karakter kepada generasi muda.
“Jejak panjang kepanduan itu jangan hanya menjadi catatan sejarah. Warisan terpentingnya adalah bagaimana generasi hari ini tetap memiliki karakter, kepedulian, rasa persaudaraan dan kecintaan kepada bangsa,” ujarnya.
Bagi Kesbangpol Kota Tasikmalaya, momentum Hari Pramuka juga menjadi pengingat bahwa pendidikan kebangsaan dapat tumbuh melalui banyak jalan. Salah satunya melalui kegiatan yang sejak lebih dari satu abad lalu telah mengajarkan anak muda Indonesia untuk hidup mandiri tanpa kehilangan semangat kebersamaan.
“Zaman boleh berubah, bentuk kegiatannya juga bisa berkembang. Tetapi selama Pramuka tetap menjaga semangat persatuan, gotong royong dan pengabdian, nilai kepanduan yang diwariskan para pendahulu akan terus hidup,” pungkas Ade. (NS/AS)







