lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Plh Sekda Kota Tasikmalaya Hanapi mendapat tagihan janji dari ratusan sukwan DLH Kota Tasikmalaya. Mereka meminta kejelasan reward yang pernah ia janjikan saat masih memimpin Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya.
Momen itu terjadi saat apel pagi sekaligus pelepasan kegiatan pungut sampah di Bale Wiwitan, Jalan Noenoeng Tisnasaputra, Kota Tasikmalaya, Senin, 19 Mei 2026. Sebanyak 116 petugas kebersihan Kota Tasikmalaya berstatus sukwan hadir dalam kegiatan tersebut.
Plh Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara memimpin langsung apel tersebut. Selain itu, Plh Sekda Kota Tasikmalaya Hanapi, Kasat Pol PP, dan seluruh camat se-Kota Tasikmalaya ikut hadir.
Pada awalnya, apel berjalan seperti kegiatan rutin. Petugas kebersihan berkumpul, pemerintah memberi arahan, lalu kegiatan pungut sampah dimulai. Namun, suasana berubah ketika para sukwan menyampaikan keresahan soal reward yang belum mereka terima.
Bagi para sukwan DLH Kota Tasikmalaya, janji itu bukan perkara kecil. Sebaliknya, mereka memandang reward tersebut sebagai bentuk penghargaan atas kerja lapangan yang mereka jalani setiap hari.
Sukwan DLH Tagih Janji Reward
Para sukwan meminta pemerintah memmenui janji reward tersebut. Menurut informasi yang mengemuka di lokasi, Hanapi pernah menyampaikan janji itu saat masih memimpin DLH Kota Tasikmalaya.
Saat itu, janji reward muncul sebagai bentuk apresiasi bagi petugas kebersihan. Mereka menjaga kebersihan kota dengan status sukwan. Di sisi lain, mereka masih menghadapi keterbatasan upah, perlindungan kerja, dan fasilitas lapangan.
Namun, setelah Hanapi berpindah tugas dan kini menjabat Plh Sekda Kota Tasikmalaya, para sukwan belum melihat realisasi reward tersebut. Karena itu, mereka mempertanyakan kelanjutan janji yang sudah lama menggantung.
Meski begitu, mereka tidak datang untuk menggelar aksi besar. Mereka hadir dalam apel resmi, memakai seragam kerja, lalu menyampaikan tagihan secara langsung di hadapan pejabat kota.
Di depan para petugas, Plh Wali Kota Tasikmalaya Rd Diky Candranegara berupaya meredam suasana. Ia menegaskan bahwa pemerintah kota memahami beban kerja petugas kebersihan.
“Pemerintah tidak menutup mata. Saya minta bapak ibu tetap semangat bekerja. Soal reward yang dijanjikan, kita akan cek dan carikan jalan keluarnya,” ujar Diky di depan barisan petugas.
Pernyataan itu memberi sedikit ruang tenang. Akan tetapi, para sukwan tetap membutuhkan jawaban konkret. Mereka ingin mengetahui waktu realisasi, mekanisme pemberian, dan pihak yang akan menyelesaikan janji tersebut.
Buhul Persoalan Ada pada Kejelasan
Buhul persoalan kini berada pada kejelasan. Janji pejabat publik tidak cukup berhenti sebagai ucapan, terutama ketika janji itu menyangkut pekerja lapangan yang setiap hari memikul beban kebersihan kota.
Dalam apel itu, Plh Sekda Kota Tasikmalaya Hanapi tampak mendengarkan penyampaian para sukwan. Namun, ia belum menyampaikan penjelasan terbuka di lokasi terkait reward yang mereka tagih.
Akibatnya, apel pagi terasa berbeda. Biasanya, petugas hanya menerima instruksi. Kali ini, mereka berdiri sebagai pihak yang meminta kepastian. Dengan demikian, ada temali kepercayaan yang sedang diuji antara pekerja kebersihan dan pemerintah kota.
Setelah itu, kegiatan pungut sampah tetap berjalan. Para sukwan kembali turun ke lapangan, membersihkan ruang publik, dan menjaga wajah Kota Tasikmalaya seperti biasa.
Namun, tagihan janji itu meninggalkan catatan penting bagi Pemkot Tasikmalaya. Pemerintah perlu memberi penjelasan resmi agar persoalan reward sukwan Tasikmalaya tidak terus menggantung.
Lebih jauh, reward bukan hanya soal nilai bagi petugas kebersihan Kota Tasikmalaya. Reward juga menyangkut penghargaan, kepastian, dan pengakuan atas kerja mereka.
Kini, publik menunggu langkah Pemkot Tasikmalaya. Apakah pemerintah segera membuka jejak janji itu, menjelaskan rencana realisasinya, lalu menyelesaikannya secara terang? Atau, persoalan ini kembali menjadi kabut informasi baru di lingkungan DLH Kota Tasikmalaya. (DH)



