lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Keluhan soal kualitas beras bantuan pangan mencuat di sejumlah wilayah Kabupaten Ciamis. Sejumlah warga mengaku beras yang mereka terima mengeluarkan bau tidak sedap, berwarna kusam, serta memiliki cukup banyak butiran menir.
Keluhan tersebut muncul di antaranya dari warga Kecamatan Cihaurbeuti, Panumbangan, Cikoneng dan Sadananya.
Beras yang diterima warga disebut menggunakan karung berwarna putih dengan tulisan berwarna hijau yang mencantumkan nama Bulog dan keterangan bantuan pangan.
Salah seorang warga Kecamatan Sadananya, Ujang, mengatakan bantuan beras tersebut disalurkan ke desa-desa di wilayahnya pada Rabu.
Menurutnya, persoalan baru diketahui setelah karung dibuka dan beras hendak dimasak.
“Setelah berasnya dibuka ternyata bau, warnanya genek (kusam), banyak benyer (menir). Setelah dimasak anak tidak mau makan karena masih ada baunya,” ujar Ujang.
Kondisi tersebut membuat Ujang mempertanyakan kelayakan beras yang diberikan sebagai bantuan pangan kepada masyarakat.
Ia berharap bantuan yang diterima warga benar-benar memiliki kualitas yang layak untuk dikonsumsi manusia.
“Intinya bau. Ya Allah, rasanya tidak pantas buat manusia karena bau dan warnanya lebam atau genek. Dimasak masih bau,” katanya.
Warga Bandingkan dengan Beras SPHP
Keluhan mengenai beras bantuan ternyata tidak hanya menyangkut aroma. Warga juga membandingkannya dengan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang selama ini mereka beli saat operasi pasar atau kegiatan pangan murah.
Yuli, warga lainnya, mengatakan kualitas beras SPHP yang pernah dibelinya justru dinilai lebih baik.
Menurutnya, beras SPHP yang dijual melalui kegiatan operasi pasar maupun pangan murah memiliki kualitas yang lebih sesuai untuk dikonsumsi keluarga.
“Beras itu bagus, suka KW 1 lah. Bahkan sampai beli tiga karung karena murah dan meringankan beban perekonomian,” ujar Yuli.
Ia menyebut beras SPHP dalam kondisi normal pernah dijual sekitar Rp62.500 untuk kemasan 5 kilogram di Kantor Pos. Saat mendapatkan subsidi dalam kegiatan tertentu, harganya bisa turun menjadi sekitar Rp57.500 per 5 kilogram.
Bagi masyarakat dengan daya beli terbatas, selisih harga tersebut cukup membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Bulog Klaim Beras Bantuan Berkualitas Baik
Di tengah keluhan masyarakat tersebut, Perum Bulog Cabang Ciamis menyampaikan klaim berbeda.
Pemimpin Cabang Perum Bulog Ciamis, Johan Wahyudi, mengatakan beras yang disalurkan melalui program bantuan pangan merupakan beras medium yang berasal dari Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Menurut Johan, kualitas beras menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam proses penyaluran bantuan pangan.
Bantuan pangan tersebut disalurkan untuk alokasi Juli, Agustus dan September 2026.
Untuk Kabupaten Ciamis, jumlah penerima disebut mencapai 204.437 paket dengan total beras sekitar 6.133 ton.
Penyaluran tiga bulan tersebut dilakukan sekaligus. Dengan demikian, setiap keluarga penerima manfaat (KPM) mendapatkan total 30 kilogram beras atau setara 10 kilogram per bulan.
Sementara untuk wilayah Priangan Timur, total beras yang disalurkan disebut mencapai lebih dari 34 ribu ton.
Keluhan Warga Perlu Diverifikasi
Perbedaan antara klaim kualitas dari Bulog dengan keluhan warga membuat kondisi beras yang diterima masyarakat perlu mendapat verifikasi lebih lanjut.
Sebab, keluhan mengenai bau, warna kusam dan kondisi nasi setelah dimasak merupakan pengalaman langsung warga penerima maupun warga yang memperoleh beras tersebut dari penerima bantuan.
Yayah, warga Kecamatan Baregbeg, misalnya, mengaku mendapatkan beras bantuan dari tetangganya.
Setelah beras tersebut dimasak, ia mengaku menemukan kondisi yang tidak sesuai harapan.
“Ceritanya kemarin mengantar tetangga bawa beras bantuan. Kebetulan saya dikasih. Ternyata benar, berasnya jelek,” kata Yayah, 5 September 2026.
Keluhan serupa disampaikan Nani, penerima beras bantuan yang disebut memperoleh beras dari pembagian di Desa Saguling.
Nani mengatakan beras yang diterimanya memiliki bau dan warna yang terlihat kusam.
“Memang begitu adanya. Berasnya berbau dan warnanya kusam. Pokoknya setelah dimasak nasinya bear,” ujarnya.
Istilah “bear” yang digunakan Nani dalam bahasa Sunda merujuk pada nasi yang cenderung berhamburan, pera atau tidak pulen.
Namun, kondisi nasi setelah dimasak tidak serta-merta dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menentukan kualitas beras. Cara memasak, takaran air dan kondisi beras juga dapat memengaruhi tekstur nasi.
Karena itu, untuk memastikan apakah keluhan warga berkaitan dengan kualitas beras, diperlukan pemeriksaan atau pengujian terhadap sampel beras yang diterima masyarakat.
Bulog Belum Berikan Penjelasan Khusus soal Keluhan Warga
Sementara itu, ketika dikonfirmasi mengenai keluhan warga terkait beras bantuan yang disebut berbau, kusam dan banyak menir, Bulog Ciamis belum memberikan keterangan khusus terkait temuan tersebut.
Kondisi ini membuat persoalan kualitas beras bantuan di Ciamis masih menyisakan pertanyaan.
Di satu sisi, warga penerima mengeluhkan kondisi fisik dan aroma beras setelah dibuka maupun dimasak.
Di sisi lain, Bulog menyatakan beras bantuan yang disalurkan merupakan beras medium dengan kualitas baik.
Persoalan tersebut penting untuk segera diperjelas, mengingat bantuan pangan diberikan kepada masyarakat yang memang membutuhkan dukungan untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Jika memang ditemukan beras dengan kualitas yang tidak sesuai, masyarakat tentu membutuhkan mekanisme pengaduan dan tindak lanjut yang jelas.
Sebaliknya, jika hasil pemeriksaan menunjukkan beras memenuhi standar, penjelasan tersebut juga penting disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan keresahan di tengah penerima bantuan pangan. (HS)







