lintaspriangan.com, BERITA KOTA BANJAR. Pernyataan Wali Kota Banjar soal mobil dinas berpelat merah Z 18 X akhirnya muncul setelah video kendaraan itu viral di media sosial. Sudarsono menegaskan Pemerintah Kota Banjar akan memanggil pihak yang menggunakan kendaraan tersebut sebelum mengambil sikap resmi.
Video mobil dinas Kota Banjar viral itu sebelumnya ramai di media sosial. Kendaraan tersebut diduga melaju ugal-ugalan di jalan raya dan sempat terlibat insiden dengan mobil bak terbuka atau pikap di kawasan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis.
Sudarsono mengaku sudah menerima informasi awal, termasuk video yang beredar. Namun, ia belum ingin memberi pernyataan terlalu jauh. Menurutnya, Pemkot Banjar harus mendengar penjelasan langsung dari pengguna kendaraan lebih dulu.
“Kalau informasi yang masuk ke saya termasuk juga video-videonya sudah ada. Jadi untuk lebih jelasnya saya belum bisa memberikan statement apapun sebelum kita panggil yang menggunakan mobil tersebut,” ujar Sudarsono saat dimintai keterangan wartawan.
Pernyataan Wali Kota Banjar soal mobil dinas ini menjadi perhatian publik. Sebab, kasus tersebut menyeret kendaraan pelat merah yang membawa nama Pemerintah Kota Banjar.
Sudarsono membenarkan bahwa kendaraan berpelat nomor Z 18 X itu merupakan kendaraan dinas di lingkungan Pemkot Banjar. Ia menyebut mobil tersebut milik Dinas Arsip.
“Kalau itu Dinas Arsip,” katanya.
Meski begitu, Sudarsono belum memastikan siapa yang membawa kendaraan tersebut saat kejadian. Ia juga belum memastikan apakah mobil itu digunakan oleh kepala dinas atau pihak lain.
Pengguna Mobil Dinas Akan Dipanggil
Sudarsono memilih berhati-hati saat wartawan menanyakan kemungkinan sanksi. Ia menegaskan bahwa Pemkot Banjar perlu meminta klarifikasi langsung dari pihak terkait.
“Nanti saya tanya dulu, yang membawa kepala dinasnya atau hanya menjemput. Itu nanti baru kita sikapi,” ucapnya.
Dengan pernyataan itu, Pemkot Banjar belum mengambil keputusan final. Pemerintah masih menunggu penjelasan resmi dari pengguna kendaraan.
Kasus mobil dinas Kota Banjar ugal-ugalan ini memang memicu sorotan luas. Publik mempertanyakan etika penggunaan kendaraan dinas, apalagi kendaraan tersebut memakai pelat merah.
Berdasarkan informasi sementara yang diterima Sudarsono, mobil dinas itu disebut melakukan perjalanan dari Bandung menuju Banjar. Perjalanan tersebut diduga dilakukan setelah menjemput anak.
“Kalau nggak salah dari Bandung ke Banjar. Habis menjemput anaknya,” tambahnya.
Keterangan itu membuat isu penggunaan kendaraan dinas semakin disorot. Sebab, publik ingin mengetahui apakah perjalanan tersebut berkaitan dengan kepentingan dinas atau kepentingan pribadi.
Sudarsono meminta semua pihak menunggu proses klarifikasi. Ia tidak ingin Pemkot Banjar salah mengambil kesimpulan sebelum mendengar keterangan langsung.
“Belum, belum. Nanti kita lihat. Soalnya harus dipanggil dulu. Kita takut kalau memberikan pernyataan itu salah,” katanya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pemkot Banjar masih menahan diri. Namun, publik tetap menunggu langkah tegas setelah klarifikasi dilakukan.
Mobil Z 18 X Jadi Sorotan Publik
Kasus ini bermula ketika video mobil dinas pelat merah Z 18 X beredar luas. Kendaraan itu diduga melaju tidak tertib dan kemudian terlibat insiden dengan pikap di kawasan Cihaurbeuti, Ciamis.
Dalam keterangan sebelumnya, pengemudi pikap mengaku kendaraannya tertabrak dari belakang. Ia juga menyebut mobil dinas tersebut tidak langsung berhenti setelah benturan terjadi.
Insiden mobil dinas Kota Banjar tabrak pikap itu kemudian menjadi pembicaraan warga. Video yang beredar membuat kasus tersebut cepat menyebar, terutama di wilayah Banjar dan Ciamis.
Setelah ramai, sopir mobil dinas sempat memberikan klarifikasi. Ia mengaku telat mengerem saat arus lalu lintas melambat di lampu merah Cihaurbeuti. Ia juga menyampaikan permintaan maaf dan menyatakan siap bertanggung jawab.
Kini, perhatian publik bergeser ke langkah Pemkot Banjar. Sebab, Wali Kota Banjar panggil pengguna mobil dinas untuk memastikan kronologi, tujuan perjalanan, dan posisi pihak yang memakai kendaraan tersebut.
Sudarsono memastikan Pemkot Banjar akan menyampaikan hasil klarifikasi setelah proses pemanggilan selesai.
“Kalau memang itu, tetap harus bareng-bareng kita memberikan statement permasalahan biar dia menjelaskan,” pungkasnya.
Kasus insiden mobil dinas Kota Banjar di Ciamis ini menjadi pengingat penting bagi aparatur pemerintah. Kendaraan dinas bukan hanya alat transportasi. Di jalan raya, pelat merah juga membawa nama lembaga, kepercayaan publik, dan tentu saja kamera warga yang kadang lebih sigap dari lampu sein. (AI/AS)



