lintaspriangan.com, BERITA JAWA BARAT. Luas kebakaran lahan Jawa Barat mencapai 228,07 hektare hingga 31 Agustus 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat kembali mengingatkan masyarakat pada Sabtu, 5 September 2026, agar tidak menggunakan api untuk membuka atau membersihkan lahan selama kondisi panas dan minim hujan.
Kebakaran tersebut tersebar di 178 desa atau kelurahan pada 107 kecamatan. Berdasarkan luas area yang terbakar, Kabupaten Sukabumi menjadi wilayah terdampak terluas dengan 49,20 hektare, disusul Kabupaten Majalengka 26,16 hektare dan Kabupaten Bandung 24,80 hektare.
Sukabumi Catat Luas Kebakaran Terbesar
Data BPBD Jawa Barat mencatat total 156 kejadian kebakaran hingga akhir Agustus. Namun, daerah dengan jumlah kejadian terbanyak berbeda dengan wilayah yang mencatat luas kebakaran terbesar.
Kabupaten Sumedang mencatat jumlah kejadian terbanyak dengan 21 peristiwa. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Majalengka dengan 17 kejadian dan Kabupaten Bandung sebanyak 16 kejadian. Sementara itu, dari sisi luas lahan, Sukabumi berada di urutan pertama.
Data tersebut menunjukkan jumlah kejadian dan luas kebakaran lahan Jawa Barat perlu dibedakan. Suatu daerah dengan frekuensi kebakaran lebih tinggi tidak otomatis memiliki total area terbakar paling luas.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Barat Teten Ali menjelaskan penyebab kebakaran hutan dan lahan di Jawa Barat pada umumnya didominasi faktor manusia. Aktivitas yang disebut antara lain membuka atau membersihkan lahan dengan cara dibakar, membuang puntung rokok sembarangan, serta kegiatan masyarakat di sekitar kawasan hutan dan lahan kering.
Kondisi panas dan minim curah hujan juga membuat vegetasi semakin mudah terbakar dan memungkinkan api meluas lebih cepat.
BPBD Minta Pembersihan Lahan Tanpa Membakar
Di tengah risiko kebakaran lahan Jawa Barat, BPBD meminta warga menggunakan cara lain ketika membersihkan lahan. Untuk lahan yang tidak terlalu luas, pembersihan dapat dilakukan secara manual menggunakan parang, sabit, atau cangkul. Peralatan mekanis dapat digunakan untuk area yang lebih luas.
Vegetasi yang telah ditebang juga dapat dicacah dan dimanfaatkan sebagai bahan kompos. BPBD menyebut cacahan tersebut dapat diberi biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan atau digunakan sebagai mulsa untuk melindungi tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya juga mengambil langkah pencegahan dengan menginstruksikan penutupan sementara aktivitas pendakian di kawasan pegunungan selama musim kemarau. Kebijakan itu diberlakukan untuk mengurangi potensi munculnya sumber api di kawasan yang vegetasinya sedang kering.
Dengan luas lahan terbakar mencapai 228,07 hektare hingga akhir Agustus, BPBD meminta masyarakat menghindari pembersihan lahan dengan pembakaran dan mengurangi aktivitas yang berpotensi memicu api selama periode kemarau. (NS/AS)







