lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Lintas Priangan membuka pelatihan gratis penggunaan Mata Rakyat, aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk membantu masyarakat menelusuri, membaca, membandingkan, dan menganalisis belanja Pemerintah Kota Tasikmalaya.
Pelatihan perdana akan digelar Rabu, 30 September 2026, pukul 16.00–18.00 WIB, dan terbuka untuk umum. Wartawan, mahasiswa, akademisi, aktivis, organisasi masyarakat maupun warga yang ingin belajar membaca belanja pemerintah dapat mengikutinya tanpa dipungut biaya.
Mata Rakyat saat ini masih merupakan versi awal. Namun skala data yang sudah masuk tidak lagi kecil.
Untuk periode 2024, 2025, dan 2026, sistem telah mengindeks lebih dari 10 ribu file yang berkaitan dengan rencana maupun pelaksanaan belanja pada Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya dan Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.
Proses berikutnya sedang berjalan untuk memasukkan data perangkat daerah ketiga, yakni Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Tasikmalaya, untuk periode tiga tahun yang sama.
Target pengembangannya lebih luas: seluruh OPD Pemerintah Kota Tasikmalaya nantinya dapat masuk ke dalam ekosistem Mata Rakyat.
Dengan demikian, pengguna tidak hanya dapat mencari satu paket atau satu angka, tetapi dapat melihat pola belanja satu dinas selama beberapa tahun, membandingkannya dengan dinas lain, lalu mengajukan pertanyaan lebih dalam terhadap data tersebut.
Ribuan File Tidak Lagi Harus Dibaca Satu per Satu
Mata Rakyat dikembangkan bukan sebagai gudang dokumen.
Ribuan data yang telah diindeks dihubungkan dengan kemampuan AI sehingga dapat ditelusuri menggunakan bahasa sehari-hari.
Masyarakat tidak harus hafal kode RUP, kode paket, nomenklatur kegiatan, nama subkegiatan, maupun istilah teknis pengadaan.
Pengguna cukup bertanya.
Misalnya:
“Berapa total belanja kertas Dinas Pendidikan pada 2024, 2025, dan 2026?”
Mata Rakyat dapat mengumpulkan data yang berkaitan dengan kertas, mengelompokkannya berdasarkan tahun dan kegiatan, lalu menghitung jumlah dan nilainya.
Pertanyaan kemudian dapat diteruskan:
“Kalau dihitung berdasarkan hari kerja, berapa rata-rata pemakaian kertas per hari?”
Di sinilah AI tidak lagi hanya berfungsi mencari.
Ia mulai menghitung dan menakar kewajaran volume.
Jika ditemukan volume yang sangat besar, pengguna bisa kembali bertanya: untuk kegiatan apa, berapa frekuensinya, bagaimana perbandingannya dengan tahun sebelumnya, dan dari mana angka kebutuhan tersebut berasal.
Satu angka kemudian dapat dibongkar menjadi rangkaian pertanyaan.
Tinta Refill Bisa Dipertemukan dengan Kertas
Kemampuan serupa dapat digunakan untuk membaca pembelian ATK yang selama ini tersebar dalam banyak paket kecil.
Contohnya tinta printer refill.
Pengguna dapat meminta Mata Rakyat menghitung seluruh pembelian tinta pada satu dinas selama satu tahun. Setelah itu, AI dapat diminta mencari pembelian kertas pada periode yang sama.
Kemudian keduanya dipertemukan.
Berapa tinta yang dibeli?
Berapa kertas yang tersedia?
Berapa kemampuan cetak tinta tersebut berdasarkan spesifikasinya?
Berapa kebutuhan cetak yang secara matematis mungkin dilakukan?
Jika volume tinta secara teoritis dapat menghasilkan jumlah cetakan yang jauh lebih besar daripada volume kertas yang dibeli, kejanggalannya akan langsung terlihat dari angka.
Begitu pula sebaliknya.
