lintaspriangan.com, BERITA OLAHRAGA. Gaji Megawati Hangestri kembali menjadi sorotan setelah bintang voli putri Indonesia itu resmi bergabung dengan Hyundai Hillstate untuk menghadapi Liga Voli Korea Selatan musim 2026/2027.
Kepastian bergabungnya Megawati Hangestri Pertiwi diumumkan Hyundai Hillstate melalui media sosial resmi klub. Dalam pernyataannya, klub asal Suwon tersebut menyambut kedatangan pemain yang akrab disapa Megatron itu sebagai bagian dari kekuatan baru mereka musim depan. ANTARA juga melaporkan bahwa Megawati resmi kembali berkarier di Korea Selatan bersama Hyundai Hillstate untuk musim 2026/2027.
Kabar ini langsung menyita perhatian pencinta voli Indonesia. Bukan hanya karena Megawati kembali ke V-League, tetapi juga karena Hyundai Hillstate bukan klub sembarangan. Mereka dikenal sebagai salah satu kekuatan besar dalam persaingan voli putri Korea Selatan.
Kepindahan ini sekaligus membuka babak baru dalam karier internasional Megawati. Sebelumnya, pemain asal Jember, Jawa Timur, tersebut pernah membela Red Sparks selama dua musim, dari 2023 hingga 2025. Bersama Red Sparks, namanya melejit dan menjadi salah satu pemain Asia paling diperhitungkan di Liga Voli Korea.
Sorotan kemudian bergeser pada Gaji Megawati Hangestri bersama Hyundai Hillstate. Hingga kini, klub belum mengumumkan secara terbuka nilai kontrak resmi sang pemain. Namun, kisaran pendapatannya dapat dibaca dari regulasi kuota Asia yang diterapkan Korea Volleyball Federation atau KOVO.
Menurut laporan Korea JoongAng Daily pada Desember 2025, pemain kuota Asia putri dalam V-League 2026/2027 memiliki batas gaji tahunan 150 ribu dolar AS untuk tahun pertama dan 170 ribu dolar AS untuk tahun kedua. Skema itu berlaku setelah pemain kuota Asia dikonversi menjadi agen bebas mulai musim 2026/2027.
Dengan acuan tersebut, Megawati berpotensi berada pada kisaran atas karena sudah memiliki pengalaman dua musim di V-League. Sejumlah laporan media olahraga Indonesia juga memperkirakan nilai gajinya dapat menyentuh sekitar 170 ribu dolar AS atau setara kurang lebih Rp2,8 miliar per musim, bergantung pada kurs dan detail kontrak yang disepakati.
Angka itu tentu bukan nilai kecil. Untuk ukuran atlet voli Indonesia yang berkiprah di luar negeri, kisaran tersebut menunjukkan betapa tinggi nilai Megawati di pasar voli Asia. Istilah kasarnya, spike Megatron bukan hanya keras di lapangan, tetapi juga nyaring sampai meja negosiasi.
Namun, penting dicatat bahwa angka tersebut masih bersifat perkiraan berdasarkan regulasi dan laporan media. Nilai pasti kontrak Megawati tetap berada dalam kewenangan klub, pemain, dan pihak agen. Artinya, publik baru bisa menyebut angka final jika ada pengumuman resmi dari Hyundai Hillstate atau pihak Megawati.
Selain soal gaji, kepindahan Megawati juga dinilai mengubah peta kekuatan V-League. Hyundai Hillstate mendapatkan pemain dengan karakter menyerang kuat, pengalaman kompetisi Korea, serta basis penggemar besar dari Indonesia. Kombinasi itu membuat kehadirannya bukan hanya bernilai secara teknis, tetapi juga secara popularitas.
Bagi Red Sparks, kepergian Megawati tentu meninggalkan ruang besar. Dalam dua musim terakhir, ia bukan sekadar pemain asing pelengkap. Megawati menjadi salah satu tumpuan serangan, simbol kerja keras, sekaligus magnet perhatian publik Indonesia terhadap Liga Voli Korea.
Kini, pertanyaan besar muncul menjelang musim baru. Apakah Megawati mampu langsung menjadi senjata utama Hyundai Hillstate? Apakah ia akan kembali meledak seperti saat berseragam Red Sparks? Dan yang paling membuat penasaran, apakah nilai besar yang melekat pada namanya akan dibayar lunas dengan performa di lapangan?
Yang jelas, Gaji Megawati Hangestri kini bukan sekadar angka. Ia menjadi tanda naiknya kelas seorang atlet Indonesia di panggung internasional. Dari Proliga, Red Sparks, hingga Hyundai Hillstate, Megawati sedang menunjukkan bahwa pevoli Indonesia bisa punya harga, pengaruh, dan tempat terhormat di kompetisi elite Asia. (AS/AS)



