lintaspriangan.com, JEJAK HEROIK JABAR. Udara pegunungan Lembang pada akhir 1945 tidak lagi hanya membawa dingin. Di sela kabut yang turun dari lereng Tangkuban Parahu, terdengar kabar tentang pasukan asing yang terus bergerak dari Kota Bandung menuju utara.
Jalan-jalan yang biasanya dilalui warga, pedagang, dan petani berubah menjadi jalur militer. Vila, perkebunan, bukit pengamatan, serta perkampungan dijadikan pos pertahanan. Para pemuda berjaga dengan senjata yang tidak selalu lengkap, sementara dari kejauhan meriam lawan dapat meledak kapan saja.
Republik Indonesia bahkan belum berumur setahun.
Namun, di Lembang—wilayah yang kini masuk Kabupaten Bandung Barat—kemerdekaan yang masih sangat muda itu harus segera dipertahankan dengan darah.
Lembang bukan sekadar tempat pasukan Republik mundur dari Kota Bandung. Kawasan berhawa dingin tersebut menjadi benteng pertahanan utama di sektor utara. Dari sanalah jalur menuju pegunungan, Subang, dan wilayah utara Jawa Barat dijaga.
Apabila Lembang jatuh, jalan bagi pasukan Sekutu dan Belanda untuk menembus daerah pedalaman akan semakin terbuka. Karena itu, para pejuang tidak memiliki banyak pilihan. Mereka harus bertahan.

Baca juga:Â Menelisik Hibah Kesbangpol Kota Bandung untuk Kejari: dari Ruang Tamu hingga Isi Garasi
Republik Menyusun Barisan di Lereng Gunung
Pada November 1945, Mayor Sukanda Bratamanggala, yang dikenal dengan panggilan Pak Kendo, mempersatukan sejumlah badan perjuangan bersenjata ke dalam Batalyon TKR Bandung Utara.
Kekuatan utama batalyon tersebut berasal dari BKR Lembang. Di dalamnya terdapat pasukan tempur, tentara cadangan, pemuda desa, mantan anggota PETA, serta berbagai unsur perjuangan yang sebelumnya bergerak secara terpisah.
Mereka bukan tentara dari sebuah negara yang telah mapan.
Seragam belum tentu seragam. Senjata tidak selalu sebanding dengan kekuatan lawan. Struktur militer Republik pun masih terus dibangun dan mengalami perubahan.
Namun, keterbatasan itu tidak membuat mereka menunggu nasib.
Di tengah ancaman yang terus mendekat, para pejuang menyusun pertahanan berlapis. Mereka memahami bahwa bentang alam Lembang dapat menjadi sekutu: bukit untuk mengamati gerakan musuh, perkebunan untuk menyamarkan pasukan, serta jalan menanjak untuk memperlambat kendaraan tempur.
Pertahanan Bandung Utara kemudian dibagi menjadi tiga lini.
Villa Isola menjadi lini terdepan. Bangunan megah yang berdiri di kawasan tinggi itu memiliki posisi strategis untuk mengawasi jalan dari Bandung menuju Lembang. Dari tempat tersebut, setiap pergerakan pasukan lawan dari arah kota dapat terlihat lebih awal.
Lini kedua dibangun di Cirateun, Cihideung, dan Cijengkol. Pasukan pengganti ditempatkan di kampung-kampung itu. Bukit di kawasan peneropongan bintang juga digunakan sebagai titik pengamatan.
Adapun Kota Lembang menjadi garis pertahanan ketiga sekaligus pusat komando. Markas batalyon dan pasukan cadangan berada di sana, bersiap apabila dua lini di depannya berhasil ditembus.
Di arah lain, pasukan di bawah Kapten Sentot Iskandar Dinata ditempatkan di Cisarua. Mereka bertugas mengawasi kemungkinan penyusupan dari Cimahi Utara.
Pertahanan itu tidak dibangun hanya dengan senapan dan parit.
