lintaspriangan.com, BERITA KUNINGAN. Penerapan demplot ubi jalar di Desa Linggamekar, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, mencatat kenaikan hasil panen dari sekitar 3,5 ton menjadi 6,3 ton per 100 bata. Hasil tersebut disampaikan petani setempat dalam kegiatan sosialisasi demplot pertanian di Lapangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Senin, 21 September 2026.
Petani Desa Linggamekar, Bangun, mengatakan hasil sekitar 6,3 ton per 100 bata diperoleh pada musim penghujan setelah menerapkan pola budidaya dan pemupukan berdasarkan hasil demplot. Angka itu meningkat sekitar 2,8 ton dibanding hasil sebelumnya yang berada di kisaran 3,5 ton per 100 bata.
Pola Budidaya Tidak Hanya Mengandalkan Pupuk
Bangun menjelaskan peningkatan hasil demplot ubi jalar tidak hanya berkaitan dengan penggunaan pupuk. Menurut dia, proses budidaya juga mencakup persiapan lahan, kondisi pH tanah, pemilihan bibit, pengendalian hama dan penyakit, serta perawatan tanaman.
Data tersebut merupakan pengalaman budidaya di Linggamekar dan belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh lahan ubi jalar di Kabupaten Kuningan akan menghasilkan angka yang sama. Kondisi lahan, musim, bibit, serta pola perawatan dapat berbeda di setiap lokasi.
Bangun juga menyampaikan kebutuhan alat dan mesin pertanian di desanya. Ia menyebut areal pertanian di wilayah tersebut mencapai ratusan hektare, sedangkan traktor yang tersedia hanya satu atau dua unit sehingga petani harus bergantian menggunakannya.
Kuningan Punya Kawasan Ubi Jalar 2.530 Hektare
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah menyebut wilayah Kuningan telah masuk kawasan pertanian nasional berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 02/KPTS/2025. Kawasan yang dicatat untuk komoditas ubi jalar mencapai 2.530 hektare.
Pada kegiatan 21 September, Pemkab Kuningan juga meluncurkan Gerakan Menanam Boled atau Gembol serta menyerahkan bantuan pupuk kepada 300 petani ubi jalar. Program tersebut diarahkan untuk mendukung budidaya, peningkatan produktivitas, pengolahan, dan perluasan pasar komoditas ubi jalar.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menyatakan pengembangan ubi jalar perlu diperluas hingga tahap pengolahan dan pemasaran agar memberi nilai tambah bagi petani. Pemkab juga mendorong penguatan kelembagaan petani serta akses terhadap teknologi dan sarana produksi.
Hasil demplot ubi jalar di Linggamekar menjadi salah satu contoh yang dipaparkan dalam pengembangan komoditas tersebut. Namun, peningkatan produksi di lokasi itu tetap perlu dibaca sesuai kondisi musim dan praktik budidaya yang diterapkan petani setempat. (NS/AS)