Cara kerja semacam ini membuat pengawasan tidak hanya terpaku pada harga satuan.
Sebab belanja dengan harga satuan normal tetap dapat menyimpan pertanyaan apabila volumenya tidak sebanding dengan kebutuhan.
Dari tinta, kertas, alat tulis, makan-minum, perjalanan dinas, BBM hingga pemeliharaan kendaraan, logikanya sama: data dikumpulkan, dihubungkan, lalu dihitung.
Yang Kecil-Kecil Kalau Dikumpulkan Bisa Bicara
Belanja bernilai kecil sering kali tidak menarik perhatian apabila diperiksa satu per satu.
Rp1 juta terlihat kecil.
Rp3 juta terlihat biasa.
Rp5 juta mungkin tidak menarik perhatian.
Tetapi jika jenis belanja serupa muncul puluhan atau ratusan kali dalam satu tahun, gambarannya berubah.
Mata Rakyat dapat diperintah:
“Cari seluruh belanja ATK dinas ini dalam tiga tahun terakhir dan hitung totalnya.”
Lalu:
“Kelompokkan berdasarkan jenis barang.”
Lalu:
“Mana yang volumenya paling besar?”
Kemudian:
“Bandingkan dengan tahun sebelumnya.”
Dalam hitungan percakapan, pengguna dapat bergerak dari satu transaksi kecil menuju gambaran pola belanja tiga tahun.
Itulah salah satu kemampuan yang akan diperkenalkan dalam pelatihan gratis nanti.
Bukan Hanya Volume, Skema Pengadaan Juga Bisa Dibaca
Mata Rakyat juga diarahkan untuk membaca cara pemerintah memilih skema pengadaan.
Salah satu contoh yang telah muncul dalam penelusuran data adalah belanja iklan pada Bappeda Kota Tasikmalaya yang tercatat menggunakan skema swakelola Tipe I.
Dari satu entri tersebut saja, pengguna dapat langsung membuka rangkaian pertanyaan:
Mengapa belanja iklan ditempatkan dalam swakelola?
Apa sebenarnya bentuk pekerjaannya?
Apa yang dikerjakan sendiri oleh perangkat daerah?
Komponen apa yang membutuhkan pihak luar?
Bagaimana realisasinya?
Apakah pada data pelaksanaan terdapat penyedia atau transaksi lanjutan?
Dengan AI, pertanyaan tersebut dapat dikembangkan dengan menelusuri data lain yang mempunyai hubungan dengan paket yang sama.
Mata Rakyat dikembangkan untuk membuat berbagai jejak data semacam itu semakin mudah dibaca bersama-sama, bukan sebagai potongan informasi yang terpisah.
Dari Rencana sampai Pelaksanaan
Inilah alasan Mata Rakyat tidak hanya diarahkan pada Rencana Umum Pengadaan.
Data rencana penting karena dari sanalah publik dapat membaca apa yang hendak dibeli pemerintah, berapa volumenya, berapa anggarannya, dan melalui cara apa pengadaannya direncanakan.
Namun pekerjaan tidak selesai di sana.
Data pelaksanaan juga penting.
Berapa akhirnya nilai kontraknya?
Siapa penyedianya?
Bagaimana metode pengadaannya?
Apakah paket yang direncanakan benar-benar dilaksanakan?
Apakah nilainya berubah?
Apakah terdapat pengadaan sejenis melalui kanal berbeda?
Karena itu, pengembangan Mata Rakyat juga diarahkan pada integrasi data SPSE dan data pelaksanaan pengadaan lainnya.
Ketika rencana dan pelaksanaan berada dalam satu ruang analisis, masyarakat dapat mulai mengikuti perjalanan belanja pemerintah dari awal sampai akhir.
AI Bisa Diajak Mencari Kejanggalan
Dengan ribuan file yang telah terindeks, pertanyaan tidak harus selalu menyebut nama barang tertentu.
Pengguna juga dapat meminta AI mencari pola.
