lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Air baru benar-benar terasa berharganya ketika keran tak lagi mengalir seperti biasa.
Di Kabupaten Ciamis, kemarau membuat kenyataan itu dirasakan puluhan ribu warga. Hingga 15 September 2026, sebanyak 33.878 warga di 20 kecamatan tercatat terdampak kekurangan air bersih. Sementara itu, status siaga darurat kekeringan masih berlaku hingga 30 September 2026.
Angka 33.878 bukan sekadar statistik.
Di baliknya ada keluarga yang membutuhkan air untuk minum. Ada ibu yang harus memasak. Ada anak-anak yang harus mandi. Ada rumah tangga yang setiap hari membutuhkan air untuk menjalani kehidupan paling sederhana sekalipun.
Di tengah situasi seperti itulah PerumDAM Tirta Galuh Ciamis menempatkan pelayanan air bersih bukan sekadar sebagai pekerjaan perusahaan.
Bagi Direktur PerumDAM Tirta Galuh Ciamis, Amsi Yudi Purwanto, S.E., M.T., kekeringan sekaligus menjadi pengingat mengenai alasan perusahaan daerah itu hadir.
“PerumDAM ini bukan semata-mata bicara perusahaan dan keuntungan. Ini perusahaan milik daerah, milik masyarakat. Ketika masyarakat sedang kesulitan mendapatkan air bersih, tentu kami tidak boleh berdiri jauh. Apa yang bisa kami lakukan dengan kemampuan dan sumber daya yang kami miliki, akan kami upayakan semaksimal mungkin,” ujar Amsi.
PerumDAM memang harus tumbuh sebagai perusahaan yang sehat. Operasional harus terjaga. Pelayanan kepada pelanggan harus berjalan. Keberlangsungan perusahaan juga harus dipastikan.
Namun ada satu hal yang membedakan perusahaan air minum dengan banyak jenis usaha lainnya.
Yang dikelola adalah air.
Sesuatu yang mungkin terasa biasa ketika tersedia, tetapi menjadi sangat berarti ketika sulit didapatkan.
Karena itu, bagi jajaran PerumDAM Tirta Galuh, pekerjaan tidak berhenti pada jaringan perpipaan, instalasi, meter pelanggan, atau urusan teknis sehari-hari.
Di ujung seluruh pekerjaan itu ada masyarakat.
Ada rumah yang menunggu air mengalir.
Ada keluarga yang berharap kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi.
Dan ketika kemarau membuat sebagian masyarakat harus berhadapan dengan kesulitan mendapatkan air bersih, nilai sebuah perusahaan pelayanan publik justru diuji dari seberapa dekat ia hadir dengan kebutuhan warga.
Penanganan kekeringan tentu bukan pekerjaan satu lembaga. Pemerintah daerah, BPBD, pemerintah wilayah, PerumDAM, dan berbagai unsur lainnya memiliki kapasitas serta peran masing-masing.
Amsi pun tidak menempatkan PerumDAM seolah mampu menyelesaikan seluruh dampak kekeringan sendirian.
Namun menurut dia, keterbatasan bukan alasan untuk kehilangan kepedulian.
“Kami mungkin tidak bisa menyelesaikan seluruh persoalan kekeringan sendirian. Tetapi kami ingin masyarakat tahu bahwa PerumDAM Tirta Galuh ada bersama masyarakat. Selama masih ada kemampuan yang bisa kami kerahkan, selama masih ada ruang untuk membantu, kami akan berusaha hadir. Karena pada akhirnya yang kami kelola bukan hanya air dan jaringan. Ada kebutuhan masyarakat di sana, dan ada kepercayaan masyarakat yang harus kami jaga,” katanya.
Pernyataan itu juga membawa pesan tersendiri bagi seluruh pegawai PerumDAM Tirta Galuh.
Setiap pekerjaan yang mereka lakukan mungkin terlihat sebagai rutinitas sehari-hari.
Tetapi bagi masyarakat, hasil pekerjaan itu bisa berarti jauh lebih besar.
Satu aliran air berarti sebuah keluarga bisa memasak.
Air yang tetap tersedia berarti anak-anak bisa mandi sebelum sekolah.
Pelayanan yang tetap terjaga berarti masyarakat tidak merasa sendirian ketika kemarau datang.
Pada titik itulah pekerjaan di PerumDAM menemukan maknanya.
Bukan hanya memastikan air sampai ke pelanggan.
Tetapi memastikan bahwa ketika masyarakat menghadapi kesulitan, PerumDAM Tirta Galuh tetap berada di sisi mereka.
Amsi pun mengajak masyarakat untuk tidak ragu menyampaikan kendala terkait pelayanan maupun kebutuhan informasi air bersih kepada PerumDAM Tirta Galuh. Masyarakat dapat menghubungi layanan WhatsApp 0821 2828 2323, telepon (0265) 772094, atau menyampaikan pengaduan melalui kanal resmi PerumDAM Tirta Galuh.
“Kalau ada kendala, jangan ragu menghubungi kami. Sampaikan kepada PerumDAM, supaya kami tahu apa yang terjadi di lapangan dan bisa melihat apa yang dapat kami lakukan. Dalam situasi seperti sekarang, komunikasi dengan masyarakat sangat penting. Kami ingin pelayanan ini benar-benar terasa dan masyarakat tahu bahwa ketika membutuhkan kami, PerumDAM Tirta Galuh bisa dihubungi,” pungkas Amsi. (AR/HS)







