lintaspriangan.com, BERITA BANDUNG. Pada Sabtu, 25 Juli 2026, genap 75 tahun sejak Pameran PBB Bandung dibuka di Gedung Pusat Kebudayaan, Kota Bandung. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mencatat acara pada 25 Juli 1951 itu sebagai eksposisi Perserikatan Bangsa-Bangsa pertama di Asia Tenggara. Unggahan resmi ANRI menyebut pameran berlangsung hingga 8 Agustus 1951—hanya 300 hari setelah Indonesia diterima sebagai anggota PBB.
Peristiwa ini kalah populer dari Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955. Namun, justru di situlah nilainya: empat tahun sebelum Bandung menjadi panggung perundingan 29 negara Asia-Afrika, sebuah ruang kebudayaan di Jalan Naripan sudah mempertemukan warga dengan gagasan organisasi dunia. Jejak tersebut membantu menjawab pertanyaan yang lebih tahan lama: bagaimana Bandung membangun identitas internasionalnya, dan mengapa ingatan kota tidak seharusnya berhenti pada satu konferensi?
Pameran PBB Bandung Saat Indonesia Baru Menjadi Anggota
Konteks waktunya menentukan makna peristiwa. Menurut PBB di Indonesia, Republik Indonesia resmi menjadi anggota ke-60 pada 28 September 1950 melalui pemungutan suara bulat. Ketika pameran dibuka pada 25 Juli 1951, usia keanggotaan Indonesia bahkan belum sepuluh bulan. Selisih tepatnya 300 hari, berdasarkan perhitungan redaksi dari kedua tanggal resmi tersebut.
Ini merupakan fase awal hubungan negara yang baru memperoleh pengakuan kedaulatan dengan lembaga multilateral yang juga masih muda. PBB berdiri pada 1945. Keanggotaannya kini mencapai 193 negara, lebih dari tiga kali jumlah anggota ketika Indonesia masuk. Perbandingan itu bukan untuk menyamakan dunia 1951 dan 2026, melainkan menunjukkan seberapa dini Bandung menjadi lokasi komunikasi publik sebuah organisasi yang cakupannya kemudian nyaris universal.
ANRI memublikasikan kembali cuplikan layar arsip video tersebut pada 25 Juli 2025. Tanggal publikasi arsip itu berbeda dari tanggal kejadian, yakni 25 Juli 1951. Keterangan katalog ANRI memastikan statusnya sebagai pameran pertama PBB di Asia Tenggara dan lokusnya di Gedung Pusat Kebudayaan Bandung. Akan tetapi, katalog daring yang tersedia tidak mencantumkan jumlah pengunjung, daftar benda pamer, biaya, atau susunan lengkap panitia.
Keterbatasan tersebut penting dinyatakan. Tanpa katalog acara atau laporan penyelenggara yang lebih terperinci, tidak tepat mengarang isi ruangan maupun mengklaim dampak langsungnya terhadap kebijakan luar negeri. Yang dapat dipastikan ialah warga Bandung memiliki sebuah pintu masuk publik untuk mengenal PBB pada masa awal keanggotaan Indonesia.
Mengapa Pameran Menjadi Alat Diplomasi Publik
Pameran berbeda dari sidang diplomatik. Dalam konferensi, delegasi berunding dan menghasilkan keputusan. Dalam pameran, lembaga menerjemahkan identitas, tujuan, dan pekerjaannya ke bentuk yang dapat dilihat khalayak. Karena itu, eksposisi 1951 lebih tepat dibaca sebagai komunikasi publik internasional, bukan sebagai konferensi antarnegara.
Kajian Olga Touloumi dalam buku Assembly by Design: The United Nations and Its Global Interior, yang diterbitkan University of Minnesota Press pada 2024, membantu menjelaskan mekanismenya. Berdasarkan arsip institusional, Touloumi menunjukkan bahwa PBB awal membangun ruang, simbol, dan infrastruktur media sebagai sarana berkomunikasi dengan dunia. Markas bukan sekadar gedung administrasi; desain dan media menjadi bagian dari cara multilateralisme dipresentasikan kepada publik, termasuk di luar pusat utamanya.