Di Lembang, Pagerwangi, Cikidang, Cibogo, dan Cibodas, para pemuda desa dihimpun menjadi tentara cadangan. Mereka membantu menjaga wilayah, membawa informasi, mendukung pergerakan pasukan, sekaligus memastikan pemerintahan sipil tetap berjalan dalam keadaan perang.
Lembang menjelma menjadi benteng hidup.
Setiap kampung menjadi mata. Setiap bukit menjadi menara pengawas. Setiap jalan setapak dapat berubah menjadi jalur penyusupan atau penyelamatan.

Baca juga:Â Indikasi Korupsi Kesbangpol Jabar Bagian 1: Makan Minum Tak Dikerjakan tapi Dibayar
Tidak Menunggu Musuh Datang
Para pejuang Bandung Utara tidak hanya bertahan di balik garis pertahanan. Mereka juga menyerang.
Pada 24 November 1945, serangan umum dilancarkan terhadap kedudukan lawan di Bandung Utara. Sabotase dilakukan terhadap sentral listrik Dago. Serangan-serangan malam terus digelar untuk mengganggu konsentrasi pasukan Sekutu dan Belanda.
Dalam gelap, para pejuang bergerak melewati kebun, lereng, dan kampung.
Mereka mungkin tidak memiliki tank. Mereka tidak memiliki pesawat tempur. Namun, mereka mengenal setiap lekuk tanah yang dipijak, karena ini tanah mereka.
Serangan datang tiba-tiba, lalu pasukan menghilang kembali ke kegelapan.
Cara itu membuat lawan tidak pernah benar-benar merasa aman. Wilayah yang mereka duduki pada siang hari dapat berubah menjadi medan ancaman ketika malam turun.
Akan tetapi, lawan yang dihadapi bukan pasukan sembarangan.
Pasukan Inggris dan Gurkha datang dengan pengalaman tempur, artileri, kendaraan lapis baja, tank, serta dukungan udara. Di belakang mereka, Belanda berusaha kembali menanamkan kekuasaannya di tanah yang telah menyatakan merdeka.
Kesenjangan kekuatan itu terlihat jelas.
Pada November 1945, Villa Isola dihantam tembakan howitzer dari sekitar Gedung Sate. Dentuman meriam menghantam bangunan dan kawasan pertahanan di sekitarnya. Dinding berlubang, tanah bergetar, dan lini terdepan Republik mulai merasakan kerasnya perang modern.
Namun, para pejuang tetap bertahan.
Pada 19 Desember 1945, pertempuran sengit kembali pecah di sekitar Villa Isola. Letnan Abdul Hamid bersama tiga bintara—Badjoeri, Sodik, dan Soerip—gugur menghadapi pasukan Gurkha.
Mereka jatuh di garis pertama. Akan tetapi, pertahanan Bandung Utara tidak ikut roboh bersama tubuh mereka.
Di belakang Villa Isola masih ada Cirateun, Cihideung, Cijengkol, dan Lembang. Di setiap garis itu, pasukan Republik terus menunggu, menahan, dan membalas.

Baca juga:Â Indikasi Korupsi Kesbangpol Sumedang: Lembaga Paling Pancasilais, Kok Kontraknya Begini?
Meriam, Tank, dan Pesawat Mengarah ke Lembang
Memasuki awal 1946, tekanan semakin berat. Pada 27 Januari, pasukan Inggris dan Gurkha menyerang kedudukan Republik di sekitar stasiun radio Ciumbuleuit. Serangan besar kembali diarahkan ke Villa Isola pada 16 Februari.
Tank memasuki perkampungan. Pesawat menggempur kawasan pertahanan dengan bom bakar. Rumah-rumah penduduk ikut menjadi korban.
Perang tidak lagi hanya berlangsung di antara pasukan bersenjata. Ia masuk ke halaman warga, merusak tempat tinggal, dan memaksa penduduk hidup dalam ketakutan.
