Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya, dan Cerita KDM tentang Gorengan Seribuan
Di balik kemegahan Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya, terdapat cerita sederhana yang justru memperkuat makna dari keseluruhan kegiatan. Salah satu momen yang menarik perhatian terjadi ketika Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berhenti di sebuah warung kecil di wilayah Tasikmalaya.
Dalam kesempatan tersebut, ia menikmati gorengan bala-bala yang dijual dengan harga Rp1.000. Pengalaman ini memberikan kesan tersendiri, karena di tengah perkembangan zaman, masih terdapat ruang bagi masyarakat untuk mempertahankan kesederhanaan tanpa mengurangi kualitas.
Momen tersebut menjadi gambaran bahwa budaya tidak hanya hadir dalam simbol besar seperti kirab, tetapi juga hidup dalam keseharian masyarakat. Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya pada akhirnya tidak hanya menampilkan warisan sejarah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai budaya tetap bertahan dalam praktik sosial sehari-hari.
Roni Imroni menyampaikan bahwa kekuatan budaya Sunda terletak pada kemampuannya untuk hidup dalam berbagai bentuk. Menurutnya, baik dalam kegiatan besar seperti kirab maupun dalam kehidupan sederhana masyarakat, nilai-nilai budaya tetap dapat dirasakan.
Kirab yang diinisiasi Gubernur KDM ini menjadi refleksi bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus diwujudkan dalam bentuk yang megah. Justru melalui hal-hal sederhana, seperti interaksi masyarakat dan kehidupan sehari-hari, nilai budaya dapat terus diwariskan secara alami.
Pada akhirnya, kirab ini menunjukkan bahwa identitas suatu daerah tidak hanya dibangun dari sejarah besar, tetapi juga dari keseharian masyarakat yang menjaganya. Kirab Mahkota Binokasih di Tasikmalaya menjadi bukti bahwa budaya Sunda tetap hidup, tidak hanya dalam perayaan, tetapi juga dalam setiap langkah kehidupan masyarakat. (AS)
