lintaspriangan.com, BERITA TASIKMALAYA. Milad ke-4 Majelis Sholawat Wabaarik Al Muzani tahun ini tak hanya akan dipenuhi lantunan sholawat dan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Rangkaian kegiatannya juga menjadi panggung bagi para santri dari berbagai daerah di Priangan Timur untuk merawat tradisi keilmuan pesantren.
Salah satu denyut utama rangkaian Milad itu adalah Lembaga Festival Alfiyah dan Imrithy (LAFAL) 2.0, kompetisi yang mempertemukan santri dalam hafalan dan pemahaman khazanah keilmuan pesantren. Kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 4–6 Oktober 2026 di kawasan Tajur, Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya.
Antusiasme peserta terlihat sejak masa pendaftaran. Berdasarkan data terbaru panitia, sebanyak 109 orang tercatat mendaftar. Setelah melalui proses daftar ulang, verifikasi, dan pemeriksaan persyaratan kepesertaan, 86 peserta dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti perlombaan.
Mereka datang dari enam daerah di Priangan Timur, yakni Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Banjar, dan Pangandaran.
Angka itu membuat peringatan Milad Majelis Sholawat Wabaarik Al Muzani memiliki warna yang berbeda. Di tengah kemeriahan acara keagamaan, puluhan santri dipertemukan oleh kitab, hafalan, pemahaman bahasa Arab, dan tradisi belajar yang selama ini tumbuh di ruang-ruang pesantren.
Alfiyah dan Imrithy sendiri lekat dengan pembelajaran ilmu nahwu atau tata bahasa Arab di lingkungan pesantren. Penguasaan kaidah tersebut menjadi salah satu bekal penting bagi santri dalam membaca dan memahami kitab-kitab klasik berbahasa Arab yang akrab disebut kitab kuning.
Karena itu, LAFAL 2.0 tidak semata berbicara tentang siapa yang pulang membawa gelar juara. Kompetisi tersebut membawa pesan yang lebih panjang: memberi ruang kepada generasi santri untuk terus mengenal, mempelajari, dan menghidupkan turats atau khazanah keilmuan Islam yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Semangat itu sejalan dengan tema kegiatan, “Khidmah yang Mengakar, Turats yang Lestari.”
Ketua Panitia LAFAL 2.0, Cep Hilmi, sebelumnya menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar menjaga tradisi keilmuan sekaligus mempererat hubungan antarpesantren.
Rangkaian keilmuan juga tidak berhenti pada LAFAL 2.0. Dalam rangkaian Milad ke-4 Majelis Sholawat Wabaarik Al Muzani turut digelar Musabaqah Qiroatul Kutub dan Bahtsul Masail, forum yang mempertemukan para santri untuk membahas persoalan umat dengan merujuk khazanah kitab kuning.
Di titik itulah Milad menemukan makna yang lebih luas. Perayaan tidak hanya menjadi ruang berkumpulnya jemaah, tetapi sekaligus menjadi tempat bertemunya dua tradisi yang telah lama hidup di lingkungan pesantren: sholawat dan ilmu.
Setelah rangkaian kegiatan santri, puncak Milad ke-4 Majelis Sholawat Wabaarik Al Muzani sekaligus peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dijadwalkan berlangsung Selasa malam, 6 Oktober 2026, mulai pukul 19.00 WIB.
Puncak acara akan menghadirkan qori internasional KH. Salman Amrillah, peraih Juara I Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Iran 2019, serta KH. TB. Imam Ibrohim dari Banten bersama para alim ulama.
Pengasuh Majelis Sholawat Wabaarik Al Muzani, KH. TB. Miftah Fauzi, juga mengundang masyarakat Kota dan Kabupaten Tasikmalaya serta warga Priangan Timur untuk menghadiri rangkaian kegiatan hingga puncak Milad. Acara tersebut terbuka untuk masyarakat umum.
Dengan rangkaian itu, Milad ke-4 Majelis Sholawat Wabaarik Al Muzani bukan hanya menandai perjalanan sebuah majelis. Di halaman yang sama, para jemaah datang membawa sholawat, sementara para santri membawa kitab dan hafalan mereka—dua jalan yang bertemu dalam ikhtiar menjaga tradisi pesantren agar tetap hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. (NS/AS)







