lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Pemandangan yang biasanya dipenuhi perahu wisata hilir mudik kini berganti hamparan lumpur yang retak. Musim kemarau membuat Situ Gede Tasikmalaya mengering dan mengalami penyusutan air cukup drastis. Puluhan perahu kayu yang biasanya mengantar wisatawan kini hanya bisa bersandar di daratan yang semakin meluas.
Fenomena tersebut terlihat di kawasan Objek Wisata Situ Gede, Jalan Situ Gede, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Senin (20/7/2026). Danau yang selama ini menjadi salah satu ikon wisata air Kota Tasikmalaya tampak kehilangan sebagian besar genangan airnya.
Puluhan Perahu Tak Lagi Beroperasi
Agus, salah seorang juru perahu, mengatakan aktivitas wisata air mulai menurun sejak sekitar dua bulan terakhir. Kondisi semakin memburuk ketika puncak musim kemarau tiba.
“Sebelumnya puluhan perahu terlihat hilir mudik. Sekarang terparkir di atas tanah yang retak. Dermaga kayu menggantung jauh dari permukaan air,” ujar Agus.
Akibat surutnya permukaan air hingga belasan meter dari bibir danau, puluhan perahu wisata terpaksa diparkir di kawasan yang kini berubah menjadi daratan berlumpur.
Menurut warga, kondisi tersebut dipicu musim kemarau yang berkepanjangan. Selain itu, sedimentasi yang terus terjadi dari tahun ke tahun membuat Situ Gede semakin dangkal.
Danau Menyusut, Lumpur dan Rumput Mendominasi
Warga menyebut luas Situ Gede mencapai sekitar 36 hektare. Namun saat ini, hanya sekitar sepertiga kawasan yang masih tertutup air. Sisanya berubah menjadi hamparan lumpur yang ditumbuhi rumput liar.
Selain faktor kemarau, pendangkalan akibat sedimentasi, berkurangnya daerah resapan air, hingga menipisnya tutupan pohon di kawasan hulu disebut turut mempercepat penyusutan debit air.
“Kalau memasuki musim kemarau panjang memang seperti ini. Tahun lalu juga Situ Gede sempat kering sampai dijadikan lapangan sepak bola,” kata seorang warga.
Wisatawan Menurun, Pedagang Ikut Terdampak
Surutnya air Situ Gede Tasikmalaya tidak hanya mengubah pemandangan, tetapi juga memukul aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Jumlah wisatawan disebut turun drastis dibandingkan saat kondisi air masih normal. Sejumlah warung di sekitar objek wisata bahkan memilih tutup karena sepinya pengunjung.
Kini, sebagian besar wisatawan yang datang hanya sekadar melihat kondisi Situ Gede, berfoto, lalu kembali pulang tanpa menikmati wahana perahu seperti biasanya.
Pendapatan Juru Perahu Anjlok
Bagi para juru perahu, musim kemarau kali ini menjadi pukulan berat.
Agus mengaku sebelumnya mampu mengantar wisatawan hingga belasan kali dalam sehari dengan pendapatan mencapai sekitar Rp300 ribu. Kini, penghasilannya nyaris hilang karena seluruh perahu tidak bisa beroperasi.
“Dulu sehari narik 15 kali, dapat Rp300 ribu. Sekarang mah enggak dapat apa-apa. Perahu diparkir, ada yang akhirnya menjala ikan. Mau dayung di mana, airnya saja sudah enggak ada,” keluhnya.
Ia berharap ada langkah nyata untuk mengatasi pendangkalan Situ Gede agar kawasan wisata tersebut tidak terus mengalami kondisi serupa setiap musim kemarau.
“Malunya minta ampun. Masa ikon kota jadi kayak begini. Jalan menuju objek wisata juga rusak, padahal setiap hari ada pungutan karcis,” pungkasnya. (KRS/HS)