Misalnya:
“Cari belanja dengan kenaikan volume paling besar dari 2024 ke 2026.”
Atau:
“Cari barang yang dibeli berulang kali dalam jumlah besar.”
Atau:
“Tunjukkan paket yang skema pengadaannya tidak lazim dibandingkan karakter barang atau jasanya.”
Atau:
“Cari pembelian yang tersebar dalam banyak paket kecil tetapi secara substansi berkaitan dengan kebutuhan yang sama.”
Bahkan dapat ditanyakan:
“Dari seluruh data Dinas Pendidikan, mana yang paling menarik diperiksa lebih dalam dan mengapa?”
AI kemudian menyisir ribuan data dalam ruang lingkup yang diminta, mencari keterkaitan, menghitung, dan menyajikan bagian yang paling relevan.
Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan berjam-jam membuka dokumen dapat dipangkas menjadi rangkaian pertanyaan.
Pelatihan Gratis Agar Tidak Hanya Dipakai Redaksi
Lintas Priangan membuka pelatihan Mata Rakyat karena aplikasi tersebut tidak ingin hanya menjadi perangkat kerja internal media.
Harapannya, semakin banyak orang mampu memanfaatkannya.
Wartawan dapat menggunakannya untuk menemukan bahan awal liputan.
Mahasiswa dapat menggunakannya untuk penelitian.
Akademisi dapat menggunakannya untuk membaca kebijakan anggaran.
Aktivis dapat menggunakannya sebagai perangkat kontrol sosial.
Masyarakat dapat menggunakannya untuk mengetahui bagaimana pemerintah menggunakan uang publik.
Pelatihan akan diarahkan pada penggunaan praktis.
Peserta akan belajar bagaimana membuat pertanyaan yang tepat, menentukan ruang lingkup pencarian, membandingkan beberapa tahun, membaca volume, mencari pola pembelian berulang, menelusuri metode pengadaan, hingga mengembangkan satu temuan data menjadi bahan penelusuran yang lebih dalam.
Karena kekuatan Mata Rakyat bukan hanya terletak pada banyaknya data.
Kekuatan sebenarnya terletak pada kemampuan mengajukan pertanyaan kepada data tersebut.
Baru Dua Dinas, Sudah Lebih dari 10 Ribu File
Tahap awal Mata Rakyat sekaligus memperlihatkan betapa besarnya data pengadaan sebuah pemerintah daerah.
Baru tiga tahun data pada dua perangkat daerah—Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan—jumlah file yang telah diindeks sudah lebih dari 10 ribu.
Sekarang BPKAD sedang masuk.
Berikutnya perangkat daerah lain akan menyusul secara bertahap.
Ketika seluruh OPD akhirnya dapat terhubung, masyarakat nantinya bisa melihat belanja Pemkot Tasikmalaya dalam skala yang jauh lebih luas.
Bukan sekadar:
“Dinas ini membeli apa?”
Tetapi:
“Mengapa membeli itu?”
“Berapa banyak?”
“Apakah volumenya masuk akal?”
“Apakah dinas lain membeli barang yang sama?”
“Bagaimana cara pengadaannya?”
“Siapa penyedianya?”
“Bagaimana polanya selama tiga tahun?”
Dan apabila satu jawaban melahirkan pertanyaan baru, pengguna tinggal bertanya lagi.
Itulah fungsi yang ingin diperkenalkan Lintas Priangan kepada publik melalui pelatihan Mata Rakyat.
Rabu, 30 September 2026. Pukul 16.00–18.00 WIB. Gratis dan terbuka untuk umum.
Pendaftaran dan informasi: Admin Lintas Priangan, WhatsApp 0815 7373 11 58.
Sebab pengawasan anggaran tidak harus selalu dimulai dari ruang audit.
Ia bisa dimulai dari seorang warga yang bertanya: uangnya dipakai untuk apa? (NS/AS)







