lintaspriangan.com, BERITA OLAHRAGA. Pertandingan Lazio vs Inter pada final Coppa Italia berakhir pahit bagi tuan rumah. Bermain di Stadio Olimpico, Roma, Kamis dini hari WIB, Inter Milan sukses membungkam Lazio dengan skor 2-0 dan memastikan diri sebagai Juara Copa Italia. Kemenangan itu membuat Nerazzurri menutup laga besar tersebut dengan cara yang dingin, efektif, dan nyaris tanpa banyak drama setelah unggul sejak babak pertama.
Lazio sebenarnya datang ke final dengan dukungan besar publik Olimpico. Namun, atmosfer kandang tidak cukup untuk menahan tekanan Inter yang langsung tampil agresif sejak menit awal. Gol pembuka lahir pada menit ke-14 melalui gol bunuh diri Adam Marusic. Momen itu menjadi pukulan telak bagi Biancocelesti karena mereka dipaksa mengejar skor ketika ritme permainan belum benar-benar stabil.
Inter kemudian menggandakan keunggulan pada menit ke-35. Lautaro Martinez mencatatkan namanya di papan skor setelah memaksimalkan umpan Denzel Dumfries. Gol tersebut membuat Inter menutup babak pertama dengan keunggulan 2-0, sebuah modal yang sangat nyaman dalam laga final. Data BBC juga mencatat skor akhir Lazio 0-2 Inter, dengan gol dari Marusic pada menit ke-14 dan Lautaro Martinez pada menit ke-35.
Statistik Bicara: Lazio Berusaha, Inter Lebih Mematikan
Secara permainan, Lazio vs Inter tidak hanya bercerita tentang dua gol. Statistik menunjukkan Inter lebih matang dalam mengelola pertandingan. Nerazzurri unggul dalam penguasaan bola dengan 58 persen, sementara Lazio berada pada 42 persen. Inter juga mencatat 11 tembakan, lebih banyak daripada Lazio yang melepaskan 8 tembakan.
Perbedaan paling terasa terlihat dari kualitas peluang. Inter memiliki nilai expected goals atau xG 1,57, sedangkan Lazio hanya 0,73. Inter juga mencatat 4 kesempatan besar, jauh di atas Lazio yang hanya memiliki 1 peluang besar. Angka ini menjelaskan mengapa Nerazzurri terlihat lebih berbahaya setiap kali memasuki area pertahanan lawan.
Lazio bukan tanpa perlawanan. Mereka masih mencatat 2 tembakan ke arah gawang, sama seperti Inter. Namun, efektivitas menjadi pembeda paling kejam. Lazio punya peluang, tetapi Inter punya penyelesaian. Dalam sepak bola final, beda tipis seperti itu bisa berubah menjadi jarak satu trofi. Ibaratnya, Lazio mengetuk pintu, Inter sudah masuk ruang tamu sambil bawa piala.
Inter juga lebih dominan dalam distribusi bola. BBC mencatat Inter melakukan 566 operan dengan akurasi 88,9 persen, sementara Lazio mencatat 402 operan dengan akurasi 84,6 persen. Dominasi ini membuat Inter lebih mampu mengontrol tempo ketika sudah unggul dua gol.
Nerazzurri Juara, Lautaro Jadi Pembeda
Kemenangan ini membuat Inter resmi menjadi Juara Copa Italia. Bagi Nerazzurri, hasil tersebut terasa semakin manis karena diraih atas Lazio di Olimpico, markas yang seharusnya menjadi sumber energi tuan rumah. Reuters melaporkan Inter mengunci kemenangan 2-0 atas Lazio dalam final Coppa Italia melalui gol bunuh diri Adam Marusic dan gol Lautaro Martinez, sekaligus memastikan gelar Coppa Italia ke-10 mereka.
Lautaro Martinez kembali menjadi figur penting dalam laga besar. Striker asal Argentina itu menunjukkan naluri pembunuhnya di kotak penalti. Saat Lazio masih mencari cara bangkit dari gol pertama, Lautaro justru menambah luka lewat gol kedua yang membuat pertandingan terasa makin berat bagi tuan rumah.
Di sisi lain, pertahanan Inter juga layak mendapat sorotan. Meski Lazio berusaha menekan pada babak kedua, Nerazzurri mampu menjaga keunggulan tanpa kebobolan. Kiper Josep Martinez menjadi salah satu pemain penting karena membantu Inter mempertahankan clean sheet hingga laga selesai.
Dengan hasil ini, narasi Lazio vs Inter bukan sekadar soal skor 0-2. Ini adalah cerita tentang bagaimana Inter tampil lebih siap, lebih tenang, dan lebih tajam dalam pertandingan penentuan. Lazio boleh bermain di Olimpico, tetapi malam final menjadi milik Nerazzurri.
Inter pun pulang sebagai Juara Copa Italia, sementara Lazio harus menerima kenyataan pahit: dukungan tuan rumah tidak cukup ketika lawan datang dengan efektivitas setajam pisau cukur. (AS/AS)



