lintaspriangan.com, BERITA CIAMIS. Longsor di Cihaurbeuti membuat suasana malam di Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, mendadak mencekam, Senin (11/5/2026) sekitar pukul 21.00 WIB.
Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama berjam-jam diduga memicu tanah bergerak di dua dusun. Material longsor kemudian menghantam permukiman warga hingga menyebabkan sejumlah rumah terdampak dan enam kepala keluarga harus mengungsi sementara.
Kejadian itu berlangsung saat sebagian warga mulai beristirahat. Suara gemuruh tiba-tiba terdengar dari arah tebing, disusul material tanah yang turun cepat menuju kawasan permukiman. Dalam hitungan menit, suasana berubah panik.
Sejumlah warga berlarian keluar rumah sambil membawa anak-anak dan barang seadanya. Mereka memilih menyelamatkan diri lebih dulu karena khawatir terjadi longsor susulan, terlebih hujan belum benar-benar reda pada malam kejadian.
Bencana tersebut terjadi di Dusun Sukamaju dan Dusun Cibulakan. Di Dusun Sukamaju, tebing setinggi kurang lebih 30 meter ambrol hingga menyeret rumpun bambu dan menutup saluran irigasi Gintung Satu.
Satu rumah warga di lokasi itu kini berada dalam ancaman karena posisinya berdekatan dengan titik tebing yang longsor. Kondisi tersebut membuat warga sekitar semakin waspada, terutama jika hujan deras kembali turun.
Sementara itu, di Dusun Cibulakan, tanggul saluran irigasi jebol dan longsor menimbun dua rumah warga. Empat rumah lain ikut terdampak akibat material tanah yang turun dari area tebing.
Peristiwa longsor di Cihaurbeuti Ciamis ini menambah daftar kejadian bencana hidrometeorologi yang harus diwaspadai warga saat curah hujan tinggi. Kondisi tanah yang labil, tebing curam, serta aliran air dari saluran irigasi menjadi faktor yang perlu segera ditangani agar risiko serupa tidak berulang.
Asep (47), warga Dusun Cibulakan, mengaku keluarganya nyaris terjebak saat material longsor menerjang bagian belakang rumahnya. Saat kejadian, ia mendengar suara keras dari arah belakang rumah.
“Suaranya keras sekali, seperti ada pohon besar tumbang. Pas dilihat ke belakang, tanah sudah masuk ke rumah. Anak-anak langsung menangis, kami buru-buru keluar,” ujarnya saat ditemui di lokasi pengungsian sementara.
Menurut Asep, malam itu menjadi pengalaman paling menegangkan bagi keluarganya. Istrinya masih syok setelah melihat sebagian rumah mereka tertutup material tanah.
“Yang penting sekarang keluarga selamat dulu. Soal rumah, kami berharap bisa segera dibantu dibersihkan,” katanya lirih.
Suasana haru juga terlihat setelah kejadian. Warga saling membantu memindahkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan dari rumah terdampak. Beberapa ibu tampak menenangkan anak-anak mereka yang ketakutan setelah mendengar suara gemuruh dan melihat tanah masuk ke permukiman.
Camat Cihaurbeuti, Hj. Enok Kursilah, S.Sos., M.Si., mengatakan hujan deras dengan intensitas tinggi menjadi penyebab utama bencana tersebut. Setelah menerima laporan, pihak kecamatan langsung turun bersama unsur terkait untuk melakukan penanganan awal.
“Begitu menerima laporan, kami langsung turun bersama unsur terkait untuk melakukan asesmen, mengamankan lokasi, dan mengevakuasi warga,” katanya.
Enok memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, enam kepala keluarga dari dua dusun terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat dan tetangga yang dinilai lebih aman.
Penanganan darurat kini dilakukan bersama BPBD Ciamis, aparat desa, Tagana, TKSK, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan warga setempat. Petugas masih membersihkan material tanah, mendata kerusakan, serta memastikan kebutuhan mendesak warga terdampak terpenuhi.
Sejumlah kebutuhan yang mulai didata meliputi logistik, terpal, makanan siap saji, perlengkapan darurat, serta kebutuhan dasar warga yang rumahnya tidak bisa ditempati sementara waktu.
Kejadian longsor di Cihaurbeuti juga membuat warga berharap pemerintah segera memperbaiki tanggul irigasi yang jebol dan menangani tebing rawan longsor. Mereka khawatir, jika hujan deras kembali turun, material tanah susulan bisa kembali mengancam permukiman.
Bagi warga Desa Sukamaju, malam itu bukan sekadar bencana alam biasa. Gemuruh tanah, tangis anak-anak, dan kepanikan warga menjadi pengingat bahwa ancaman longsor Ciamis hari ini perlu ditangani serius, bukan hanya setelah tanah telanjur turun.
Warga kini menunggu langkah lanjutan pemerintah, terutama untuk memastikan area terdampak benar-benar aman sebelum mereka kembali menempati rumah masing-masing. Sebab, bagi korban, pulang bukan hanya soal kembali ke rumah, tetapi juga soal rasa aman saat langit kembali gelap dan hujan mulai turun. (NID/AS)