Kerangka tersebut tidak membuktikan motif khusus panitia Bandung karena dokumen acara yang ditemukan belum menguraikannya. Namun, kerangka itu menjelaskan mengapa format pameran relevan pada awal 1950-an. Organisasi internasional yang abstrak perlu dibuat kasatmata. Bagi negara anggota baru, komunikasi semacam ini juga memperpendek jarak antara diplomasi di ruang elite dan pemahaman masyarakat.
Garis Waktu Bandung Menuju Panggung Dunia
Timeline diplomasi dan ruang publik Bandung, 1950–2025
| Tanggal atau periode | Peristiwa | Lokus | Skala atau fungsi | Makna |
|---|---|---|---|---|
| 28 September 1950 | Indonesia diterima di PBB | Majelis Umum PBB | Anggota ke-60 | Awal keanggotaan resmi Indonesia |
| 25 Juli–8 Agustus 1951 | Pameran PBB pertama di Asia Tenggara | Gedung Pusat Kebudayaan | Eksposisi publik | PBB diperkenalkan melalui ruang kebudayaan |
| 18–24 April 1955 | Konferensi Asia Afrika | Gedung Merdeka | Konferensi 29 negara | Forum perdamaian, kerja sama, dan antikolonialisme |
| 2015 | Arsip KAA masuk Memory of the World | UNESCO | Warisan dokumenter dunia | Nilai global arsip Bandung diakui |
| 30 Desember 2025 | Rehabilitasi Gedung Pusat Kebudayaan diresmikan | Jalan Naripan | Pelestarian ruang budaya | Gedung kembali disiapkan sebagai ruang publik |
Sumber: ANRI, PBB di Indonesia, Museum Konferensi Asia Afrika, UNESCO, dan Disparbud Jawa Barat. Catatan: pameran 1951 dan konferensi 1955 berbeda jenis, tujuan, serta skala. Tabel menunjukkan urutan sejarah, bukan hubungan sebab-akibat.
Bandung Internasional Sebelum Konferensi Asia Afrika
Pameran PBB dibuka 1.363 hari sebelum KAA dimulai pada 18 April 1955. Jarak sekitar tiga tahun sembilan bulan itu menempatkannya sebagai pendahulu kronologis, tetapi bukan bukti bahwa pameran melahirkan konferensi.
Sumber resmi Museum Konferensi Asia Afrika menelusuri gagasan konferensi dari proses diplomasi pada 1954: Konferensi Kolombo, pendekatan Indonesia kepada negara-negara Asia-Afrika, serta Konferensi Bogor pada Desember 1954. Bandung kemudian ditunjuk sebagai lokasi konferensi oleh Presiden Soekarno.
Pembedaan ini mencegah sejarah berubah menjadi cerita sebab-akibat yang terlalu rapi. Pameran 1951 memperlihatkan Bandung sebagai lokus komunikasi internasional kepada publik. KAA 1955 merupakan pertemuan politik yang disiapkan lima negara sponsor dan dihadiri 29 negara.
UNESCO menyebut KAA sebagai sidang internasional pertama bangsa-bangsa Asia-Afrika. Konferensi yang berlangsung pada 18–24 April 1955 itu bertujuan mendorong perdamaian dunia, kerja sama, serta kebebasan dari kolonialisme dan imperialisme.
KAA juga meninggalkan jejak dokumenter yang jauh lebih lengkap. Arsip berupa dokumen, foto, dan film dimasukkan ke dalam Memory of the World UNESCO pada 2015. Sebaliknya, informasi daring tentang pameran 1951 masih tipis. Ketimpangan dokumentasi inilah yang ikut menjelaskan mengapa satu peristiwa melekat kuat dalam ingatan publik, sementara peristiwa lainnya nyaris menjadi catatan kaki.
Meski demikian, keduanya memperlihatkan dua lapisan kota internasional. Lapisan pertama adalah diplomasi yang berhadapan dengan warga melalui pameran. Lapisan kedua ialah diplomasi negara melalui meja konferensi. Bandung memiliki keduanya, dan pembacaan yang cermat membuat sejarah kota lebih kaya tanpa mengecilkan posisi KAA.
