lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Korban Sungai Ciwulan Tasikmalaya akhirnya ditemukan dalam keadaan tewas setelah dua hari dilakukan pencarian oleh Tim SAR Gabungan. Korban bernama Pahroni, 69 tahun, warga Kampung Borosole RT 02 RW 04, Desa Cikalong, Kecamatan Cikalong, Kabupaten Tasikmalaya.
Kabar penemuan Pahroni membuat suasana duka menyelimuti keluarga dan warga sekitar. Harapan agar korban bisa ditemukan dalam keadaan selamat akhirnya pupus setelah jasadnya ditemukan di sekitar muara Sungai Ciwulan, tidak jauh dari jalur aliran sungai tempat korban dilaporkan terseret arus.
Peristiwa itu bermula pada Selasa (12/5/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Saat kejadian, kondisi sungai dilaporkan keruh dan deras karena hujan mengguyur wilayah Tasikmalaya sejak pagi. Arus sungai yang kuat diduga membuat korban tidak mampu menyelamatkan diri.
Sejak laporan masuk, pencarian langsung dilakukan. Tim SAR Gabungan Tasikmalaya bersama BPBD Kabupaten Tasikmalaya, TNI, Polri, pemerintah setempat, dan para relawan menyisir sejumlah titik aliran sungai. Upaya pencarian dilakukan dengan memperhitungkan kondisi medan, derasnya arus, serta perubahan debit air yang dapat memengaruhi pergerakan korban.
Selama proses pencarian, warga Cikalong Tasikmalaya juga ikut memantau perkembangan di sekitar lokasi. Banyak pihak berharap operasi tersebut segera membuahkan hasil. Namun, medan sungai yang cukup menantang membuat pencarian tidak mudah. Sungai yang keruh, arus deras, dan waktu yang terus berjalan menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan.
Titik Terang Muncul Menjelang Tengah Malam
Titik terang pencarian muncul pada Rabu malam menjelang Kamis dini hari. Sekitar pukul 23.45 WIB, seorang penjala ikan menemukan jasad korban di sekitar muara Sungai Ciwulan. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada petugas yang berada di lapangan.
Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti oleh Tim SAR Gabungan Tasikmalaya. Petugas bergerak ke lokasi untuk memastikan identitas korban dan melakukan proses evakuasi. Berdasarkan keterangan relawan BPBD Kabupaten Tasikmalaya, korban ditemukan sekitar satu kilometer dari titik awal saat terbawa arus.
“Korban ditemukan sekitar 1 kilometer dari lokasi awal terbawa arus. Evakuasi selesai sekitar pukul 00.09 WIB,” kata Mamat Rahmat, relawan BPBD Kabupaten Tasikmalaya yang berada di lokasi, Kamis (14/5/2026).
Penemuan Pahroni menjadi akhir dari pencarian panjang yang dilakukan sejak korban pertama kali dilaporkan hilang. Operasi pencarian korban hanyut Tasikmalaya itu sebelumnya dilakukan hingga malam hari, dengan menyisir beberapa titik yang diperkirakan menjadi jalur terbawanya korban.
Kondisi di lokasi penemuan juga tidak mudah. Petugas harus bekerja dalam suasana malam dengan penerangan terbatas. Meski begitu, proses evakuasi tetap dilakukan secara hati-hati dan penuh kehati-hatian. Jenazah korban kemudian dievakuasi dari lokasi penemuan sebelum diserahkan untuk penanganan lebih lanjut.
Kabar bahwa korban Sungai Ciwulan Tasikmalaya telah ditemukan segera menyebar kepada keluarga dan warga. Tangis keluarga pecah setelah mengetahui Pahroni sudah tidak bernyawa. Duka itu terasa berat karena selama dua hari mereka masih menyimpan harapan agar korban dapat kembali dalam keadaan selamat.
Operasi SAR Ditutup, Warga Diminta Waspada
Setelah Pahroni ditemukan, operasi SAR resmi ditutup. Seluruh unsur yang terlibat dalam pencarian kemudian dikembalikan ke kesatuannya masing-masing. Penutupan operasi dilakukan karena korban sudah ditemukan dan proses evakuasi telah selesai.
Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar aliran sungai, terutama ketika hujan turun atau setelah hujan mengguyur wilayah hulu. Arus sungai dapat berubah cepat, sementara air yang terlihat biasa saja dari permukaan bisa menyimpan dorongan kuat di bagian bawah.
Kasus lansia terseret arus seperti yang dialami Pahroni juga menunjukkan pentingnya kewaspadaan warga saat berada di sekitar Sungai Ciwulan Tasikmalaya. Terlebih, sungai tersebut memiliki aliran yang panjang dan dapat berubah kondisi sewaktu-waktu ketika cuaca memburuk.
Bagi warga yang tinggal atau beraktivitas di dekat sungai, informasi cuaca dan kondisi arus perlu menjadi perhatian. Aktivitas seperti menyeberang, mencari ikan, mengambil benda yang terbawa arus, atau berada terlalu dekat dengan bibir sungai sebaiknya dihindari ketika air sedang keruh dan deras. Sungai bukan musuh, tetapi saat hujan turun, ia bisa berubah menjadi “orang pendiam yang tiba-tiba marah”.
Keluarga, warga sekitar, relawan, dan aparat yang ikut dalam proses pencarian kini hanya bisa mengikhlaskan kepergian Pahroni. Peristiwa ini meninggalkan duka mendalam, terutama bagi keluarga korban yang sejak awal menunggu kabar dengan cemas.
Dengan ditemukannya korban Sungai Ciwulan Tasikmalaya, pencarian selama dua hari pun berakhir. Namun, kejadian ini juga meninggalkan pesan penting bagi masyarakat Tasikmalaya agar tidak menganggap remeh kondisi sungai saat musim hujan, terutama ketika arus sedang deras dan air tampak keruh. (DH/AS)