Namun, selama berbulan-bulan, tiga lini pertahanan Bandung Utara mampu memperlambat gerakan lawan. Setiap garis yang ditinggalkan tidak pernah diberikan secara cuma-cuma.
Dari Villa Isola menuju Cirateun, Cihideung, Cijengkol, hingga Kota Lembang, pasukan Republik menahan musuh dengan kemampuan yang mereka miliki. Setiap jam yang berhasil mereka rebut memberi waktu bagi pasukan lain untuk memperkuat pertahanan, memindahkan perlengkapan, dan menyelamatkan warga.
Mereka mungkin tidak selalu dapat mempertahankan tanah. Namun, mereka membuat setiap jengkalnya mahal untuk direbut.
Baca juga:Â 9 Indikasi Korupsi Kabupaten Karawang Paling Telanjang, Belum Ada yang Digelandang?
Hari Ketika Lembang Jatuh
Puncak serangan terjadi pada 10 Maret 1946.
Pagi itu, pasukan Gurkha dan Belanda bergerak menyerang Lembang dengan dukungan artileri dan pesawat tempur. Dentuman meriam mengguncang kawasan pegunungan. Serangan udara menekan pasukan dari atas, sementara pasukan darat bergerak menembus garis pertahanan.
Sasaran mereka bukan hanya Kota Lembang. Mereka juga hendak membuka jalur menuju Cikole dan kawasan strategis lain di utara.
Pasukan Republik melawan, tetapi kekuatan lawan terlalu besar. Satu demi satu posisi pertahanan terdesak.
Setelah pertempuran panjang, garis ketiga akhirnya ditembus. Lembang jatuh ke tangan lawan.
Namun, jatuhnya Lembang tidak berarti pasukan Republik menyerah.
Mereka mundur melalui Cikareumbi, Cicalung, Cikidang, Maribaya, hingga Cibodas. Dari sana, pasukan bergerak menuju kawasan perkebunan kina Bukittunggul untuk menyusun pertahanan baru.
Mereka meninggalkan kota, tetapi tidak meninggalkan perjuangan. Senjata tetap dibawa. Barisan tetap dijaga. Tekad untuk melawan tetap hidup.
Lembang memang direbut, tetapi Republik belum dikalahkan.
Baca juga:Â Indikasi Korupsi Kesbangpol Jabar Bagian 2: Fullday Meeting, Kok Ada Belanja Makan?
Lembang Hanya Jatuh, Bukan Runtuh
Tiga belas hari setelah Lembang direbut, Bandung Lautan Api berkobar pada malam 23 Maret 1946. Pertempuran di Bandung Utara menjadi bagian dari rangkaian pergolakan besar yang memperlihatkan betapa keras Republik mempertahankan kemerdekaan yang belum genap berusia setahun.
Lembang memang jatuh. Pasukan Republik terpaksa meninggalkan garis pertahanan dan bergerak menuju perbukitan, perkebunan, serta desa-desa di sebelah timur. Namun, perang tidak berakhir ketika kota dikuasai lawan. Dari kawasan-kawasan itulah perlawanan kemudian berubah bentuk—lebih senyap, lebih lincah, dan semakin sulit dipadamkan.
Lembang direbut, tetapi gerilya tidak pernah surut. Kisah itulah yang akan berlanjut dalam artikel berikutnya.
“Jangan biarkan kisah para pejuang ini terkubur untuk kedua kalinya—bukan oleh tanah, melainkan oleh lupa. Bagikan kepada anak-anak, keluarga, sahabat, dan generasi muda, agar mereka mengerti bahwa Merah Putih tidak berkibar sekadar karena angin, tetapi karena darah, air mata, dan nyawa yang dikorbankan. Sekali Anda membagikan kisah ini, Anda ikut menjaga api perjuangan tetap menyala dari generasi ke generasi.”
lintaspriangan.com