Gedung Naripan Menghubungkan Arsip dengan Warga
Gedung yang menjadi lokasi pameran itu bukan sekadar alamat lama. Dokumen JDIH Kota Bandung mencantumkan Yayasan Pusat Kebudayaan di Jalan Naripan Nomor 7–9 dalam daftar bangunan cagar budaya pada Lampiran V Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 18 Tahun 2011 tentang RTRW 2011–2031.
Dokumentasi ISBI Bandung mencatat bangunan representatifnya didirikan pada 1930. Setelah kemerdekaan, gedung tersebut digunakan untuk pertunjukan, kongres, seminar, diskusi, serta pertemuan seniman dan budayawan. Fungsi itulah yang membuat pemilihan gedung sebagai ruang eksposisi internasional terasa kontekstual, meskipun alasan resmi penentuan tempatnya belum ditemukan.
Riwayat terbaru gedung tersebut memperkuat relevansi ulang tahun ke-75. Setelah atap ruang pamer ambruk pada 28 Oktober 2024, Pemerintah Provinsi Jawa Barat merehabilitasi struktur, interior, kelistrikan, pencahayaan, ruang pertunjukan, galeri, dan area publik.
Disparbud Jawa Barat menyatakan rehabilitasi selesai dan wajah baru gedung diresmikan pada 30 Desember 2025. Pengerjaannya disebut tetap mempertahankan nilai historis serta karakter arsitektur bangunan.
Artinya, ruang yang menampung pameran PBB 1951 kembali tersedia ketika tonggak 75 tahun tiba. Pelestarian fisik sudah memperoleh langkah konkret. Tantangan berikutnya adalah menghidupkan isi sejarahnya: metadata arsip yang lengkap, reproduksi foto dan film, kurasi yang membedakan pameran dari KAA, serta akses digital yang mudah ditelusuri.
Di sinilah pelindungan bangunan dan pelindungan ingatan perlu berjalan bersama. Daftar cagar budaya menjaga posisi ruang dalam tata kota, sedangkan kurasi menjelaskan mengapa ruang itu penting bagi masyarakat. Tanpa lapisan interpretasi, pengunjung dapat melihat gedung yang terawat tetapi tidak mengetahui bahwa eksposisi internasional pernah berlangsung di dalamnya.
Kekosongan data juga dapat dijadikan agenda riset, bukan ditutup dengan cerita yang belum terbukti. Pertanyaan tentang siapa penyelenggara lokal, apa saja materi yang dipamerkan, siapa yang membuka acara, bagaimana pers meliputnya, dan berapa jumlah pengunjungnya masih memerlukan dokumen primer.
Surat kabar sezaman, buku agenda pemerintah, surat-menyurat PBB, dan rekaman lengkap ANRI merupakan jalur penelusuran yang masuk akal. Sampai bukti tersebut ditemukan, batas antara fakta dan dugaan harus dipertahankan.
Merawat Bandung sebagai Kota Diplomasi
Peringatan 75 tahun tidak cukup berhenti pada seremoni. Pameran PBB Bandung dapat diterjemahkan menjadi program edukasi di gedung asalnya, penelusuran katalog dan surat kabar 1951, sejarah lisan keluarga yang terlibat, serta paket pembelajaran yang menghubungkan keanggotaan Indonesia di PBB dengan KAA.
Setiap temuan baru perlu dilengkapi asal koleksi, tanggal kejadian, tanggal publikasi, dan tingkat kepastian. Langkah itu penting karena arsip bukan hanya benda masa lalu. Arsip menentukan peristiwa mana yang mudah ditemukan generasi berikutnya. Dalam kasus ini, satu keterangan ANRI membuka bab yang selama ini tertutup oleh besarnya ingatan tentang KAA.
Warisan utama 25 Juli 1951 bukan klaim bahwa Bandung sudah merancang KAA. Warisannya adalah bukti bahwa, sejak awal Republik berhubungan dengan PBB, ruang kebudayaan kota telah menjadi tempat warga bertemu gagasan dunia.
Tujuh puluh lima tahun kemudian, gedungnya telah dipulihkan. Kini giliran jejak peristiwanya yang perlu dibuat utuh, terbuka, dan hidup kembali. (AS)
