lintaspriangan.com, BERITA KOTA BANJAR. Rukyatul hilal di Banjar untuk menentukan awal Zulhijah 1447 H berlangsung tertib dan khidmat di kawasan Gunung Putri Lapas Banjar, Kota Banjar. Meski hilal tidak terlihat dari titik pemantauan tersebut, pemerintah tetap menetapkan awal Zulhijah secara nasional setelah menerima laporan rukyat dari daerah lain.
Kegiatan pemantauan hilal itu menarik perhatian warga. Sejumlah unsur terkait, tokoh agama, aparat, dan masyarakat hadir untuk menyaksikan langsung proses hisab rukyat yang menjadi bagian penting dalam penentuan kalender Hijriah, terutama menjelang Hari Raya Iduladha.
Ketua Badan Hisab Rukyat Daerah atau BHRD Kota Banjar, Badar Ismail, mengatakan pelaksanaan rukyatul hilal berjalan lancar. Menurutnya, suasana kegiatan tetap khidmat meski cuaca di kawasan Gunung Putri kurang bersahabat.
“Rukyatul hilal di Kota Banjar Alhamdulillah telah dilaksanakan dengan antusiasme masyarakat yang luar biasa, walaupun tidak seperti saat awal Ramadan dan awal Syawal. Dalam perhitungan, hari ini hilal berada di atas ufuk sekitar 4 derajat,” ujar Badar.
Badar menjelaskan, berdasarkan perhitungan hisab, posisi hilal sudah berada di atas ufuk sekitar 4 derajat. Angka itu telah memenuhi kriteria imkanur rukyat sebagai dasar penentuan awal bulan Hijriah.
Namun, kondisi langit Banjar tidak memberi ruang bagi petugas untuk melihat hilal. Awan tebal menutup ufuk barat. Akibatnya, petugas tidak dapat mengamati hilal, baik dengan mata telanjang maupun menggunakan alat bantu teropong.
“Kalau melihat kepada imkanur rukyat, posisi ini sudah sangat memenuhi kriteria. Walaupun di Banjar tidak bisa terlihat karena mendung dan gumpalan awan sangat tebal, salah satu titik pemantauan di Nusantara telah berhasil melihat hilal,” katanya.
Dengan kondisi itu, hilal tidak terlihat di Banjar bukan karena posisinya belum memenuhi syarat. Faktor cuaca menjadi kendala utama. Kabut informasi pun tidak muncul, karena mekanisme penetapan tetap berjalan melalui laporan rukyat nasional yang dikompilasi dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.
Badar menambahkan, laporan keberhasilan rukyat dari wilayah Jawa Timur menjadi salah satu dasar penetapan awal Zulhijah 1447 H. Dari hasil tersebut, awal Zulhijah resmi dimulai.
“Artinya, besok sudah masuk tanggal 1 Zulhijah 1447 Hijriah. Jika besok tanggal 1, maka 10 Zulhijah atau Hari Raya Iduladha jatuh pada hari Rabu, 27 Mei,” ujarnya.
Penetapan ini sekaligus memastikan jadwal Iduladha 2026 bagi masyarakat. Dengan begitu, warga dapat mulai menyiapkan ibadah kurban, rangkaian kegiatan keagamaan, serta agenda sosial yang biasa mengiringi bulan Zulhijah.
Kegiatan pemantauan hilal Banjar di Gunung Putri juga menjadi ruang edukasi publik. Warga tidak hanya melihat seremoni, tetapi ikut memahami kelindan antara hisab, rukyat, cuaca, dan keputusan nasional dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Meski hilal gagal terlihat dari langit Kota Banjar, antusiasme warga tetap memberi warna tersendiri. Hisab rukyat Kota Banjar kembali menunjukkan bahwa tradisi keilmuan, ibadah, dan partisipasi masyarakat masih hidup dalam denyut keagamaan daerah. (AI/AS)



