lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Gunung Anak Krakatau kembali erupsi pada Rabu, 9 September 2026, pukul 00.47 WIB. Di Kota Tasikmalaya, pemerintah daerah menyiapkan skenario pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan penggunaan masker jika kualitas udara memburuk akibat potensi sebaran abu Anak Krakatau. Informasi letusan PVMBG melalui MAGMA Indonesia menyebut visual letusan pada erupsi dini hari tersebut tidak teramati.
Langkah di Kota Tasikmalaya masih bersifat antisipasi, bukan keputusan memberlakukan PJJ. Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan sebelumnya menyatakan kondisi kualitas udara dan perkembangan sebaran abu menjadi salah satu indikator sebelum pemerintah mengambil kebijakan. Hingga pernyataan terakhir pemerintah daerah yang dihimpun pada awal pekan, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung normal. Informasi mengenai kesiapan PJJ tersebut muncul konsisten dalam sedikitnya tiga pemberitaan independen.
PJJ Tidak Otomatis Berlaku di Semua Sekolah
Kebijakan yang disiapkan Kota Tasikmalaya sejalan dengan pedoman Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dinas Pendidikan Jawa Barat telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 1995/PB.01.03.02/Sekre tentang Peningkatan Kewaspadaan Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau.
Pedoman itu menegaskan penyesuaian pembelajaran tidak diberlakukan secara seragam di seluruh Jawa Barat. Sekolah dapat memilih pembelajaran luring atau daring berdasarkan kondisi aktual wilayah, koordinasi dengan instansi terkait, serta informasi dari Badan Geologi/PVMBG dan BPBD.
Untuk Kota Tasikmalaya, BPBD, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Lingkungan Hidup telah masuk dalam koordinasi kesiapsiagaan. Pemkot juga menyatakan akan mengikuti informasi BMKG mengenai arah sebaran abu serta kondisi kualitas udara sebelum menentukan langkah berikutnya.
Dengan demikian, keberadaan abu Anak Krakatau atau penurunan kualitas udara menjadi faktor penting dalam menentukan apakah PJJ perlu diterapkan. Persiapan kebijakan tersebut tidak berarti sekolah di Kota Tasikmalaya otomatis beralih ke pembelajaran daring pada Rabu ini.
Anak Krakatau Masih Berstatus Siaga
Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga berdasarkan evaluasi terakhir yang dipublikasikan. Masyarakat dan pengunjung dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Badan Geologi juga merekomendasikan warga yang terdampak abu vulkanik untuk mengurangi aktivitas di luar rumah atau menggunakan masker saat beraktivitas guna mengurangi risiko gangguan pernapasan. Rekomendasi tersebut menjadi relevan bagi daerah yang berpotensi terkena abu Anak Krakatau apabila arah angin berubah.
Aktivitas gunung memang sempat menurun setelah episode erupsi menerus sekitar 25 jam berakhir pada 6 September pukul 00.04 WIB. Namun, letusan-letusan pendek masih tercatat setelahnya. Pada Selasa, 8 September, tiga erupsi kembali terjadi meski skalanya lebih kecil dibanding episode sebelumnya.
Karena aktivitas vulkanik masih berlangsung, Pemkot Tasikmalaya meminta perkembangan kualitas udara dan informasi resmi terus dipantau sebelum kebijakan PJJ maupun kewajiban penggunaan masker diterapkan secara lebih luas. (NS/AS)







